DI SURGA YANG HILANG
Oleh Maria Kolovou Roumelioti
–
Di surga yang hilang,
naga-naga telah membakar taman!…
Aku mencari jalan untuk kembali…
berdiri di sana,
tempat pohon pertama kali berbuah…
Kan kusemai dengan air mata,
membersihkan noda asap,
agar batang-batang berduka itu bisa bernapas kembali!…
Di bawah tatapan Langit,
dengan Zeus sebagai saksi:
pengakuan akan dimulai…
dan hukuman abadi
akan dijatuhkan bagi mereka
yang membakar taman
dengan membuat Bulan berdarah!…
(Karya rupa oleh Maria Kolovou Roumelioti berjudul: “URANUS DAN BUMI”, Media Campuran, Ukuran: 90cm x 110cm)
—

Resensi Karya Lukis dan Puisi Maria Kolovou Roumelioti
Oleh: Rizal Tanjung
Ada sesuatu yang purba dalam karya lukis “Uranus and Earth” karya Maria Kolovou Roumelioti. Sebuah tubuh seperti siluet kosmik, berlapis busa lautan dan rembesan cahaya, berdiri di antara lingkaran bundar—planet, bulan, atau barangkali rahim semesta—yang membelah dirinya menjadi dualitas: bumi dan langit, daging dan roh, fana dan abadi. Ia tidak sekadar lukisan; ia adalah mitos yang membeku di atas kanvas, sebuah puisi visual yang menghidupkan kembali ingatan Yunani kuno tentang kelahiran dunia dari chaos.
Di dalamnya, kita seolah melihat sosok yang separuh manusia, separuh arkaik. Bentuk tubuhnya terbuat dari riak ombak, seakan berasal dari buih laut yang sama ketika Aphrodite dilahirkan. Namun ia juga dilingkari lingkaran kosmos, mengingatkan kita pada Uranus, langit yang merangkul bumi, di mana gairah cinta dan konflik kekuasaan menjadi asal mula seluruh tragedi kosmologis Yunani.
Aliran yang menyusup dalam karya ini bisa dibaca sebagai Neo-Simbolisme Kosmik—sebuah jalan yang kini banyak ditempuh pelukis kontemporer dunia yang menolak batas realisme, dan lebih memilih bahasa simbolik untuk menyampaikan krisis spiritual zaman. Dalam gelombang seni kontemporer, terutama pasca modernisme yang kini dipenuhi pencarian kembali mitos, karya ini berdiri sejajar dengan aliran mythopoetic art di Eropa dan transcendental abstraction yang berkembang di Amerika. Ia tidak menekankan bentuk realistis, melainkan menghadirkan atmosfer puitis, serupa doa atau mantra, di mana gambar berfungsi sebagai pintu menuju kesadaran metafisik.
Warna biru dominan yang dipilih Maria Kolovou bukan sekadar warna laut atau langit, melainkan palung jiwa manusia. Biru dalam mitologi Yunani adalah warna ilahi: kedalaman laut Aegea, cakrawala yang menyatu dengan pandangan Zeus, sekaligus warna luka yang membiru di tubuh sejarah. Dari sanalah metafora puisinya “In a Lost Paradise” memperoleh tubuh visualnya.
Dalam puisinya, Maria menulis:
“In a lost Paradise,
dragons have burned the garden!…
I will water it with tears…
to clean the smudge of smoke…”
Baris-baris ini adalah jeritan kosmogonis—bahwa Eden, atau taman surgawi yang pernah ada, telah dirusak oleh naga. Namun Maria tidak berhenti di ratapan. Ia mencari jalan pulang, jalan kembali ke akar pertama, “ke tempat di mana pohon pertama kali berbuah.” Inilah pencarian arketipal manusia, pencarian ke asal-usul, ke tempat mitos dan sejarah berpelukan. Lukisannya lalu menjadi tubuh puisi itu: naga yang tak tampak namun menyisakan jejak kobaran; tubuh bumi yang dililit luka asap; dan langit yang terus menjadi saksi.
Dari segi filsafat seni, karya Maria Kolovou berdiri pada simpang jalan antara eksistensialisme visual dan mitologi Yunani. Ia mengajukan pertanyaan kuno dengan bahasa rupa modern: bagaimana manusia berdiri di antara bumi dan langit, antara kesementaraan dan kekekalan? Jawaban yang diberikannya bukanlah penjelasan rasional, melainkan kesaksian simbolik—air mata yang menyuburkan, pohon yang hendak bernapas kembali, dan Zeus yang menatap sebagai saksi pengakuan kosmis.
Karya ini juga merupakan bentuk perlawanan terhadap nihilisme estetika masa kini. Di tengah arus seni global yang banyak mengulang-ulang banalitas post-internet, Maria menghadirkan lukisan yang justru kembali ke akar arkaik: menghadirkan mitos sebagai kekuatan hidup, sebagai jantung dari seni itu sendiri. Ia menegaskan bahwa seni, sebagaimana mitologi, adalah ritual: medium untuk memahami tragedi, sekaligus doa agar dunia yang hangus masih bisa ditumbuhkan kembali.
Puisi Pendukung Resensi
Biru adalah napas langit
yang jatuh ke tubuh bumi,
di sana berdiri sosok—
setengah lautan, setengah doa.
Ia menggenggam lingkaran kosmos
seperti luka yang tak bisa dirawat,
namun di balik asap, ia menanam air mata
agar pohon purba kembali berbuah.
Zeus menatap dari kejauhan,
seakan berkata:
“Siapa yang membakar taman ini
akan menanggung keabadian murka,
namun siapa yang menyiramnya dengan tangis
akan menjadi akar kehidupan baru.”
Maria Kolovou Roumelioti, melalui lukisan “Uranus and Earth” dan puisi “In a Lost Paradise”, telah menyatukan filsafat Yunani kuno, mitologi, dan pencarian spiritual kontemporer. Ia menempatkan dirinya dalam arus seni dunia yang kini kembali pada mitos dan simbol, sebagai bahasa paling purba untuk memahami zaman yang kehilangan arah. Lukisannya bukan sekadar citra visual, melainkan kosmologi baru—taman yang hangus namun masih bisa hidup kembali, dengan syarat: air mata harus menjadi air kehidupan.
II
Karya “Uranus and Earth” (90 x 110 cm, mixed media) karya Maria Kolovou Roumelioti, seniman dan penyair Yunani, adalah representasi kuat dari interseksi antara seni visual, mitologi, dan filsafat. Dalam konteks perkembangan seni rupa kontemporer dunia, karya ini menegaskan kebangkitan kembali kecenderungan mythopoetic art—yakni seni yang menghidupkan kembali narasi mitologi sebagai sarana refleksi eksistensial dan kritik terhadap kondisi zaman.
Konteks Seni Rupa Kontemporer
Dalam dekade terakhir, seni rupa kontemporer global memperlihatkan pergeseran dari dominasi postmodernisme menuju eksplorasi kembali spiritualitas, simbolisme, dan mitologi. Tren ini terlihat dalam karya-karya perupa Eropa Timur, Amerika Latin, hingga Asia, yang mencoba melawan “banalitas post-internet art” dengan menghadirkan kembali bahasa metafora kosmologis. Lukisan Kolovou selaras dengan kecenderungan ini.
Karya “Uranus and Earth” dapat dibaca sebagai bentuk neo-simbolisme kosmik yang lahir dari pergulatan dengan sejarah seni simbolis abad ke-19 (misalnya Odilon Redon atau Gustave Moreau), namun dimodernisasi dengan teknik mixed media dan estetika kontemporer. Kolovou tidak menghadirkan figur-figur mitologi secara realistis, melainkan mengabstraksikannya dalam bentuk tubuh cair, warna biru kosmik, dan simbol lingkaran sebagai metafora kosmos.
Relasi Lukisan dan Puisi
Kolovou bukan hanya pelukis, tetapi juga penyair. Puisinya “In a Lost Paradise” berfungsi sebagai kerangka konseptual bagi karya visual. Dalam puisi tersebut, ia berbicara tentang taman yang hangus oleh naga, sebuah alegori kehancuran kosmis sekaligus ekologis. Lukisan “Uranus and Earth” kemudian menjadi representasi visual dari puisi itu: sosok yang lahir dari buih laut, diselimuti lingkaran kosmos, berdiri sebagai saksi kehancuran sekaligus harapan regenerasi.
Keterhubungan antara puisi dan lukisan ini mencerminkan tradisi Yunani kuno di mana seni, mitos, dan filsafat tidak terpisah, melainkan saling menopang sebagai cara memahami dunia.
Simbolisme Visual
Lingkaran: melambangkan kosmos, kesempurnaan, dan siklus abadi. Ia juga merepresentasikan Uranus (langit) yang membungkus bumi.
Tubuh cair: menggambarkan asal mula dari laut (chaos) serta kefanaan manusia. Teknik ini memberi kesan bahwa figur tersebut tidak stabil, terus berubah, dan rentan—sebuah metafora eksistensi manusia.
Warna biru: mengandung lapisan makna: spiritualitas, kedalaman laut Aegea, hingga luka sejarah yang membiru.
Simbolisme ini bekerja sebagai perangkat naratif visual yang membawa penonton pada lapisan interpretasi filosofis.
Filsafat Yunani dalam Karya
Karya Kolovou menegaskan jejak filsafat Yunani kuno, khususnya dalam pandangan kosmogoni Hesiod mengenai Uranus (Langit) dan Gaia (Bumi). Pertemuan dan konflik keduanya adalah asal mula kehidupan sekaligus tragedi. Dengan mengangkat kembali mitos ini, Kolovou sebenarnya mengajak kita merefleksikan situasi kontemporer: bagaimana hubungan manusia dengan alam (bumi) dan spiritualitas (langit) kini berada di titik krisis.
Kritik dan Posisi dalam Seni Dunia
Dibandingkan dengan kecenderungan seni digital dan konseptual saat ini, karya Kolovou bisa diposisikan sebagai kritik terhadap dehumanisasi seni kontemporer yang terlalu fokus pada teknologi. Ia memilih jalan “arcaik modern”—yakni menghadirkan mitos purba dalam bahasa visual yang mutakhir. Inilah yang membuat karyanya relevan di kancah global: ia tidak menolak kontemporer, tetapi menolak melupakan arketipal.
“Uranus and Earth” bukan sekadar karya lukis, melainkan mythopoetic manifesto. Ia memperlihatkan bagaimana seni rupa kontemporer masih dapat menjadi ruang pertemuan antara filsafat kuno, mitos, dan refleksi kritis atas krisis dunia modern. Dengan menggabungkan puisi dan lukisan, Maria Kolovou Roumelioti menegaskan bahwa seni sejati bukan hanya permainan bentuk, melainkan juga ritual, doa, dan kesaksian kosmos.
Sumatera Barat, Indonesia,2025.