April 19, 2026
rizal3

Rizal Tanjung| Sastrawan dan Budayawan Sumatera Barat

malam selalu tahu
siapa aku
lebih jujur
daripada siang
yang sibuk berpura-pura bernama terang

di malam
pikiran tidak tidur
ia duduk di sudut kepala
menghisap kegagalan
dan memanggil namamu
seperti doa
yang sengaja tidak sampai

kau datang
bukan sebagai cahaya
melainkan sebagai celah
tempat semua keyakinanku bocor

“aku menginginkanmu”
kalimat itu
bukan rayuan
bukan janji
ia palu
yang memecah tembok moral
yang kubangun
untuk terlihat selamat

sejak itu
aku berhenti bertanya
benar atau salah
karena hasrat
tidak pernah belajar etika
ia hanya belajar
bagaimana berdenyut

aku berjalan
dan bayanganmu
lebih setia
daripada imanku sendiri

kau tinggal
di kaca jendela
di punggung angin
di sela lagu
yang tidak pernah selesai
bahkan di doa
yang kini kehilangan alamat

jika ini penyembahan
biarlah
aku tidak suci

cinta tidak mengetuk
ia merembes
seperti air kotor
menuju muara
dari segala retak
yang kusembunyikan

aku tidak melawan
aku membuka

karena hidup yang terlalu rapi
membunuh perlahan
tanpa darah
tanpa saksi

kau adalah api
dan aku rumah
yang sengaja lupa
cara menyelamatkan diri

aku tahu
ini akan berakhir abu

namun membeku
dalam kewarasan
terasa lebih menakutkan
daripada habis terbakar

kau menatapku
tanpa simpati

kau tahu
aku bukan korban
aku pelaku
yang sadar
dan tetap memilih

itulah sebabnya
aku mencintaimu
dan membencimu
dalam takaran yang sama

aku berlari
bukan untuk pergi
melainkan menunda
pengakuan

namun di setiap tujuan
kebenaran sudah menunggu:
aku ingin runtuh
bersamamu

tubuhmu
bukan tempat pulang
melainkan medan perang
tempat luka
belajar bernapas

kami bertabrakan
dan menamainya takdir
agar tak perlu
bertanggung jawab

dua cangkir kopi
cukup untuk membuatku paham
bahwa setelah ini
keutuhan
hanya cerita penghibur
orang-orang yang takut pecah

kau adalah racun
dan aku menegukmu
tanpa paksaan

karena kehampaan
lebih mematikan
daripada overdosis cinta

aku cemburu
bukan karena takut kehilanganmu
melainkan karena takut
aku belum cukup rusak
untuk layak kau pilih

kami saling melukai
dan menyebutnya kedalaman

jika ini salah
biarlah
salah yang setia

karena luka yang jujur
lebih bernilai
daripada cinta
yang sopan dan palsu

kami tahu akhirnya
namun tetap tinggal

ini bukan kebodohan
ini keputusan eksistensial:
hidup sepenuhnya
atau tidak sama sekali

kami berdiri di tepi jurang
dan tertawa

ketakutan
sudah kehilangan fungsi
bagi mereka
yang tak lagi punya
alasan untuk selamat

akal menyarankan mundur
aku menertawakannya

kewarasan sering kali
hanyalah ketakutan
yang menyamar sebagai nasihat

kami diam
dan diam itu
lebih melukai
daripada teriakan

waktu mempermainkan kami
mengulang kesalahan
dengan wajah baru

takdir
hanyalah nama indah
untuk luka
yang sengaja kami rawat

“aku bahagia tanpamu”
adalah perban tipis
di atas luka
yang terus bernapas

“ayo pergi”

bukan menuju keselamatan
melainkan menuju
kejujuran terakhir

jika fajar datang
ia tidak menebus apa pun

ia hanya menyingkap
pilihan yang kami buat
dalam gelap

cinta
bukan jalan keluar

ia adalah muara
tempat semua retak
akhirnya berkumpul
tanpa dusta

dan jika harus memilih lagi
aku akan memilihmu
sekali lagi

bahkan jika Tuhan
menyebutnya dosa

bahkan jika ini
adalah
permulaan
dari akhir


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.