Di Ujung Nafas, Aku Menemukan Nama-Mu di Dalam Diriku
Karya: Rizal Tanjung
–
Aku tiba di ujung nafas—
bukan karena lelah,
tapi karena rindu tak sanggup lagi menjelma udara.
Setiap helaan adalah panggilan,
setiap hembusan adalah pengakuan
bahwa tak ada ruang di tubuhku
yang tak Kau tinggali.
Aku mencium-Mu dalam nyala nadiku,
seperti mawar mencium hujan pertama
yang turun dari langit diam tak bernama.
Dan aku bertanya:
Siapa aku sebelum aku menyebut-Mu?
Apa aku sebelum cinta menamaku sebagai bejana?
Aku adalah titik—
titik tak berhuruf,
tak berwujud,
tapi menjadi makna setelah Kau letakkan satu tetes cahaya
di dahi sunyiku.
Dan kini, dalam tiap heningku,
Kau menjelma semilir pada daun,
lalu jadi sayup pada air,
lalu diam sebagai sepi yang mengajariku bersujud
bukan pada bentuk,
tapi pada yang melampaui bentuk.
Kekasih,
malam tadi aku menafsir mimpi:
akulah Engkau yang melupakan diri-Nya agar bisa mencinta.
Aku mencintai-Mu,
bukan sebagai aku,
tapi sebagai Engkau yang rindu pulang
kepada Diri-Nya sendiri.
Bukankah itulah rahasia dari segala cinta?
Bahwa sang pecinta
adalah bayangan kekasih
yang berjalan menuju cermin tak bernama?
> “Di ujung nafas, tak ada aku—
hanya Nama-Mu,
menyala seperti huruf tak terbaca
di langit yang tak berujung.”
Sumatera Barat,2023.