Meneladani Langkah Juang Kartini: Catatan Khidmat Upacara Senin MAN Kota Sawahlunto
Sawahlunto (Humas), 20 April 2026
langit di atas Sawahlunto terbentang bening seperti lembaran harapan yang belum ternoda. Di halaman MAN Kota Sawahlunto, barisan demi barisan telah tersusun rapi seragam putih abu-abu berpadu dengan khidmatnya para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang berdiri tegap, menyatu dalam satu irama kebangsaan.
Upacara bendera hari itu bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia menjelma menjadi ruang hening yang sarat makna tempat nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan cinta tanah air kembali diteguhkan. Kelas E3 yang bertugas sebagai pelaksana upacara menunaikan amanah dengan penuh kesungguhan dengan walikelas Nurmala Dewi. Setiap langkah mereka terukur, setiap aba-aba dilantunkan dengan mantap, seolah ingin memastikan bahwa pagi itu berjalan sempurna tanpa cela.
Bendera Merah Putih perlahan naik, menari bersama angin pagi yang lembut. Di bawahnya, ratusan pasang mata menatap penuh hormat. Lagu Indonesia Raya menggema, mengalir dari dada ke udara, menyatukan jiwa-jiwa muda dalam satu getar kebangsaan.
Bertindak sebagai pembina upacara, Pembina OSIM Femita Maya Dona, tampil dengan wibawa yang tenang. Dalam sikap tegapnya tersimpan kelembutan seorang pendidik yang memahami betul makna setiap kata yang akan disampaikan. Ia membuka amanatnya dengan apresiasi yang tulus kepada kelas E3.
“Pelaksanaan upacara hari ini berjalan dengan sangat baik. Ini adalah cerminan dari kerja sama, latihan, dan tanggung jawab yang dijalankan dengan sepenuh hati,” tutur Femita, suaranya jernih dan menyentuh.
Apresiasi itu bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan atas usaha sebuah penghargaan yang mampu menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat untuk terus berkembang.
Namun, amanat pagi itu melangkah lebih jauh. Ia mengajak seluruh peserta upacara untuk menengok sosok perempuan besar dalam sejarah bangsa RA Kartini. Di tanggal yang berdekatan dengan hari kelahirannya, semangat Kartini dihadirkan kembali, bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai api yang harus terus menyala.
“Meneladani semangat belajar RA Kartini berarti tidak pernah berhenti mencari ilmu, meski dalam keterbatasan. Kartini mengajarkan kita bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya,” ucap Femita perlahan namun penuh penekanan.
Pagi itu, di halaman MAN Kota Sawahlunto, upacara bendera telah menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi pengingat, bahwa di balik rutinitas, selalu ada makna yang bisa dirawat dan bahwa semangat belajar, seperti yang diwariskan Kartini, adalah cahaya yang tak boleh padam.
Kontributor: Nofri Hendra
Editor : DTB