Malam Ini Angin Tidur di Mana
Oleh: Rizal Tanjung
–
Malam ini, angin tak bersuara,
seperti zikir yang hilang arah dari tasbih langit yang retak,
aku mencari-Mu dalam nama yang kusebut sebagai kekasih,
dalam sunyi yang berwajah bayangmu,
dalam sepi yang berwangi dupa rindu.
Di manakah Engkau membaringkan angin malam ini?
Di lekuk dada rembulan?
Di ubun-ubun kabut yang mengaji di puncak bukit?
Atau terselip di balik huruf alif
yang memanjang seperti jalan menuju rumah cinta?
Aku mencintai-Mu seperti semesta mencintai kehampaan,
tiap bintang adalah luka yang menyala agar aku melihat jalan pulang,
dan tiap rindu adalah cawan anggur
yang kuteguk dari gelas tak terlihat,
dihidangkan oleh tangan cahaya dari dimensi yang tak berwaktu.
Kekasih… atau barangkali Kau adalah Tuhan yang menyamar jadi rindu,
yang menari dalam diam antara hela nafasku dan denyut bumi.
Kau bisikkan kata dari balik hijab cahaya:
“Cinta bukan memiliki, tapi lenyap dalam yang Dicinta.”
Dan aku pun ingin lenyap,
seperti embun dalam tubuh fajar,
seperti burung yang menyelam ke dalam dada angin,
seperti puisi yang tak perlu lagi kata,
karena telah menjelma menjadi doa.
Aku rindu bisikan-Mu tentang rindu—
rindu yang tidak mengikat, tapi memerdekakan,
yang tidak meminta, tapi menyerahkan.
Yang tidak bersandar pada hadir-Mu,
tapi luluh dalam tidak adanya-Mu,
sebab bahkan kehilangan pun adalah bentuk terhalus dari kepemilikan.
Malam ini, angin tertidur di sajadah langit.
Aku mencium jejaknya di setiap detak diam,
dan semesta pun berdzikir perlahan:
> “Ia yang mencintai dengan fana,
akan dipeluk oleh yang Kekal.”
Sumatera Barat,2023.