Biak, Mutiara Timur yang Bergelombang
Oleh Yusuf Achmad
–
Gaung itu menggema, tangan-tangan diacungkan tinggi,
Di forum dunia, suara Biak berhembus tak henti.
Tangan yang berurat tradisi di sudut-sudut negeri,
Bukan sekadar wibawa, kehormatan, atau harga diri,
Namun jati diri warisan anak kelahiran pertiwi.

Elok pertiwi menjuntai, laut biru melambai,
Berbatu cadas, namun berhati ayu nan damai.
Bosnik bersinar, Anggopi membiru, Samares mengundang,
Pasir bak berlian, berkilauan hingga tepian Pasifik terhampar panjang.
Gelombang bersuara, namun tiada gesekan,
Laut dan darat berpelukan dalam harmoni tak berlawanan.
Wafsarak mengalir lembut, Goa Binsari merajut kenangan,
Menjaga adat dan bahasa, bisikan budaya yang tak berpura-pura.
Mananwir Keret, Mananwir Mnu, Mambri, Konor, Mon, dan Korano,
Nama yang megah, terpatri dalam sejarah bertaut rindu.
Seperti ikan Biak yang dibakar, kuah kuning dan papeda,
Atau bakar batu yang menyatukan hati dalam satu wadah.
Biak, kau mutiara timur yang terus berbenah,
Dalam pelukan Nusantara, kasih tak terpisah.
Cahaya tradisi dan modernitas berpilin indah,
Gelombang menari, bersatu dalam satu tanah.
Di setiap suapan, di setiap gelombang, dalam setiap langkah,
Kau abadi dalam kenangan, bergema dalam hati, tak kan punah.
Surabaya, 26 April 2025