May 10, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di negeri tempat laut bernyanyi dengan suara leluhur,
dan badaong gugur seperti airmata pohon tua,
hiduplah seorang ibu—Ina Sakarina,
perempuan yang menenun cinta dari debur gelombang
dan menggulung harap dalam daun kering yang tak pernah pulang.

Ia bukan siapa-siapa bagi kota,
tapi bagi angin ia adalah madah pertama
yang ditulis di pasir sebelum alfabet diciptakan.

I.

Anaknya dua, lahir dari rahim karang
dan disusui oleh ombak subuh.
Mereka tumbuh seperti cemara yang malu berakar,
terbang ke kota, ke hutan beton,
dan melupakan bahwa darah mereka
adalah asin seperti laut—
bukan manis seperti kopi lobi hotel.

Mereka menamakan ibu dengan kata yang halus:
“kolot”, “tradisional”, “kuno”,
seakan adat adalah kutukan yang tak layak dibawa
ke menara-menara kaca.

Mereka lupa,
bahwa di atas peluh perempuan tua
ada surga yang tak tercetak di brosur wisata.

II.

Di kala fajar menggigil di atas ujung pulau,
Ina Sakarina bersujud di hadapan Batu Badaong,
dan berdoa dengan bahasa yang hanya dipahami
oleh pasir, angin, dan burung kakatua yang telah punah.

“Jika cinta ini hanya dianggap debu,
biarlah aku menjadi batu.
Jika air mataku hanya jadi lelucon dunia,
biarlah aku jadi sunyi yang kekal.”

Dan Tuhan, yang terlalu letih melihat dunia penuh sinyal
tapi kehilangan sinyal kasih,
mengabulkan.

Ia pun membatu,
bukan karena marah,
tapi karena kecewa telah menjadi bentuk tertinggi
dari cinta yang tak dihargai.

III.

Kini orang-orang datang.
Selfie di depan batu.
Caption-nya:
“Legenda Ibu Tua yang Hebat.”
Padahal saat hidup,
mereka bahkan tak tahu nama belakangnya.

Pemerintah mencetak pamflet wisata,
dan menyebutnya: “Spiritual Destination.”
Lalu menjual kenangan
dengan diskon akhir pekan.

Wahai manusia!
Takkan kau malu menjual air mata ibumu
dalam brosur pariwisata?

IV.

Dan angin dari laut Tanimbar berbisik pada daun badaong:
Bahwa zaman ini adalah zaman
di mana batu lebih setia dari anak-anak,
dan karang lebih tahu adat dari manusia.

Di negeri ini,
ibu dibisukan oleh waktu,
lalu dipahat menjadi legenda—
bukan untuk dikenang,
tapi untuk dikomersilkan.

Maka dengarlah, wahai anak-anak zaman:
Jika ibumu telah membatu,
jangan salahkan ia tidak memelukmu.
Sebab pelukannya telah membeku
dalam diam yang lebih suci dari semua
ucapan “I love you” yang kau tulis
dengan font lucu di layar telepon genggammu.

“Batu tak butuh air mata. Ibu hanya butuh cinta sebelum ia jadi batu.”

Sumatera Barat,2025