“Batu Badaong: Elegi Ibu dari Negeri Lautan”
(Cerita Rakyat dari Kepulauan Tanimbar, dituturkan kembali dalam bahasa puitis)
Oleh Rizal Tanjung
–
I.
Di tepi pulau yang angin-anginnya menggubah nyanyian para leluhur,
hidup seorang ibu tua yang rambutnya seputih buih laut,
dan matanya dalam seperti laguna yang menyimpan rahasia bintang-bintang.
Namanya Ina Sakarina, penjaga api kecil di pondok bambu,
yang berdiri memandang cakrawala sambil menunggu langkah dua anak kandungnya
yang dahulu ia timang seperti bulan menimang laut pasang.
Ina Sakarina menenun hidupnya dari helaian angin tenggara,
dari daun badaong yang gugur saat matahari terlalu pilu,
dari bara cinta yang ia simpan di dada, meski tubuh renta digerus ombak usia.
II.
Ia punya dua anak lelaki:
Mael si sulung, yang gagah seperti pohon kelapa muda,
dan Leko si bungsu, yang bijak bak batu karang tua.
Dua-duanya pernah bersumpah di bawah pohon badaong:
bahwa mereka takkan lupa tanah tempat ari-ari dikuburkan,
bahwa mereka akan kembali dengan berkat dari perantauan.
Namun, waktu mengubah lidah menjadi kering,
dan perantauan menjadikan hati seperti piring emas:
berkilau tapi dingin, mahal tapi tak hangat.
Mereka datang, tapi tak menyapa,
mereka pulang, tapi tak singgah.
Mereka memanggil ibu dengan nama dunia:
“Ah, perempuan tua itu. Hanya tahu adat,
tidak tahu kota.”
Ina Sakarina berdiri di tepi batu badaong,
sebuah batu suci yang dipercaya menjadi tempat roh leluhur berteduh,
dan tempat segala doa akan bersua dengan angin.
Di sana, ia menangis tak bersuara.
Air matanya jatuh ke batu, menyatu dengan garam laut,
dan angin pun bergetar, seperti menahan sedih langit.
III.
“Jika anakku tak lagi mengenal tanah ini,
jika cinta seorang ibu tak bisa melampaui tembok kota,
biarlah aku berubah menjadi kenangan yang abadi,”
bisik Ina Sakarina di senja ketujuh bulan ke tujuh,
saat badaong berguguran tanpa suara,
dan langit seperti menunduk menyentuh ujung pulau.
Lalu badai pun datang tanpa pertanda.
Batu badaong menggelegar seperti dipanggil langit,
dan saat embun pertama jatuh di pagi esoknya,
Ina Sakarina telah lenyap —
tiada jejak kaki, tiada selendang tua,
hanya sehelai daun badaong
yang menempel di batu,
seolah ia sedang tidur dalam duka yang membatu.
IV.
Orang-orang berkata,
batu itu kini disebut Batu Badaong —
di mana daun badaong tak pernah tumbuh lagi,
dan angin selalu bernyanyi seperti suara ibu yang kecewa.
Anak-anaknya pun datang setelah kabar itu tersebar,
tapi Batu Badaong telah menutup mulutnya.
Mael menangis, Leko bersujud.
Tapi batu tak berbicara, hanya diam memeluk luka yang ditinggalkan.
Mereka mendengar angin berkata:
“Batu tak butuh air mata.
Ibu hanya butuh cinta sebelum ia jadi batu.”
Sejak itu, setiap tahun pada saat badaong gugur,
anak-anak di Tanimbar tak lupa memeluk ibu mereka.
Dan setiap perempuan tua yang duduk di tepi pantai,
selalu diberi kabar dari laut:
bahwa cinta seorang ibu tak boleh dikhianati,
karena dari sanalah negeri ini tumbuh seperti pohon badaong—
rapuh, tapi mengakar dalam.
V.
Batu Badaong kini menjadi lambang kasih yang tak terbalas,
ia tak bicara, tapi ia menyimpan gema air mata,
seperti laut Tanimbar yang memeluk karang,
meski karang itu tajam.
Dan langit pun tahu,
di balik segala legenda,
ada seorang ibu yang pernah mencintai
hingga tubuhnya menjadi batu
agar tak dilupakan.
—
Dituturkan dalam irama angin tenggara, dari batu ke batu, dari laut ke laut.
Sumatera Barat,2025