BADAI
Ilustrasi Kompas
/1/
BADAI
Puisi: Aspar Patarusi
–
tegaklah anakku, menghadapi terjangan badai
leluhurmu bakal sedih bila kau menghindar lari
kau tidak dilahirkan untuk jadi penakut
badai selalu hadir dalam kehidupan kita
mengapa badai senantiasa datang tiba-tiba
tak henti mengusik hari-hari tenteram kita
apa kerna alam sedang diamuk rasa amarah
lantaran manusia tak henti mengganggunya
tabahlah anakku, jangan pernah menyerah
dekati, gumuli, dan rangkul badai sekuatnya
wahai badai, apakah engkau tak mau bersahabat
apakah engkau selalu ingin tampak berkuasa
badai dan kau anakku, adalah darah alam
yang harus selalu mengaliri nadi kehidupan
tak patut ada pertikaian
tak patut saling merendahkan
Jakarta, 2009
/2/
TANGAN MAUT
Puisi: Aspar Patarusi
–
Siapa yang meremehkan nyawa
kepada siapa mereka berhamba
kebenaran apa yang diyakininya
mereka hendak merebut tangan maut
dari tangan Sang Maha Perkasa
Seraya mengusung keyakinan
mereka diam-diam mengendap-endap
mengoyak ketenangan
mencabik kedamaian
mengkampak rasa tenteram
Arah angin apa menuntunmu
setiap langkahmu berujung maut
masihkah sentuhan kasih
roh kemanusiaan
menghuni lubuk nuranimu
Lihatlah kibasan cahaya ilahi
Dia yang abadi
segera sujud
agar dapat menciumi
kebenaran hakiki
yang memuliakan damai
nilai-nilai manusiawi
Tiba saat melangkah
di jalan pulang
untuk bertobat
sepenuhnya
Jakarta, 15 Januari 2016