Burung di Genting Subuh
Oleh Yusuf Achmad
–
Ayunan kaki penuhi kata nurani. Menyapa beduk dari kulit
murni. Beduk ditabuh, subuh hari. Kucium harum karpet ibadah
pagi. Menjernihkan jiwa di hadapan ilahi.
Lalu kicau burung di atas genting terdengar, menyayi. Bertanya
pada karpet terbentang, wangi. Mengapa barisanmu tak lebih
banyak dari ini. Padahal aku menanti riuh kaki-kaki. Bibir, hatimu
menyenandungkan yang Akbar, maha tinggi.
Burung itu terbang entah ke mana, meninggi. Mungkin kecewa
pada karpet tak tercium segar melati. Hanya dua pasang jamaah
tua, umur sudah renta. Si jamaah tua keluar, dini-dini. Surau
kehilangan aroma segar, entah apa lagi.
Setelah doa terpanjatkan pada langit dan pelangi. Matahari
mana lelap tak mau bangkit, menyendiri. Sayap mana tak
terbang riuh, riang tak sedih. Kaki mana tak diam karena nasib
terhimpit, tertindih. Suara mana tak berseru, bergetar. Adakah
yang simpati.
Burung kembali, bertengger, merintih. Kapan jamaah muda siap
meniti. Mengisi surau ini. Pada subuh selalu menanti. Belum
selesai terjawab. Burung terjatuh tanpa sebab. Kusaksikan
burung berkata tergagap, “Jaga subuhmu, hati, nurani. Surau
ini tetap. Ingat aku jatuh tanpa sabab.”
Surabaya, 18-7-2023