April 18, 2026

yusuf achmad

Berita demi berita, bergulir tanpa jiwa,
Di tangan tahta besi yang melangkah buta.
Cabe melangit, tangis di ruang-ruang sempit,
Bulan memutar, tahun menyemai getir.
Honor buruh membungkuk, seperti daun layu,
Ditenggelamkan janji yang diukir semu.

Langit bertanya dengan suara bergetar,
Ini narasi, sandiwara, atau luka yang memudar?
Keadilan memar di pojok waktu,
Kesetaraan hanyut, lapar menjelma batu.
Palu pengadilan tertahan,
Hanya ratapan yang menjadi dendang panjang.

Koruptor, wajahnya setebal malam pekat,
Berjalan megah di atas tangis yang terselip di sekat.
Kabena, Buton, Bangka, berseraklah serpihan sejarah,
Tambang-tambang meminum darah, menorehkan derita gundah.
Rahim pertiwi tercabik, tanahnya berbisik,
Di balik emas, nestapa terukir tragis.

Rakyat, oh, rakyat, apa daya kami?
Ketika tanah ini menjadi mangsa para raja tirani.
Pemilik sejati, anak negeri yang terseok,
Menanti keadilan di antara lorong-lorong bobrok.
Roti besar ini milik semua jiwa,
Bukan untuk mereka yang menghias singgasana.

Puisi ini bangkit dari lorong yang terlupakan,
Mengusung suara yang dibungkam zaman.
Memanggil nurani yang tertidur di ujung gelap,
Menuntut hak dari kebohongan yang tertanam rapat.
Di puncak tambang, puisiku menatap nanar,
Melihat langit penuh luka, hutan terbakar.

Puisi ini berseru, mengalir bagai arus tak tertahan,
Menggetarkan nadi mereka yang melupakan.
Tanah ini bukan pusaka yang diperdagangkan,
Melainkan kehidupan yang tak boleh dilupakan.
Dalam badai, puisi ini tegak berdiri,
Menentang angin, menutut keadilan.

Pena adalah obor kami,
menghidupkan harapan di kegelapan yang tak berujung.
Puisi kami akan berjuang menanamkan mimpi meskipun di tanah yang tercemar,
membelah debu menjadi ladang yang segar.
Anak negeri, esok akan menang,
dari mereka yang curang, dari mereka yang mencuri warisan nenek moyang.

Di tengah dunia yang seringkali buta hatinya,
puisi ini takkan berhenti bercahaya,
menerangi hati siapapun yang peduli,
melawan ketamakan, mengusung keadilan,
bukan sekadar rangkaian kata,
tapi napas perjuangan.

Surabaya, 12 Januari 2025