April 16, 2026

Oleh Paulus Laratmase

Di ujung timur Indonesia, tempat mentari pertama kali menyentuh nusantara, terhampar sebuah kabupaten yang menyimpan kisah tentang perang dan perdamaian, tentang kematian dan kehidupan, tentang sejarah yang membentuk masa depan. Itulah Biak Numfor, mutiara dari Teluk Cenderawasih, permata yang bersinar di lautan Pasifik, mengundang langkah dan mata untuk singgah, mengagumi, dan merasakan denyut kehidupan yang menggema dari kedalaman laut hingga ke gugusan bintang.

Batu Pica Biak Utara Menjadi Objek Wisata Lokal dan Manca Negera. Sumber Dinas Pariwisata Biak Numfor, 2025

Jejak masa lalu masih mengguratkan cerita di Goa Jepang, tempat saksi bisu dari Perang Dunia II. Di kedalaman gelapnya, tulang belulang para tentara Jepang masih berbaring diam, diapit oleh topi baja, mug berkarat, dan senjata yang kini membisu. Di sinilah tragedi bertemu dengan sejarah, dan kedukaan bersanding dengan keabadian. Goa itu bukan sekadar lubang di bumi, tapi lorong waktu menuju babak pilu yang tak pernah usang bagi para pengunjung, terlebih bagi turis Jepang yang masih menziarahi leluhur mereka yang gugur dalam pekik perang.

Keterangan Foto: (Bumipapua.com/Liza Indriyani)

Namun, Biak bukan hanya saksi luka. Ia juga tanah yang menjanjikan kehidupan. Di lautan birunya, tersembunyi kekayaan yang membuat dunia melirik—ikan tuna sirip kuning dan biru, baramundi, cakalang, tongkol, udang dan kepiting yang berenang bebas di bawah riak samudra. Ini adalah ladang emas basah yang tak pernah kering, sumber penghidupan yang melampaui generasi, dan harapan yang mengapung bersama perahu-perahu nelayan.

Objek Wiisata “Negeri Dongeng” sumber foto: Dinas Pariwisata Biak Numfor, 2025.

Potensi laut Biak tak main-main. Sebanyak 1,1 juta ton tuna mengisi perairannya setiap tahun. Sudah sejak 2021 tuna-tuna dari Biak menyeberangi lautan, tiba di Jepang sebagai komoditas ekspor berharga tinggi. Dan menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, dari wilayah ini, Indonesia berpeluang mengantongi Rp 17,5 triliun per tahun. Angka yang bukan hanya mencerminkan laba, tapi juga masa depan bagi anak-anak Biak.

Lautnya bukan hanya hidup, tapi juga menyimpan kenangan. Di kedalamannya, para penyelam bisa menjumpai bangkai kapal perang yang karam, menyatu dengan terumbu karang, menjadi rumah bagi ikan-ikan tropis. Ini bukan hanya wisata bahari, tapi perjalanan spiritual di antara sisa-sisa besi dan waktu.

Sail Teluk Cenderawasih 2023 menjadi panggung gemilang bagi Biak dan tiga kabupaten tetangganya—Yapen, Waropen, dan Sarmi. Ini bukan hanya sebua iven, tapi sebuah janji. Janji bahwa pembangunan akan berangkat dari timur, dari tanah yang disebut-sebut sebagai beranda Indonesia di Pasifik, wajah bangsa di hadapan dunia luar.

Infrastruktur mulai dibangun, investor pun berdatangan. PT Indonumfor Pasifik telah menembus pasar Jepang, sementara PT Indo Bahari dan PT Galilea melayani permintaan dari dalam negeri. Pemerintah daerah tak tinggal diam. Mereka membuka jalan, menyederhanakan prosedur, menjamin kenyamanan investasi demi pertumbuhan yang merata.

Namun kejutan belum berhenti. Biak kini dirancang menjadi pusat wisata ruang angkasa. BRIN tengah mengkaji pembangunan bandara antariksa, tempat peluncuran satelit dan destinasi luar angkasa berbiaya terjangkau. Impian menatap bintang dari tanah Papua tak lagi utopia, tapi visi yang perlahan menjelma nyata.

Dan Bappenas pun menyatakan: masa depan Indonesia akan dimulai dari timur, dari Teluk Cenderawasih, dari Biak Numfor yang dulu menjadi medan perang, kini menjadi panggung damai dan kemajuan.

Mari datang ke Biak Numfor.

Di sana, laut bukan hanya biru, tapi juga penuh harapan.

Sejarah bukan hanya kenangan, tapi panggilan untuk memahami.

Dan langit bukan hanya bentang awan, tapi gerbang menuju bintang.

Biak menanti—dengan senyumnya yang hangat, dan potensinya yang membuncah.