Burung Gagak dan Kematian
Oleh Yusuf Achmad
–
Suara burung gagak terdengar nyaring sedari tadi. Katanya
tanda ada yang akan mati. Nyamplungan dan kampung lainnya
dikitari. Terbang di atas genting tak henti-henti.
Warna burung gagak tak terlihat lagi. Hitam, abu-abu atau
putih. Janji jelas, telah ditagih, dipanggil satu, dua, tiga, lalu lagi.
Waktunya paramedis, seperti makhluk alien putih. Tertutup
pakaian serba putih dari rambut ke kaki. Orang Nyamplungan
terkenal dekat dengan ilahi. Tidak mau berdebat, pasrah pada
maha pengasih.
Ini ajal, kata mereka lagi. Tapi aku protes, tak puas sampai di
sini. Mengapa semua yang mati, harus disebabkan virus ansih?
Padahal banyak hal lain, yang bisa membawa mati. Apakah ini
hukuman atau ujian dari ilahi robbi?
Ataukah ini, kesempatan untuk introspeksi diri? Aku tak tahu
jawabannya, hanya bisa berdoa dan berserah diri. Semoga
burung gagak tak mengepung lagi. Semoga di Nyamplungan
gagak tak datang kembali.