May 10, 2026
umi ibu

Oleh Yusuf Achmad

Sudah kuingat ummi tertidur. Di kamarku di Nyamplungan. Sorot cinta, mata ummi mendesah halus, “Sayang, merindu.” “

Makanlah, ia sudah siap” Dibaringkan aku, lalu bekas itu terbaca tak lenyap. Tangan halus dimasuki kain. Membalut seluruh diri.

Ia sudah jadi. Bangun, lari, lalu daki puncak emas merah hati. Atau puncak duri bergerigi. Seperti burung yang terbang bebas di langit.

Hilangkan rasa dahaga. Kemudian warna-warni pelangi di hujan gerimis sendiri. Meski ummi ingin menjadi. Dan tak tahu itu kapan terjadi.

Kelak aku pasti menjemput ummi yang pulang duluan. Tapi aku adalah bayi di pelukan ummi waktu itu. Meninggalkan bayiku, ummi berkata, “Sudah jadi.” Meski sudah jadi atau masih satu lagi. Doaku untukmu sebagai bayi akan terus membumi. Duhai ummi rinduku terus mengalir hingga kini.

Surabaya, 23-7-2023