Berprasangka Buruk, Apa Untungnya?
Yusufachmad Bilintention
Sebuah Renungan tentang Solidaritas
Dalam kehidupan sehari-hari, prasangka buruk sering muncul tanpa kita sadari. Ketika kesulitan menekan, terutama soal ekonomi, hati mudah gelap dan pikiran cepat menuduh. Padahal, prasangka buruk jarang sekali memberi manfaat—lebih sering justru menutup pintu kebaikan.
Kisah Kadari dan Kodrat memberi pelajaran berharga. Kadari, yang sedang putus asa karena anak dan istrinya tidak makan selama dua hari, mendesak sahabatnya untuk segera membantu. Ia merasa Kodrat berbelit-belit, seolah menolak.
“Aku putus asa. Anak dan istriku tidak ada makanan untuk besok,” kata Kadari dengan suara bergetar. “Tolong dengarkan dulu,” jawab Kodrat, berusaha menenangkan.
Kadari hampir kehilangan kesabaran. Ia mengira sahabatnya enggan menolong. Namun kenyataannya, Kodrat sedang menyiapkan bantuan: uang titipan dari saudaranya yang tergerak setelah mendengar kisah Kadari.
“Baiklah. Ini uang dari saudaraku. Ia memintaku memberikannya padamu,” ucap Kodrat akhirnya. Kadari terdiam, lalu berbisik lirih, “Subhanallah… ampuni aku karena berprasangka buruk.”
Di titik ini kita belajar dua hal penting:
- Prasangka buruk membuat Kadari hampir kehilangan sahabat dan kesempatan mendapat pertolongan.
- Kesabaran dan komunikasi membuka jalan, hingga bantuan bisa sampai kepada yang membutuhkan.
Kisah ini relevan dengan kondisi masyarakat kita hari ini. Di tengah krisis ekonomi, inflasi, atau sekadar kesulitan sehari-hari, prasangka buruk sering diarahkan kepada pemerintah, tetangga, bahkan teman sendiri. Padahal, solidaritas sosial masih hidup. Banyak orang yang diam-diam menolong, berbagi makanan, atau menyisihkan rezeki.
Pesan moralnya jelas: berprasangka buruk tidak ada untungnya. Kesulitan memang bisa membuat hati gelap, tetapi justru di saat itulah kita perlu menyalakan lentera kesabaran. Bantuan bisa datang dari arah yang tak terduga—tetangga, sahabat, bahkan orang asing.
Kadari akhirnya menyadari, air mata dan keputusasaannya bukanlah akhir. Ia berdoa, memohon ampun karena sempat berprasangka buruk, dan belajar bahwa sabar adalah kunci. Solidaritas, kesabaran, dan kepercayaan pada kebaikan orang lain adalah fondasi yang membuat masyarakat tetap bertahan.
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly