April 23, 2026

Bianglala di Ufuk Timur, Secercah Harapan Yang Baru

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Singgalang ketika ayam jantan baru dua kali berkokok.

Embun masih menetes di ujung daun padi, dan angin pagi membawa aroma tanah basah bercampur wangi bunga kenanga dari halaman rumah gadang. Di situlah, di sudut nagari yang damai, seorang pemuda bernama Rafli Dt. Rajo Nan Panjang berdiri menatap hamparan sawah yang mulai menghijau.

Setelah tujuh tahun merantau ke Yogyakarta, hari itu ia pulang dengan kepala penuh ilmu — dan hati yang masih menyimpan satu nama, Raini.

Raini adalah gadis nagari yang dikenal lembut dan bersahaja. Dulu, sebelum Rafli berangkat ke rantau, mereka sering bertemu di pancuran, di tepi jalan tempat gadis-gadis menimba air. Mereka berbincang seperlunya, dengan sopan sebagaimana adat mengajarkan.

Tak ada janji terucap, namun setiap tatapan meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan. Kini, setelah bertahun-tahun, Rafli kembali. Tapi waktu telah berjalan, dan adat menuntut hormat serta kehati-hatian.

Sesampainya di rumah gadang, Rafli disambut ibunya, Uni Marni, seorang perempuan kuat yang menjaga adat dan marwah keluarga. Ia tersenyum haru, lalu berkata dengan suara tenang:

“Anakku… kau boleh merantau jauh, tapi jangan lupa, adat kita ibarat akar pohon. Sekuat apa pun angin, yang berpijak pada akar tak akan tumbang.”

Rafli mengangguk. Ia tahu, pulang bukan sekadar kembali ke rumah, tapi juga kembali ke nilai-nilai yang membentuk jati dirinya.

Beberapa hari berikutnya, ia mulai membantu kaum adat memperbaiki surau dan jalan nagari. Sementara itu, dari seberang sawah, Raini tampak sibuk bersama kelompok bundo kanduang, menyiapkan acara “Pekan Budaya Minang” yang akan digelar di balai adat.

Pertemuan mereka terjadi tanpa rencana. Di sore yang berawan, Rafli membantu memindahkan peralatan acara. Raini datang membawa talam berisi penganan tradisional. Mereka berpapasan di halaman surau.

“Masih ingat jalan pulang rupanya, Rafli,” sapa Raini lembut.
“Bagaimana bisa lupa, Raini? Di sini tempat semua langkah bermula,” jawabnya dengan senyum malu-malu.

Raini tertawa kecil, tapi segera menunduk, menjaga sopan santun. Di Minangkabau, cinta tak diungkapkan dengan kata-kata manis, melainkan dengan tingkah yang terjaga. Dan di situlah keindahan itu bersembunyi.

Malam tiba, bulan separuh menggantung di langit. Di surau, para pemuda berdiskusi tentang rencana acara, sementara dari jauh terdengar alunan saluang dan dendang syair lama. Rafli duduk di serambi, termenung. Di matanya, wajah Raini terbayang, seperti sinar lampu minyak di balik jendela. Ia sadar, perasaan yang dulu disimpannya kini tumbuh kembali.

Namun adat bukan jalan yang mudah. Sebelum menyampaikan niat hati, seorang lelaki Minang harus terlebih dahulu berbicara kepada ninik mamak—para tetua yang memegang keputusan keluarga. Maka pada suatu pagi, Rafli menemui Mamak Garang, saudara laki-laki ibunya, dan mengutarakan maksudnya.

“Mamak, hamba ingin melamar Raini. Tapi bukan karena nafsu muda. Hamba ingin membangun rumah tangga yang sesuai adat, tempat kasih bersanding dengan marwah.”

Mamak Garang mengelus jenggotnya, memandang jauh ke arah sawah.

“Anak muda, niatmu baik. Tapi ingat, di Minangkabau, pernikahan bukan hanya dua insan. Ia menyatukan dua kaum, dua keluarga, dua harga diri. Jangan terburu-buru. Datangi dulu ninik mamak pihak perempuan, bawakan sirih dan kata elok.”

Keesokan harinya, pembicaraan adat pun digelar di rumah gadang keluarga Raini. Ruangan besar itu penuh dengan suara lembut para tetua yang berdiskusi. Di tengah-tengah, tersaji sirih lengkap dengan kapur dan pinang, tanda penghormatan dalam pertemuan adat. Rafli duduk sopan, menunduk, sementara Mamak Garang mewakilinya berbicara dengan tenang dan beradat.

“Kami datang bukan membawa angin, tapi membawa niat baik. Kalau ada bunga di taman, biarlah kami petik dengan izin. Kalau ada air jernih di pancuran, biarlah kami minum dengan sopan.”

Mamak pihak Raini menjawab dengan senyum bijak:

“Kalau bunga yang hendak dipetik sudah mekar dan harum, tak elok dibiarkan layu di tangkai. Kalau niatmu lurus dan langkahmu teratur, insya’ Allah adat menyambut dengan restu.”

Begitulah, niat baik Rafli diterima. Persiapan pun dimulai — bukan hanya pesta, tapi juga penyatuan nilai dan tanggung jawab. Di rumah gadang, bundo kanduang menenun kain songket dan menyiapkan siriah langkok. Sementara para pemuda bergotong royong membangun taratak untuk pesta. Hujan turun beberapa kali, tapi tak memadamkan semangat.

Raini sendiri menyiapkan pakaian adatnya: baju kuruang basiba berwarna merah marun, lengkap dengan selendang batik dan suntiang kecil di kepala. Ia menatap cermin dengan wajah bergetar. Di hatinya, ada rasa haru dan ragu yang menyatu, karena cinta dalam adat bukan sekadar perasaan, tapi juga tanggung jawab sosial.

Hari yang dinanti pun tiba. Balai adat dipenuhi orang. Suara talempong dan gandang tasa menggema, disusul dendang pantun penyambutan. Rafli datang bersama rombongan keluarga, membawa sirih jantan dan nasi kuning tanda niat mulia. Raini menyambut di sisi bundo kandung, menunduk hormat, sementara tetua kampung memimpin doa.

“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap ninik mamak.
“Semoga rumah tangga ini jadi tempat berpijak yang kokoh, tempat adat bersanding dengan agama, tempat kasih bersenyawa dengan amanah.”

Air mata Raini menetes perlahan, sementara Rafli menatapnya penuh syukur.
Mereka saling menunduk — bukan dalam kepasrahan, tapi dalam penghormatan kepada nilai yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Selepas acara, hujan turun perlahan. Langit yang semula kelabu berubah terang, dan di ufuk timur muncul bianglala memanjang di antara awan. Anak-anak kecil berlari sambil berteriak gembira, menunjuk pelangi itu.

Rafli berdiri di samping Raini, memandang ke langit.

“Lihat, Raini… bianglala itu seperti tanda restu langit,” katanya.

“Mungkin, Rafli,” jawab Raini lembut. “Atau mungkin itu cara alam mengucapkan selamat datang untuk harapan yang baru.”

Rafli menatapnya dengan senyum penuh rasa.

“Kau tahu, Raini… di rantau aku banyak belajar tentang dunia, tapi hanya di sini aku paham tentang hidup.”

Raini tersenyum, lalu menunduk sopan.

“Dan hanya dengan adat kita bisa menjaga cinta agar tetap berakar dan berbunga.”

Matahari pun muncul perlahan dari balik bukit, menghangatkan bumi yang basah. Suara ayam jantan terdengar sekali lagi, menandai hari baru. Di rumah gadang yang penuh tawa dan doa, dua hati akhirnya bersatu bukan karena kata manis, tapi karena adat yang menuntun langkah mereka menuju kesempurnaan hidup.

Di langit, bianglala di ufuk Timur memudar perlahan, tapi warnanya tetap tinggal dalam ingatan seperti cinta Rafli dan Raini, yang lahir dari kesetiaan, tumbuh dalam kesabaran, dan diikat oleh marwah adat Minangkabau yang luhur.