April 30, 2026

Biarkan Puisi Mengingatkan Kita: AKAR DAN PERLAWANAN: Kekuatan Puisi dalam Mengingat, Merefleksikan, dan Melawan

Esai oleh Husnul Khatimah

[PPIPM-Indonesia & Komunitas Poetry-Pen International, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]
———————————————

 


Di dunia saat ini yang penuh dengan perubahan cepat, puisi tetap menjadi cara yang kuat dan bermakna untuk mengungkapkan apa yang sering tidak dapat dikatakan orang dalam percakapan sehari-hari. Puisi membawa emosi, kenangan, mimpi, dan bahkan protes hanya dalam beberapa kata. Ini mengingatkan kita pada masa lalu, menghubungkan kita dengan akar kita, dan memberi kita kekuatan untuk menghadapi ketidakadilan. Melalui tiga puisi kuat oleh seorang penyair wanita Indonesia, Leni Marlina—”Kita Akan Bertahan” (2014), “Tanah Leluhur Kita” (2013) dan “Kita dan Batu” (2016)—kita belajar mengapa puisi tidak hanya indah, tetapi juga penting bagi individu dan masyarakat. Semua puisi tersebut telah diterbitkan di platform digital pada tahun 2024 di media online suaraanaknegerinews.com

Pertama, dalam “Kita Akan Bertahan” (2014), Marlina berbicara untuk orang-orang yang terpinggirkan—mereka yang namanya tidak tertulis dalam sejarah, namun yang bekerja diam-diam untuk menjaga dunia tetap berjalan.

Dia menggambarkan mereka sebagai “urat yang menegang di sepanjang tulang punggung dunia,” menunjukkan betapa kuat dan pentingnya mereka, bahkan jika tidak ada yang melihat mereka.” Orang-orang ini seperti bumi—diinjak setiap hari, tetapi penuh dengan kehidupan dan kekuatan. Puisi ini memberikan suara kepada mereka yang tidak terdengar. Ini menginspirasi harapan pada mereka yang merasa terlupakan dan mengingatkan semua pembaca bahwa ketahanan itu kuat. Dengan membaca puisi seperti ini, kita belajar untuk menghargai kontribusi setiap orang kepada dunia. Menulis dan membaca puisi seperti itu dapat menjadi tindakan penyembuhan, terutama bagi mereka yang merasa tidak terlihat.

Kedua, “Tanah Leluhur Kita” (2013) karya Marlina mengeksplorasi jenis kehilangan yang berbeda—hubungan yang rusak antara manusia dan alam. Marlina melukiskan gambaran tanah yang pernah mengenali kita tetapi sekarang berpaling dalam diam. Pohon, sungai, dan gunung tidak lagi menyebut nama kita. Puisi itu mengatakan, “tanah menatap kita dari kedalamannya yang terluka,” membuat kita merasakan sakitnya alam.” Puisi ini mengajarkan kita bahwa ketika kita melupakan tradisi kita, menghancurkan lingkungan kita, dan mengejar kenyamanan modern tanpa peduli, kita juga kehilangan sebagian dari diri kita sendiri. Membaca puisi ini membantu kita merenung secara mendalam: di mana kita salah, dan bagaimana kita bisa kembali ke harmoni? Puisi seperti ini membantu meningkatkan kesadaran lingkungan dan mendorong orang untuk melindungi alam dengan mengingat kebijaksanaan masa lalu. Menulis puisi tentang alam juga bisa menjadi cara untuk menyembuhkan baik tanah maupun diri kita sendiri.

Ketiga, dalam puisi “Kita dan Batu” (2016), Marlina mengubah puisi menjadi suara perlawanan yang berani. Dia membandingkan perjuangan orang melawan tirani dengan batu—kecil, keras, dan kuat. Batu itu bukan hanya senjata, tetapi simbol. Dilemparkan oleh tangan yang gemetar, itu menjadi teriakan untuk keadilan. Puisi ini mengingatkan kita bahwa bahkan yang terlemah pun bisa menjadi kuat jika mereka bersatu. “Kita adalah batu,” puisi itu mengulangi, memberikan kekuatan dan keberanian kepada semua yang membacanya. Ini memberitahu kita untuk tidak tetap diam, untuk tidak tunduk, dan untuk terus berjuang untuk apa yang benar. Membaca puisi semacam ini menyalakan api di hati kita. Ini membantu kita melihat bahwa kata-kata dapat menggerakkan orang, dan bahwa satu puisi dapat lebih keras daripada teriakan. Menulis puisi perlawanan juga dapat membantu orang melepaskan amarah, tetap berharap, dan bekerja untuk perubahan.

Masing-masing dari ketiga puisi di atas menunjukkan alasan yang berbeda mengapa kita membutuhkan puisi dalam hidup kita. Kita membutuhkan puisi untuk mengingat mereka yang terlupakan. Kita membutuhkan puisi untuk merenungkan apa yang telah hilang dan bagaimana kita dapat kembali ke apa yang penting. Kita membutuhkan puisi untuk melawan ketidakadilan dan membangkitkan keberanian. Apakah Anda membaca atau menulis, puisi mengundang Anda untuk melihat dunia melalui mata yang lebih dalam, untuk merasakan dengan hati yang lebih terbuka, dan untuk bertindak dengan tujuan yang lebih besar.

Pada akhirnya, puisi bukan hanya tentang keindahan—ini tentang kebenaran. Dan kebenaran, ketika diucapkan dengan hati, memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, menghubungkan, dan mengubah dunia.

Padang, Sumatra Barat, Indonesia, 2025

Referensi:

Marlina, L. (2014). “Kita Akan Bertahan”. Suara Anak Negeri News. Diakses dari https://suaraanaknegerinews.com/we-shall-endure-a-poetry-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/
Publikasi Online Pertama di Platform Digital: 27 Maret 2025. Diakses pada
April 2025.

Marlina, L. (2013). “Tanah Leluhur Kita”. Suara Anak Negeri News. Diakses dari https://suaraanaknegerinews.com/our-ancestral-land-poems-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/
Publikasi Online Pertama di Platform Digital: 26 Maret 2025. Diakses pada April 2025.

Marlina, L. (2016). “Kita dan Batu”. Suara Anak Negeri News. Diakses dari https://suaraanaknegerinews.com/we-and-the-stone-the-poems-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/
Publikasi Online Pertama di Platform Digital: 22 Maret 2025. Diakses pada April 2025.
———————————————


Tentang Husnul Khatimah:

Husnul Khatimah adalah seorang mahasiswa sarjana di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat pada tahun 2005, dan saat ini tinggal di Padang, Sumatra Barat. Arlita adalah alumni SMK S Pembina Bangsa Bukittinggi, Sumatra Barat.
Selain itu, Husnul adalah anggota aktif dari beberapa komunitas, termasuk PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia), Komunitas Poetry-Pen International (PPIC), Littalk-C (Komunitas Diskusi Sastra), dan EL4C (Komunitas Pembelajaran Bahasa Inggris, Sastra, dan Literasi).

Karya Husnul di atas dipresentasikan secara virtual pada Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi (Poetry-BLaD) dan Seminar Online Internasional tentang Puisi (IOSoP) yang diadakan pada tanggal 31 Mei di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, yang diselenggarakan oleh Media Suaraanaknegerinews.com bekerja sama dengan UNP.

Video presentasi Husnul dari acara tersebut dapat diakses publik melalui tautan resmi berikut:https://youtu.be/QiqLhU5HdOk?si=veK6vcBFbufZbDr5