Memohon Agar Kita Dijauhkan Dari Hati Yang Mati
Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Kamis , 30 Oktober 2025 .
(08 Jumadil Awwal 1447 H)
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Terlebih dahulu mari kita untuk bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ﷻ.
Sebab, taqwa merupakan bekal terbaik kita menghadapi kehidupan akhirat kelak, di samping sebagai perisai diri kita dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan – Nya.
Kita tahu bahwa hati adalah unsur yang sangat penting dalam diri kita.
Bahkan hati menjadi pendorong sekaligus penentu dari perilaku – perilaku baik yang akan kita lakukan.
Pada saat yang sama, hati juga dapat menjadi sarana untuk mencegah sikap-sikap kita akan semua hal yang dilarang oleh agama.
Itu sebabnya, kita mesti menjaga hati dari segala hal yang merusak, sehingga hati ini terus hidup, mengajak terhadap kebaikan sebagai bekal kita di dunia untuk menghadapi kehidupan berikutnya.
Terkait hal ini, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita semua melalui sabdanya, sebagaimana berikut:
“Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada segumpal daging.
Jika daging itu baik, maka baik pula seluruh tubuh.
Jika daging itu rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.
Daging tersebut ialah hati,” (HR al-Bukhari).
Sabda Rasulullah ﷺ tersebut harus menjadi pengingat kita bersama agar jangan sampai hati ini rusak ataupun mati, sehingga tidak punya sensitivitas terhadap apapun.
Termasuk terhadap petunjuk dan ajakan – ajakan istiqomah melaksanakan aneka kebaikan sebagaimana yang digariskan syariat.
Ini tentu sangat bahaya.
Orang yang hatinya sudah mati, ia hidup hanya dengan raganya saja, tapi sesungguhnya kosong akan nilai-nilai spiritual.
“Salah satu tanda hati seseorang yang sedang mati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kekhilafan yang pernah dilakukan.”
Namun tiga lagi tanda hati yang sudah mati adalah :.
1.Pertama, tidak bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewatkan.
2.Kedua, tidak menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan.
3.Ketiga bersahabat dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya.
Tanda-tanda tersebut jangan-jangan semuanya ada pada diri kita tanpa kita sadari.
Atau salah satu di antara ketiganya kerap kita lewati begitu saja, tanpa tahu bahwa sesungguhnya hati ini sudah mati. Na’udzubillahi min dzalik.
Mari kita selalu memohon kepada Allah ﷻ agar senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan mudah pula untuk meninggalkan segala larangan – larangan-Nya
Manusia tentu saja memiliki dosa kepada Allah ﷻ.
Dosa kecil ataupun dosa besar.
Disengaja atau tidak.
Tapi ingat bahwa rahmat dan ampunan Allah ﷻ tidak ada habisnya.
Satu hal yang paling penting di balik kesalahan-kesalahan yang barangkali terlanjur sudah kita lakukan, yaitu berikhtiar sekuat tenaga menjaga hati ini agar tidak mati, kita jaga agar terus hidup. Karena dengan begitu, jalan tobat selalu terbuka untuk kita semua, di manapun, dalam kondisi bagaimanapun, dan kapanpun. Syukur-syukur dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari ra meriwayatkan sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ tentang perbedaan orang yang hatinya hidup dan orang yang hatinya mati, kering, dan gelap.
“Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, Rasulullah ﷺ bersabda,:
‘Siapa saja yang merasa senang oleh kebaikannya dan merasa susah oleh keburukannya, maka ia adalah orang yang beriman.” (HR At-Thabarani).
Dalam hadits lain disebutkan:
“Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin ketika ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti ketika ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang munafik, ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini apa ini, pergi! lalu terbang ia menganggap remeh dosa.” (HR. Bukhari)
Kita harus ingat bahwa mengingatkan
bahwa ampunan Allah demikian luas.
Allah ﷻ juga memiliki sifat kasih sayang yang tentu jauh melebihi dari semua makhluk ciptaan-Nya.
Untuk itu, tidak ada kata terlambat bagi kita semua memohon ampun dan bertobat kepada Allah dengan taubat nasuha.
Termasuk bila hati ini sedang atau sempat mati, mari kita hidupkan kembali, mari kita sinari kembali sehingga kembali menjadi penuntun kita untuk terus dekat dengan Allah ﷻ.
Ada 5 hal yang dapat mengobati hati yang mati , yaitu :
1.Pertama, membaca Al-Qur’an dengan penghayatan arti dan maknanya.
2.Kedua, membiasakan diri dalam kondisi tidak kenyang atau dengan banyak berpuasa.
3.Ketiga, beribadah di waktu malam, baik dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir dan sebagainya.
4.Keempat, mendekatkan diri kepada Allah sedekat dekatnya di waktu sahur.
5.Kelima, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, yang dapat membimbing dan menjadi cermin kehidupan yang lebih baik.
Semoga kultum Shubuh ini bisa menjadi pengingat sekaligus spirit kita untuk terus berikhtiar menjadi hamba yang lebih baik.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته