May 10, 2026
paturuai badai1

Ilustrasi Kompas

/1/

BADAI

Puisi: Aspar Patarusi

tegaklah anakku, menghadapi terjangan badai
leluhurmu bakal sedih bila kau menghindar lari
kau tidak dilahirkan untuk jadi penakut
badai selalu hadir dalam kehidupan kita

mengapa badai senantiasa datang tiba-tiba
tak henti mengusik hari-hari tenteram kita
apa kerna alam sedang diamuk rasa amarah
lantaran manusia tak henti mengganggunya

tabahlah anakku, jangan pernah menyerah
dekati, gumuli, dan rangkul badai sekuatnya
wahai badai, apakah engkau tak mau bersahabat
apakah engkau selalu ingin tampak berkuasa

badai dan kau anakku, adalah darah alam
yang harus selalu mengaliri nadi kehidupan
tak patut ada pertikaian
tak patut saling merendahkan

Jakarta, 2009

/2/

TANGAN MAUT

Puisi: Aspar Patarusi

Siapa yang meremehkan nyawa
kepada siapa mereka berhamba
kebenaran apa yang diyakininya
mereka hendak merebut tangan maut
dari tangan Sang Maha Perkasa

Seraya mengusung keyakinan
mereka diam-diam mengendap-endap
mengoyak ketenangan
mencabik kedamaian
mengkampak rasa tenteram

Arah angin apa menuntunmu
setiap langkahmu berujung maut
masihkah sentuhan kasih
roh kemanusiaan
menghuni lubuk nuranimu

Lihatlah kibasan cahaya ilahi
Dia yang abadi
segera sujud
agar dapat menciumi
kebenaran hakiki
yang memuliakan damai
nilai-nilai manusiawi

Tiba saat melangkah
di jalan pulang
untuk bertobat
sepenuhnya

Jakarta, 15 Januari 2016