May 10, 2026

Dunia di Ambang Konflik Global, Prabowo Ingatkan Indonesia: Tak Ingin Perang, Tapi Wajib Siap Menghadapinya

prabowo

Laporan Bruno Rumyaru

Ketegangan geopolitik global yang kian meningkat menjadi perhatian serius Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang mempertemukan pejabat pemerintah pusat dan daerah, TNI, serta Polri di Sentul, Bogor, Senin, 2 Februari 2026, Presiden menyampaikan pandangan strategisnya mengenai dinamika politik internasional yang dinilai semakin tidak stabil dan berpotensi menyeret dunia ke arah konflik besar, termasuk kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga.

Sumber Youtube: TV One

Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa dunia saat ini tidak berada dalam kondisi ideal sebagaimana sering digambarkan dalam wacana demokrasi dan hak asasi manusia. Menurutnya, praktik politik global justru menunjukkan paradoks besar: negara-negara kuat kerap melanggar prinsip yang mereka ajarkan kepada negara lain. Konflik bersenjata di berbagai kawasan dunia, yang menelan korban sipil dalam jumlah besar, menjadi bukti bahwa hukum internasional sering kali tunduk pada kepentingan kekuasaan.

Presiden mengingatkan seluruh jajaran pemerintahan agar tidak bersikap naif dalam membaca realitas global. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki pengalaman sejarah panjang sebagai bangsa yang pernah dijajah dan diintervensi selama ratusan tahun. Dari pengalaman itulah, bangsa Indonesia seharusnya belajar bahwa kedaulatan tidak pernah diberikan secara cuma-cuma, melainkan harus dijaga dengan kesadaran, kekuatan, dan kesiapan nasional.

Dalam konteks tersebut, Prabowo mengutip kembali pesan Presiden pertama RI, Soekarno, tentang pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Ia menegaskan bahwa tidak ada negara lain yang akan sepenuhnya menolong Indonesia jika kedaulatannya terancam. Prinsip kemandirian nasional, menurutnya, bukan sekadar slogan ideologis, tetapi fondasi realistis dalam menghadapi dunia yang diatur oleh logika kekuatan.

“Indonesia tidak menginginkan perang, tetapi sejarah dan realitas geopolitik mengajarkan bahwa bangsa yang tidak siap akan mudah ditekan,” tegas Prabowo. Ia menyebut kekayaan sumber daya alam Indonesia sebagai anugerah sekaligus potensi kerawanan. Kekayaan itulah yang sejak masa kolonial hingga kini terus menarik kepentingan eksternal, baik secara terbuka maupun terselubung.

Lebih jauh, Presiden menekankan bahwa kesiapan menghadapi kemungkinan konflik global tidak semata-mata dimaknai sebagai kesiapan militer. Kesiapan nasional mencakup ketahanan pangan, energi, ekonomi, tata kelola pemerintahan yang bersih, serta persatuan sosial dan politik. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, negara yang rapuh secara internal akan mudah goyah oleh tekanan eksternal.

Prabowo juga meminta para kepala daerah dan pimpinan institusi negara untuk menjaga stabilitas dalam negeri serta memastikan keberlanjutan program-program strategis nasional. Ia menilai bahwa pembangunan nasional dan pertahanan negara adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Negara yang kuat secara ekonomi dan berdaulat dalam pengelolaan sumber dayanya akan memiliki posisi tawar lebih baik di panggung internasional.

Dalam pidatonya, Presiden kembali mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia direbut dengan darah, keringat, dan air mata. Oleh karena itu, tugas utama negara hari ini adalah memastikan pengorbanan tersebut tidak sia-sia. Pemerintah, kata Prabowo, harus hadir sebagai pengabdi rakyat, bukan sekadar pengelola kekuasaan.

Pemaparan Presiden, mencerminkan perubahan paradigma dalam melihat politik internasional: dari pendekatan normatif menuju pendekatan realistis yang berakar pada sejarah dan kepentingan nasional. Di tengah dunia yang semakin multipolar dan penuh konflik, Indonesia diharapkan mampu menjaga prinsip perdamaian tanpa mengabaikan kesiapan menghadapi skenario terburuk.

Dengan pesan “tidak ingin perang, tetapi harus siap menghadapi perang”, Prabowo menegaskan arah kebijakan nasional yang menempatkan kedaulatan, kemandirian, dan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama di tengah bayang-bayang ketidakpastian global.