April 21, 2026

“Bumi yang Menangis dan Menanamkan Cinta”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

c2f0d46c-b801-45d6-a2f9-f748427aac37

Ilustrasi "Bumi yang Menangis dan Menanamkan Cinta": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 295-70 (Assisted by AI)

Oleh: Puisi Leni Marlina

/1/ Bumi yang Menanamkan Cinta

Aku adalah bumi,
yang dulu menanamkan cinta,
di setiap denyut tanah dan aliran sungai.
Namun, manusia,
mengapa tanganmu yang lembut
berubah menjadi belati?
Kau tebang nadiku,
kau kikis tubuhku,
hingga aku kehilangan nama
di hatimu.

Hutan menangis dalam sunyi,
daun-daun jatuh seperti airmata tanpa suara.
Gunung-gunung yang dulu kokoh,
kini terkikis,
seperti mimpi yang kau bakar dalam api.
Dan lautku, yang pernah memeluk mentari,
menjadi gelap,
menerima sampahmu yang menggunung.

Aku masih berdoa,
bukan untukku,
tapi untukmu, manusia.
Aku berdoa agar tanganmu kembali lembut,
agar hatimu belajar mendengar.
Karena jika aku menyerah,
kau hanya serpihan,
terbang tanpa tujuan, bersama angin tanpa arah.

Melbourne, Australia, 2012

/2/

Laut yang Pernah Jadi Cermin Surga

Puisi Leni Marlina

Di mana biru yang dulu memantulkan langit?
Lautku kini kusam,
menjadi kuburan bagi mimpi yang karam.
Tumpukan plastik dan tumpahan limbah berkeliaran seperti ular,
melilit tubuhku tanpa ampun.
Aku pernah menjadi cermin surga,
tapi kini aku hanyalah bayang-bayang
yang merasakan neraka dunia.

Ikan-ikanku tak lagi bernyali,
terkapar di tepian pantai,
dan camar hanya terdiam,
menyaksikan apa yang kau sebut kemajuan.
Manusia,
aku memelukmu dengan riak gelombang,
tapi kau balas dengan racun
yang perlahan membunuhku.

Apakah ini akhir kisahku?
Atau kau akan kembali,
membuka hati pada keajaiban yang kau abaikan?
Aku hanya laut,
tak mampu berkata lebih keras,
tapi arus gelombangku adalah seruan
untuk kehidupan yang kau tinggalkan.

Melbourne, Australia, 2012

/3/

Hutan yang Menyimpan Rahasia

Puisi Leni Marlina

Aku adalah hutan,
tempat sunyi yang memeluk rahasia langit.
Pohon-pohonku berdiri seperti doa,
memeluk burung-burung,
dan meneduhkan langkahmu.
Kini, aku hanya luka,
api menjadi tamu yang tak kuundang,
dan akar-akarku mencium tanah
untuk terakhir kalinya.

Kau panggil aku paru-paru dunia,
tapi kau hirup napasku hingga habis.
Kau bawa tubuhku ke pabrik,
kau ubah daunku menjadi angka,
dan aku bertanya padamu:
Masihkah aku bernilai di hatimu?

Aku pernah menjadi tempatmu berlindung,
tapi sekarang aku kehilangan nama.
Manusia,
jika kau terus menebangku tanpa ampun,
siapa lagi yang akan meneduhkanmu,
ketika matahari membakar takdirmu?
Hidupku adalah hidupmu,
dan jika aku mati,
kau akan jatuh bersamaku
ke dalam kuburan yang kau gali sendiri,
dan kemudian baru kau sesali.

Melbourne, Australia, 2012

/4/

Bumi Berbicara

Puisi Leni Marlina

Manusia,
kau berjalan di atas tulangku,
mengukur langkah-langkahmu dengan ambisi,
sementara aku, bumi, memikul beban
yang terus kau tambahkan tanpa peduli.

Aku adalah batu,
retak-retak tubuhku adalah bahasa yang tak kau pahami,
tapi aku terus berbicara dalam diam.
Sungai yang dulu bersih berseri,
kini mengerang,
udara yang memeluk kini tercekik,
dan aku, bumi yang kau tempati,
perlahan hancur di bawah genggamanmu.

Manusia, apa yang kau kejar?
Ketika tanahku menjadi abu,
ketika hijaunya lenyap dalam napas hitam,
apa yang tersisa darimu?
Hanya bayangan dirimu sendiri
yang tergambar di cermin retak dunia.

Melbourne, Australia, 2012

/5/

Bumi yang Lelah

Puisi Leni Marlina

Aku adalah batu di dasar laut,
menyaksikan bumi yang kau abaikan.
Tubuhku tenggelam dalam lumpur plastik,
napasku tercekik oleh racun yang kau sebut kemajuan.

Bumi ini adalah tubuhku,
dan setiap kali kau mencuri dari dadaku,
kau mencuri masa depanmu sendiri.
Hutan yang kau babat adalah nafasmu,
sungai yang kau kotori adalah darahmu.

Aku mendengar doa-doa palsu yang kau bisikkan,
sementara kau terus menggali makammu sendiri.
Bumi ini lelah, manusia,
dan saat ia berhenti berputar,
kau tak akan berdiri.

Melbourne, Australia, 2012

/6/

Bumi yang Terlupakan

Puisi Leni Marlina

Aku, batu yang kau injak tanpa nama,
adalah sisa dari surga yang dulu kau nyanyikan.
Aku adalah saksi bisu
dari setiap pohon yang jatuh,
setiap sungai yang berubah menjadi arus kelabu.

Manusia,
kau menggali emas dari jantungku,
kau menorehkan luka pada kulitku,
dan kau berdiri bangga di atas kehancuran.
Tapi apa arti kemenangan itu,
ketika bumimu sendiri tak lagi memelukmu?

Aku, batu kecil yang kau abaikan,
akan menjadi pengingat
bahwa bumi ini tak selamanya memberi.
Saat aku retak sepenuhnya,
kau akan tahu
bahwa kau pun telah kehilangan segalanya.

Melbourne, Australia, 2012

/7/

Bumi Menangis

Puisi Leni Marlina

Aku adalah batu,
penjaga bumi yang kau nodai.
Di setiap sudut tubuhku,
ada jejak langkahmu yang berat,
ada racun yang kau tanamkan
dengan tanganmu sendiri.

Bumi ini menangis,
bukan dengan air mata,
tapi dengan retakan yang menyebar perlahan,
dengan erangan angin yang kau abaikan,
dengan bisikan daun-daun yang kau tebang.

Manusia,
kau memujaku di pagi hari,
dan menghancurkanku di malam yang sama.
Bumi ini adalah ibu yang kau lukai,
namun ia tetap memberi hingga akhirnya.

Tapi ketahuilah, manusia,
ketika bumi berhentia berbicara,
itu adalah saat kau pun mulai berhenti bernapas .

Melbourne, Australia, 2012

————-

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2012 dalam bentuk bilingual (Inggris dan Indonesia). Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni Marlina merupakan anggota penulis SATU PENA Sumbar, Kreator Sumbar Era AI, Forum Siti Manggopoh. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)