“Bumi yang Diinjak”: Kumpulan Puisi Istimewa Penyair Komunitas PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI
Ilustrasi "Bumi yang Diinjak": Kumpulan Puisi Istimewa Penyair Komunitas PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI. Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-26 (Assisted by AI)
/1/
Bumi yang Diinjak
Puisi: Leni Marlina
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC ASHILA]
<1>
Lihatlah mereka,
penjaga gerbang kekayaan yang tak mengenal rasa cukup,
menguliti bumi dengan tangan-tangan rakus,
meninggalkan luka yang menganga
pada kulit dunia yang semakin tua.
Di balik dinding-dinding yang mereka bangun,
terdapat peta kekuasaan yang dipenuhi noda,
garis-garis yang mereka ukir dengan darah
dan air mata jiwa-jiwa yang tak diberi nama.
Namun, kami adalah suara dari akar,
yang tertanam jauh di bawah tanah keangkuhan.
Kami adalah desau angin yang berbisik
di antara celah-celah reruntuhan,
menghembuskan nafas perlawanan atas ketidakadilan.
Kami tak memiliki nama,
tapi kami adalah api kecil di tengah malam,
yang merangkak menuju fajar
dengan harapan menjadi nyala besar
yang membakar tirani hingga debu.
<2>
Tidakkah mereka tahu?
Batu karang yang mereka anggap abadi
akan retak di bawah tekanan waktu,
dan pohon-pohon yang mereka tebang
akan tumbuh kembali,
lebih tinggi dari istana mereka saat ini.
Kami adalah anak-anak dari bumi yang terinjak,
tapi langkah kami tak pernah gentar.
Dengan tangan yang kosong,
kami akan menulis ulang sejarah,
menjadi penjaga yang adil
untuk dunia yang lebih terang.
Dan ketika suara kami menggema,
langit pun akan retak
menghujani dunia dengan keadilan
yang selama ini mereka sembunyikan.
Bukittinggi, Sumbar, 2018
————————-
Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2018. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
/2/
Di Balik Berita Korupsi
Puisi Yusuf Achmad
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia; Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
<1>
Berita demi berita, bergulir tanpa jiwa,
Di tangan takhta besi yang melangkah buta.
Cabe melangit, tangis di ruang-ruang sempit,
Bulan memutar, tahun menyemai getir.
Honor buruh membungkuk, seperti daun layu,
Ditenggelamkan janji yang diukir semu.
Langit bertanya dengan suara bergetar,
Ini narasi, sandiwara, atau luka yang memudar?
Keadilan memar di pojok waktu,
Kesetaraan hanyut, lapar menjelma batu.
Palu pengadilan tertahan,
Hanya ratapan yang menjadi dendang panjang.
<2>
Koruptor, wajahnya setebal malam pekat,
Berjalan megah di atas tangis yang terselip di sekat.
Kabena, Buton, Bangka, berseraklah serpihan sejarah,
Tambang-tambang meminum darah, menorehkan derita gundah.
Rahim pertiwi tercabik, tanahnya berbisik,
Di balik emas, nestapa terukir tragis.
Rakyat, oh, rakyat, apa daya kami?
Ketika tanah ini menjadi mangsa para raja tirani.
Pemilik sejati, anak negeri yang terseok,
Menanti keadilan di antara lorong-lorong bobrok.
Roti besar ini milik semua jiwa,
Bukan untuk mereka yang menghias singgasana.
Puisi ini bangkit dari lorong yang terlupakan,
Mengusung suara yang dibungkam zaman.
Memanggil nurani yang tertidur di ujung gelap,
Menuntut hak dari kebohongan yang tertanam rapat.
Di puncak tambang, puisiku menatap nanar,
Melihat langit penuh luka, hutan terbakar.
<3>
Puisi ini berseru, mengalir bagai arus tak tertahan,
Menggetarkan nadi mereka yang melupakan.
Tanah ini bukan pusaka yang diperdagangkan,
Melainkan kehidupan yang tak boleh dilupakan.
Dalam badai, puisi ini tegak berdiri,
Menentang angin, menutut keadilan.
Pena adalah obor kami,
menghidupkan harapan di kegelapan yang tak berujung.
Puisi kami akan berjuang menanamkan mimpi meskipun di tanah yang tercemar,
membelah debu menjadi ladang yang segar.
Anak negeri, esok akan menang,
dari mereka yang curang, dari mereka yang mencuri warisan nenek moyang.
Di tengah dunia yang seringkali buta hatinya,
puisi ini takkan berhenti bercahaya,
menerangi hati siapapun yang peduli,
melawan ketamakan, mengusung keadilan,
bukan sekadar rangkaian kata,
tapi napas perjuangan.
Surabaya, Jatim,
12 Januari 2025
—————————
Yusuf Achmad merupakan Kepala SMK SAINTREN Al-Hasan Surabaya; dan Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya. Penulis juga dikenal dengan salah satu buku himpunan puisinya “Belanggur di Nyamplungan”.
/3/
Korupsi Oh Korupsi
Oleh Paulus Laratmase
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia; Poetry-Pen IC, Satu Pena Papua, Kreator Era AI]
<1>
Korupsi adalah luka di tubuh bangsa,
menggerogoti cita-cita yang pernah kita damba.
Janji keadilan tertinggal di ujung retorika,
hukum pun tunduk pada mereka yang berkuasa.
Di bawah terang sumpah merdeka,
mereka mencuri dengan senyum pura-pura.
Dari hak rakyat kecil hingga masa depan anak cucu,
dirampas tanpa malu oleh kerakusan yang beku.
Angka-angka menjadi ilusi belaka,
miliar dan triliun berganti nama.
Hukuman ringan adalah panggung sandiwara,
keadilan pun menjadi bayang di cerita lama.
<2>
Masih adakah pemimpin yang tega diam membisu?
membiarkan rakyat bergulat dalam pilu?
Keadilan bukan lagi angan semu,
tapi impian yang tenggelam di waktu yang berlalu.
Korupsi, kau bukan sekadar kejahatan biasa,
kau perampas jiwa dan cita-cita.
Mimpi negeri ini luruh tak tersisa,
hanya bayangan kelam yang terus menganga.
Keadilan sepertinya dilelang di pasar kelam,
hukum dibungkam,
suara pun tenggelam.
Koruptor tertawa di atas gemilang,
sementara rakyat menangis di sudut malang.
Kami, anak negeri bertanya dalam getir,
apakah negeri ini akan tetap terukir?
Ataukah mimpi kami harus berakhir,
oleh mereka yang rakus, curang dan kikir?
Kami akan terus berjuang sampai suatu hari,
keadilan yang didamba akan kembali hadir.
<3>
Oh, korupsi, dosa terbesar bangsa ini,
kau membawa kehancuran yang tak terperi.
Namun, kami takkan berhenti,
melawanmu hingga akhir nanti.
Dari abu derita kami akan bangkit,
menuntut keadilan dengan semangat yang legit.
Korupsi, dengarlah jerit nurani,
kami akan merebut kembali hak negeri ini!
Ini bukan sekadar luapan amarah,
ini adalah sumpah agar harapan tak menyerah.
Keadilan adalah lentera di tengah gelap,
dan kami akan terus menjaga agar ia tetap menyala.
Papua, 2025
————-
Paulus Laramase merupakan wartawan senior, dosen filsafat, direktur eksekutif sebuah LSM dengan visi mencerdasakan kehidupan anak negeri.
/4/
Lakon Bayang-Bayang Api
Puisi Ririe Aiko
[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia; Poetry-Pen IC; Satu Pena, Kreator Era AI]
<1>
Di singgasana sepi yang menjulang,
para Bayang-Bayang tersenyum sinis,
menghirup darah dari bisik malam,
menginjak jiwa yang diam dalam penderitaan.
Janji mereka laksana embun di pagi buta,
namun ia beracun, bersembunyi di balik mata curang,
menyulap mimpi menjadi debu yang terbang,
mencuri harapan dari tangan yang rapuh.
Mereka kenyang, perut menggulung gemuruh,
yang lain hanya bisu,
lapar tak mampu suara,
tak ada empati di balik topeng wajah bayang-bayang,
hanya kerakusan, menghitung langkah yang hilang.
<2>
Mereka rajut janji dalam bisikan sunyi,
namun jemari mereka mencuri dari nurani,
menghimpun harta di atas ratap yang tak terdengar,
menindih tubuh yang lemah, tanpa rasa takut.
Tak mereka lihat mata yang penuh luka,
anak-anak yang menggigil di ujung dunia,
hanya angka yang berkelip di layar kaca,
senyum mereka licin, di balik kilauan semu.
Hidup mereka adalah pesta,
di atas meja yang dipenuhi keringat kaum jelata,
mengubah tangis menjadi tumpukan emas,
memahat penderitaan menjadi mahkota yang gemerlap.
<3>
Namun, adakah malam yang tak pernah pagi?
adakah sang waktu yang abadi?
angin keadilan telah mengintai dari kejauhan,
para Bayang-bayang,
tak lama lagi waktumu tiba.
Dan ketika fajar menerangi langit yang gelap,
tak ada lagi bayang-bayang yang melintas,
kaum tertindas akan berdiri tegas,
menghapus jejakmu
dari bumi yang penuh harapan luas.
Bandung, Desember 2024
————————————-
Ririe Aiko merupakan penulis asal Bandung yang aktif di kompasiana dan media online lainnya, anggota Satu Pena. Ia sangat menyukai dunia literasi, pernah bekerja sebagai scriptwriter, pemenang sayembara penulisan FTV Indosiar, penulis buku antologi KKN (Kuliah Kerja Ngonten) Elex Media.
/5/
PRANK(O)
Puisi Muslimin
[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC; Satu Pena Jatim; Kreator Era AI]
makmur yang kau taburkan,
hancur yang kami tanggunggungkan.
adil yang kau janjikan
dekil yang kau wariskan.
sejahtera yang kau serukan,
nestapa yang kini kami rasakan.
dulu, kau beli suara kami dengan dusta,
kini, kau jual diri kami tanpa harga.
sesal kami pada kebodohan ini,
kesal kami pada alpa yang menjerat diri.
kami seperti rumput,
yang diinjak oleh jumawa langkahmu.
kemarau membakar kami tanpa iba,
namun akar kami tetap menghunjam bumi pertiwi.
kami rela memberi kesuburan,
meski peluh kami terus diperas.
hingga deras hujan bertitah,
kami musti tetap hijau,
menatap mentari tanpa risau,
menjalani hari tanpa galau,
menjaga malam tanpa kacau.
Lamongan, Jatim,
2 Desember 2024
—————————
Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan, 20 Mei 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 di MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.
/6/
Hukum Oh Hukum
Puisi: Ahkam Jayadi
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC; Satu Pena Makassar, Kreator Era AI]
<1>
Negeri terbakar oleh marahnya waktu,
Keadilan pudar, tergerus oleh kilauan emas.
Di tangan-tangan yang haus, darah rakyat terhisap,
Triliunan lenyap, namun tak ada penyesalan.
Mereka duduk dalam kemegahan,
Jet pribadi dan istana dibangun atas dosa.
Tersenyum manis, berbalut tipu daya,
Di balik tirai megah, hukum dijadikan komoditi.
Di ruang sidang,
segala sudah disusun,
“Penjaga gerbang kebenaran” berkhianat,
“Bayangan hukum yang berlari” mengikuti jejak kegelapan,
“Pemikul beban kebenaran” terhimpit oleh janji dunia,
Penyelamat dalam kabut berbisik dalam gelapnya perjanjian.
Vonis ringan adalah buah dari pertemuan gelap,
Sogokan menjadi pengatur, keadilan dikorbankan.
<2>
“Penjaga gerbang kebenaran” yang seharusnya memegang keyakinan,
Malah tergoda oleh janji kekayaan.
“Pemikul beban kebenaran” yang semestinya menggenggam harapan rakyat,
Bergabung dalam barisan para perampok negara.
Dari labirin pelataran hukum hingga tahta keadilan tertinggi,
Hukum dipermainkan dalam orkestra sumbang.
Keadilan tak lagi dipandang,
Yang ada hanya uang, bisikan iblis di setiap sudutnya.
Rakyat terpinggirkan,
mata mereka sayu,
Keadilan hanyalah cerita di malam yang gelap.
Sementara para koruptor berlenggang bebas,
Tertawa di atas derita yang terabaikan.
Wahai hukum, mengapa kau berubah menjadi debu?
Mengapa suci jiwamu tergadai demi kekayaan?
Ketika uang menggantikan hati nurani,
Maka hukum hanyalah panggung tragedi,
penuh derita.
<3>
Di negeri asap merah ini, nampaknya pencuri besar dihormati,
Yang kecil dibungkam dengan ancaman dan diadili.
Inikah wajah hukum yang terjual?
Di mana uang berkuasa, dan keadilan pun mati?
Bangkitlah, wahai penegak hukum yang terlena!
Rakyat menanti kebangkitanmu.
Karena jika hukum terus diperdagangkan,
Maka kehancuran negeri ini sudah di ambang pintu,
Waktu telah menunjukkan detik-detik terakhirnya,
Jangan kau pura-pura tak tahu, atau pura-pura lupa.
Makassar, 2025
—————————-
Ahkam Jayadi merupakan akademisi hukum tinggal di Makassar, anggota Satu Pena Makasar.
/7/
Haruskah Aku Hijrah
Puisi: Zaleka HG
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC; Satu Pena Sumbar, FSM]
Korupsi semakin berakar,
merajalela seperti lumut di dinding zaman,
hukuman ditegakkan,
namun tak pernah menghadirkan jera.
Pengadilan berdiri megah,
tiangnya menjulang seakan keadilan abadi,
tunjangan terus bertambah
untuk mereka yang disebut “mulia,”
tapi berkah tak kunjung tiba.
Hari ini, di layar kaca,
kulihat sosok yang dielu-elukan,
gelang borgol menghias kedua tangannya,
dan hatiku mendadak nelangsa.
Jika rakyat kecil terjerat hukum
karena lapar menggigit perutnya,
mengapa yang “mulia” terjatuh
karena serakah yang membutakan?
Aku tertunduk lesu,
seakan dunia ini kehilangan arah.
Sistem hukum,
produk rapuh tangan manusia,
bersumber dari hawa nafsu,
direvisi dari waktu ke waktu.
Seperti pedang yang tumpul ke atas,
namun tajam menindas ke bawah,
menikam yang lemah,
menghukum tanpa nurani.
Namun hukum Allah,
selalu memayungi yang rapuh,
menyentuh setiap zaman,
menghentikan ketidakadilan.
Tergugah hatiku,
kutemukan firman-Mu di Al-Maidah:
“Barang siapa tidak memutuskan perkara
menurut apa yang diturunkan Allah,
mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(Surat Al-Maidah: 45)
Di ujung ayat lainnya:
“Barang siapa tidak memutuskan perkara
menurut apa yang diturunkan Allah,
mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(Surat Al-Maidah: 47)
Aku tersentak,
seperti kaca yang pecah diterpa badai.
Astagfirullah…
Ampuni aku, ya Allah,
ternyata aku ini,
pernah menjadi bagian dari yang zalim,
pernah tersesat di jalan yang fasik.
Kini aku bertanya,
di persimpangan hati yang bimbang,
haruskah aku hijrah?
Menempuh jalan-Mu yang lurus,
jalan keadilan tanpa celah.
Tuntunlah aku, ya Allah,
pada langkah yang Kau ridhoi,
agar hijrahku menjadi jawaban,
untuk mencari cahaya di gelapnya zaman.
Padang, Sumbar,
November 2024
—————–
Zaleka HG adalah anggota Satu Pena Sumbar; anggota FSM (Forum Siti Manggopoh) dan seorang konsultan hukum. Ia juga mengelola layanan haji & umroh PT Farhana Mulia Wisata.
/8/
Langit yang Terbelah
Puisi: Leni Marlina
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM]
<1>
Di bawah langit yang terbelah,
awan-awan bukan lagi utusan hujan,
melainkan puing-puing nafas yang dihela
oleh mereka yang membangun menara dosa
di atas fondasi luka.
Tanah ini berbisik,
“Di manakah para penjaga?”
Sebab, setiap jejak yang kita tinggalkan
menjadi catatan sunyi
di atas nisan harapan.
<2>
Lihatlah gedung-gedung itu—
mereka bukan pilar masa depan,
melainkan tiang pancang
yang menancap di dada bumi,
menghisap sari kehidupan,
hingga tanah ini kehilangan wajahnya.
Di lautan jauh, ombak tak lagi bernyanyi,
melainkan meraung,
meneriakkan nama-nama yang terkubur
di balik janji yang berubah menjadi rantai.
tetes darah yang mengering,
bulir keringat yang dicuri,
menjelma jadi mata air yang menunggu ledakan.
<3>
Kami bagaikan bisikan
yang tak kalian dengar.
Kami bagaikan bayangan
yang tak bisa kalian lenyapkan.
Kami seperti racun yang merembes ke akar,
menunggu waktu untuk melumpuhkan batang kesewenangan.
Dan saat langit yang terbelah itu menyatu,
kami tidak meminta apa pun,
kecuali keadilan
yang telah kalian gantungkan tinggi di angkasa,
agar tak terjangkau oleh tangan kami.
Namun, kalian lupa—
langit adalah milik kami juga,
dan kami tak akan berhenti
hingga keadilan itu jatuh kembali ke pangkuan bersama.
Bukittinggi, Sumbar, 2018
——————————-
Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2018. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni merupakan anggota Forum Siti Manggopoh. Ia mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, diantaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)