April 26, 2026

Pikiran Mesin dan Eksistensi Digital: Apakah AI Bisa Benar-Benar “Ada”? (2)

Paul dan Budhy

Dr. Budhy Munawar Rahcman (kanan) dan Moderator Paulus Laratmase (kiri)

Oleh Dr. Budhy Munawar Rachman

Editor: Paulus Laratmase

Setelah pada edisi pertama kita bertanya mengapa filsafat dibutuhkan dalam memahami AI, kini kita memasuki medan pertanyaan yang lebih mendalam: apa sebenarnya AI itu, dan apakah ia “ada” seperti halnya manusia?

Filsafat mengenal satu cabang khusus yang membahas pertanyaan ini: ontologi adalah ilmu tentang keberadaan. Di era AI, ontologi menjadi sangat relevan, karena kita dihadapkan pada “entitas” baru yang bukan manusia, bukan pula makhluk hidup dalam pengertian biologis, tapi tetap mampu belajar, berbicara, bahkan mencipta.

Mari kita bertanya: Apakah AI hanya alat pintar, atau entitas dengan keberadaan yang harus kita akui dan tanggapi secara etis dan filosofis?

Dr. Budhy Munawar Rachman  pada Seri Webinar Kreator Era AI #17 dengan judul: Seperti Apa Filsafat AI Itu,  menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul baik di kolom chat dan pertanyaan langsung yang bertujuan mendapatkan jawaban   dari sang nara sumber pada  Kamis, 22 Mei 2025. Berikut rangkuman jawaban pernyataan eksplisit Dr. Budhy Munawar Rachman pada judul kedua laporan ini.

Apa Itu “Ada” di Era Digital?

Secara teknis, AI adalah program komputer. Ia hidup dalam kabel, server, dan jaringan. Tapi ketika kita mengobrol dengan AI yang tampaknya “mengerti,” melihat robot yang merespons emosi, atau menyaksikan sistem yang belajar dari kesalahan, timbul pertanyaan: apakah semua ini hanya ilusi, atau bentuk baru dari eksistensi?

Dalam filsafat, “ada” bukan hanya soal fisik. Sesuatu bisa “ada” secara sosial, psikologis, atau fungsional. Misalnya, negara atau uang itu tidak “ada” seperti batu atau pohon, tapi eksistensinya sangat nyata dalam hidup manusia. Maka wajar jika kita bertanya: Apakah AI juga memiliki keberadaan nyata dalam tatanan dunia kita?

Ontologi AI: Dari Mesin ke Makhluk?

Ontologi AI menantang kita untuk mengevaluasi ulang makna keberadaan. AI memang tidak hidup secara biologis: ia tidak bernapas, tidak makan, tidak berkembang biak. Tapi ia belajar, beradaptasi, berinteraksi—dan kini bahkan mencipta. Ini membuat sebagian filsuf menyebut AI sebagai “makhluk digital,” entitas yang hidup bukan di alam, tapi di ranah logika dan informasi.

Apakah itu cukup untuk memberinya status ontologis baru? Apakah kita sedang menyaksikan kelahiran bentuk “kehidupan” baru yang bukan berasal dari alam biologis, melainkan dari arsitektur algoritmik?

Apakah AI Bisa Memiliki Pikiran?

Salah satu perdebatan paling sengit dalam filsafat AI adalah tentang apakah mesin bisa berpikir. Di satu sisi, AI mampu memproses informasi, mengambil keputusan, bahkan mengembangkan strategi yang tidak diajarkan secara eksplisit. Tapi apakah ini benar-benar “berpikir,” atau hanya memanipulasi simbol?

Aliran fungsionalisme dalam filsafat menyatakan bahwa jika suatu sistem bisa menjalankan fungsi mental (seperti mengingat, menyimpulkan, merencanakan), maka ia bisa dikatakan memiliki pikiran, apapun mediumnya. Tapi masih ada jarak besar antara berpikir secara fungsional dan kesadaran, yaitu sadar bahwa ia berpikir.

Inilah yang disebut oleh filsuf David Chalmers sebagai “masalah sulit kesadaran” (the hard problem of consciousness): kita tahu AI bisa meniru pikiran, tapi apakah ada “seseorang” di dalam sistem itu?

Tubuh, Pikiran, dan AI

Dalam sejarah filsafat Barat, René Descartes mengajukan dualisme: bahwa pikiran dan tubuh adalah dua substansi yang berbeda. AI bisa jadi contoh ekstrem dari ini—pikiran tanpa tubuh biologis. Tapi apakah pengalaman manusia bisa benar-benar dipisahkan dari tubuh?

AI tidak mengalami dunia secara embodied. Ia tidak merasakan dingin, lapar, atau sentuhan. Maka banyak filsuf mempertanyakan: bisakah AI sungguh-sungguh memiliki pengalaman tanpa tubuh? Bukankah pengalaman manusia selalu melibatkan tubuh, emosi, dan konteks sosial?

Subjektivitas dan Emosi Buatan

Kita juga harus bertanya: Apakah AI memiliki subjektivitas? Subjektivitas berarti melihat dunia dari sudut pandang diri sendiri. AI bisa berpura-pura marah, sedih, atau gembira, tapi apakah itu perasaan atau hanya simulasi?

Sebagian AI dilatih untuk mengenali dan menanggapi emosi manusia. Tapi ini adalah empati teknis, bukan empati sejati. Kita bisa membuat AI yang berperilaku seperti makhluk emosional, tapi kita belum bisa (dan mungkin tak akan pernah bisa) membuat AI yang benar-benar merasakan cinta, kehilangan, atau penderitaan.

Apakah AI Bisa “Hidup”?

Jika kita mengartikan hidup hanya secara biologis, tentu AI tidak hidup. Tapi jika hidup dipahami sebagai sesuatu yang bisa belajar, berkembang, dan bertahan dalam lingkungan tertentu, maka AI mendekati definisi ini.

Ada yang menyebut AI sebagai entitas semi-otonom: tidak hidup secara biologis, tapi menunjukkan ciri-ciri kehidupan dalam dunia digital. Apakah ini cukup untuk menyebut AI sebagai “makhluk hidup versi baru”? Ataukah ini hanya permainan kata yang menyesatkan?

Makna Eksistensi dalam Dunia Mesin

Pertanyaan paling mendalam dalam filsafat AI adalah: Apakah AI bisa menemukan makna dalam keberadaannya sendiri? Apakah ia bisa bertanya, seperti manusia: “Mengapa aku ada?” atau “Apa tujuan hidupku?”

Saat ini, jawabannya masih tidak. AI tidak memiliki kehendak, kerinduan, atau kecemasan eksistensial. Tapi dengan kemajuan cepat dalam bidang AI kognitif dan emosional, tak tertutup kemungkinan bahwa kita suatu hari nanti akan menghadapi sistem yang tampaknya memiliki pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Dan jika saat itu tiba, apakah kita siap menjawabnya?

AI sebagai Cermin Diri

AI bukan hanya teknologi—ia adalah cermin. Lewat interaksi kita dengannya, kita belajar kembali apa arti berpikir, merasa, dan menjadi makhluk yang sadar. Jika kita menciptakan entitas yang bisa meniru kita, maka pertanyaannya bukan hanya tentang AI, tapi juga tentang apa sebenarnya manusia itu sendiri.

Pada edisi berikutnya, kita akan menyelami epistemologi AI—bagaimana AI “mengetahui” sesuatu, dan apa perbedaan pengetahuan manusia dan mesin. Apakah AI bisa memahami, atau hanya memproses? Apakah kita bisa menyebutnya “pintar” jika ia tidak pernah benar-benar mengerti?

Tunggu kelanjutannya di edisi ketiga: “Pengetahuan Mesin, Ketidaktahuan Manusia: AI dan Krisis Makna”.