Bunga Pagi Untuk Pak Liliek
Yusuf Achmad
Biasanya, kata-kata adalah angin yang meniup bunga mekar,
Bunga tak berdaya meski keindahannya menggoda dan segar.
Bukan hanya kumbang, tetapi juga semut yang melingkar di tangkai,
Bunga berseri menyambut pagi, juga air dari tangan istri yang tersebar.
Namun pagi itu, bunga tak menyapaku,
Aku menunggu, menunggu, dan terus menunggu.
Angin pun tak bersuara ketika mendung pekat tanpa gemuruh,
Seolah membiarkan hujan lekas turun, memburu.
Lalu membiarkan bunga pagi basah kuyup, kedinginan,
Mungkin karena kedinginan, bunga layu.
Mungkin batangnya busuk lalu rebah,
Atau mungkin hatinya hancur hingga tak ada kata-kata lagi.
Kuberanikan diri menjumpainya, meski khawatir mengganggu,
Ia tertidur atau terjaga.
Dan kudapati bukan badan dan tubuhnya yang sakit, tapi jiwanya.
Hatinya tertusuk kumbang jahat, menusuk dengan kata-kata kasar tak berderajat,
“Kamu bukanlah bunga pagi indah pada angin dan pemiliknya karena berkhianat.
Kamu pendusta hingga tak akan ada kumbang, semut, atau sejenisnya mendekat.
Kamu pembual, warnamu hitam kelam tak indah.”
Demikian bunga pagi tak bisa bergerak ataupun bicara.
Lalu kukirim tangan dan air, kukatakan tak semua suka, kecuali si penyuka.
Dan bunga pagi bergerak lagi,
Tersenyum, harum, dan berwarna cerah.
Tak layu, busuk, ataupun hancur.
Kutersenyum hingga terang dan embun pagi tercium.
Sehat, segar, tidak hanya badan dan tubuh, tapi juga jiwa dan hatiku.
Seperti bunga yang kembali mekar setelah hujan,
Aku menemukan kembali harapan dalam setiap tetes embun pagi.