Dari Pastor Ponsianus, Kita Belajar Arti Proses dan Kasih yang Sederhana
Oleh : joko
http://suaraanaknegerinews.com | Tanimbar_ Di tengah rutinitas hidup yang semakin keras dan tak jarang membuat kita lupa bersyukur, Komunitas HKY PUNG CERITA, muncul sebagai pengingat bahwa kasih bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana, buku tulis, uang transport, dan doa tulus yang mengiringi langkah anak-anak Hebat.
Kegiatan ini mungkin tampak kecil jika diukur dari nilai materi, namun sesungguhnya, nilai yang paling besar justru terletak pada pesan moral dan spiritual yang menyertainya.
Kepedulian ini kembali menggema oleh Pastor Paroki, RD Ponsianus Ongirwalu, Gereja HKY (Hati Kudus Yesus) Olilit Barat, Kelurahan Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Sabtu (10/5/25).
Kepada anak-anak itu, disampaikan pesan yang mendalam: bahwa hidup bukan semata tentang hasil, melainkan tentang proses, tentang jatuh dan bangkit, tentang sabar dan setia.
“Jangan pernah lelah untuk mengingatkan diri, bahwa seringkali hadiah dari Tuhan bukan berupa hasil yang engkau perjuangkan, tetapi proses yang engkau rasakan. Bagaimana engkau bersabar, belajar, jatuh, bangkit dan tiba di penghujung jalan”.ungkap Pastor penuh keyakinan.
Di usia yang belia, mereka diajak untuk melihat hidup dengan cara yang lebih utuh, melihat bahwa Tuhan bekerja juga lewat hal-hal kecil, lewat orang-orang sederhana.
Dalam suasana itu, kutipan Santa Teresa dari Kalkuta juga menggema: “Jika engkau merasa tertekan, panggillah Bunda Maria…”
Sebuah undangan untuk kembali pada kekuatan doa, sesuatu yang semakin jarang diajarkan dengan sungguh-sungguh hari ini, padahal, dalam doa yang sederhana pun, ada pelukan surgawi yang bisa menenangkan hati anak-anak yang mungkin tak selalu punya sandaran di dunia nyata.
Apa yang dilakukan oleh Pastor Ponsianus melalui gerakan sosial seperti HKY Pung Cerita sebenarnya adalah tindakan perlawanan terhadap budaya abai dan egois.
Pastor membagikan bukan hanya barang, tapi juga harapan, Pastor menanamkan keyakinan bahwa anak-anak ini penting, bahwa masa depan mereka patut dipersiapkan dan bahwa orang-orang dewasa peduli dan mau terlibat.
Begitu juga dengan masa depan bangsa bukan hanya dibentuk di ruang-ruang besar, tetapi juga lewat pelukan hangat, sentuhan kasih, dan doa-doa kecil yang dipanjatkan di akhir pekan yang penuh cinta.
“Tuhan lindungilah anak-anak Hebat ini dengan Kuasa Roh Kudus, jauhkanlah mereka dari segala marabahaya, agar kelak menjadi anak-anak yang berguna bagi Gereja, bangsa dan negara. Berkatilah orang tua mereka agar selalu bekerja dan mempersiapkan masa depan anak-anak hebat ini, Salve”. ucap Pastor menutup renungannya pagi ini.