“Sakit dan Nyala Jiwa”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, FSM)
"Pain and the Flame of the Soul": A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)
/1/
Sakit dan Nyala Jiwa
Puisi Leni Marlina
Sakit mengetuk tubuhku,
seperti malam yang datang tanpa hujan,
hanya sunyi dan nyeri yang merasuk ke pori-pori,
mengajakku bercengkrama,
dengan nasib yang ditakdirkan Ilahi,
aku tahu,
bagiku sakit bukan hukuman,
melainkan tangan lembut Sang Rabb,
yang meninggallan rahasia di tubuh dan jiwa ini.
Tubuh ini lemah dan fana,
tetapi sakit seperti api yang menyalakan jiwa,
menghanguskan debu dosa,
yang menempel di tubuh, dan yang tersembunyi di dalamnya,
rasa nyeri di sakit ini,
seperti malaikat kecil,
menyapu noda dalam diri,
berharap meninggalkan hati yang jernih,
berkilau seperti fajar setelah badai berlalu.
Aku memanggil sakit dengan nama rahmat,
sebab ia mengajariku
bahwa luka adalah tempat di mana Tuhan,
menitipkan hikmah yang tak tertulis,
sakit menggugurkan daun-daun hidupku yang mungkin egois,
seperti pohon di musim gugur,
agar aku kembali kepada akar,
menyentuh tanah tempat aku bersujud dan menangis.
Padang, Sumbar, 2019
<2>
Ketika Sakit Ini Pergi
Puisi Leni Marlina
Wahai sakit,
jika kau adalah duta dari Tuhanku,
maka jadilah tamuku yang mulia,
bakarlah aku sampai hanya tertinggal jiwa,
dan hati yang bersih dari abu dunia.
Dan ketika malam terasa tak berujung,
aku merasa
dalam gelap sakit ini,
ada cahaya sehat yang tengah memelukku,
tarikan napas beratku
menjelama zikir tersembunyi,
tetes keringatku seolah menjadi wudhu,
yang mencuci ketakutanku akan takdir-Mu.
Sakit bagiku bukanlah akhir,
ia membuka pintu-pintu dalam diriku,
yang sebelumnya tertutup oleh dunia,
dan di balik pintu terakhir,
aku temukan nama-Nya, Tuhan Yang Maha Sempurna.
Maka, ketika sakit ini pergi,
tingallah aku dengan diriku yang baru,
bukan lagi hanya sebatang tubuh,
tetapi hati yang telah menemui Rabb-nya,
bersiap untuk menjadi insan,
yang lebih baik untuk sesama.
Padang, Sumbar, 2019
/3/
Sakit dan Jerat Dunia’
Puisi Leni Marlina
Sakit ini datang bukan untuk membunuhku,
tetapi untuk merobohkan tembok-tembokku,
menjadikan tubuhku reruntuhan,
di mana cahaya pertama kali menemukan jalan.
Sakit ini bukan musuh,
melainkan arsitek sunyi,
yang membawa palu kepada benteng egoku,
membangun namaku di udara,
hingga aku hanya tinggal gema,
yang bergema kembali pada-Nya,
denyut nyeri laksana langkah,
menuntunku mendaki jalan sempit,
di mana tubuhku menjadi debu,
namun jiwaku, oh, jiwaku,
terbang seperti burung yang tak lagi takut
pada jerat dunia.
Sakit itu mencungkil kemewahan daging,
untuk menyingkap logam murni di dalamku,
menempa tulang-tulangku menjadi doa,
dan urat-uratku menjadi untaian zikir.
Aku memanggil sakit ini luka,
namun ia katakan dirinya adalah,
cahaya ketukan pada pintu jiwa,
yang aku biarkan tertutup terlalu lama.
Malamku panjang,
penuh hujan air mata,
tapi sakit itu menjelma payung asa,
meneduhkan jiwaku dari banjir putus asa.
Dan ketika sakit ini pergi,
tinggalkanlah aku,
seperti sungai yang mengalirkan hidup
ke tanah yang pernah gersang,
aku bukan lagi manusia yang sama—
aku adalah luka yang telah menjadi pintu,
dan di balik pintu itu,
aku temukan surga kecil sementara di dunia.
Padang, Sumbar, 2019
/4/
Sakit yang Menyelinap Seperti Angin
Puisi Leni Marlina
Sakit menyelinap seperti angin,
yang mengetuk pintu tubuhku,
menghembuskan sunyi yang menusuk tulang,
ia tidak datang sebagai musuh,
melainkan sebagai nyala,
yang membakar kesal, kecewa, sedih dan luka,
agar aku mengerti apa yang yang lebih berharga.
Tubuh ini—
sebuah kanvas yang tak sempurna,
dicat dengan nyeri yang menjelma warna-warna purba,
hitam arang, merah luka, putih keikhlasan,
hingga aku melihat diriku,
bukan sebagai daging fana,
melainkan puisi yang penuh air mata dan asa.
Detak jantungku bagaikan irama,
memukul genderang yang menggema,
ke dalam ruang jiwaku yang sunyi,
menghapus peta dunia yang kulukis sendiri,
menggantikannya dengan jalan menuju cahaya-Nya.
Sakit meretakkan cangkang dunia yang selalu kukejar,
dan dari celahnya,
tumbuh pohon doa
dengan akar yang merambat ke langit,
meminum hujan rahmat kasih-Nya.
Apakah sakit ini hukuman atau anugerah?
atau isyarat halus yang mengalir di nadi,
untuk lebih dekat dengan
Tuhan Sang Maha Pencipta?
Jika sakit adalah malam tanpa akhir,
aku yakin di ujung kegelapan itu,
ada pagi yang menunggu,
bukan sekadar pagi dunia,
tetapi fajar yang membangunkan jiwa
dari mimpi fana,
membawa aku pulang ke dalam ridho-Nya.
Palang, Sumbar, 2019
—————————————
Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2019. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni Marlina merupakan anggota penulis SATU PENA Sumbar, Kreator Sumbar Era AI, Forum Siti Manggopoh. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)