MUARA DARI SEGALA RETAK
Rizal Tanjung| Sastrawan dan Budayawan Sumatera Barat
–
malam selalu tahu
siapa aku
lebih jujur
daripada siang
yang sibuk berpura-pura bernama terang
di malam
pikiran tidak tidur
ia duduk di sudut kepala
menghisap kegagalan
dan memanggil namamu
seperti doa
yang sengaja tidak sampai
kau datang
bukan sebagai cahaya
melainkan sebagai celah
tempat semua keyakinanku bocor
“aku menginginkanmu”
kalimat itu
bukan rayuan
bukan janji
ia palu
yang memecah tembok moral
yang kubangun
untuk terlihat selamat
sejak itu
aku berhenti bertanya
benar atau salah
karena hasrat
tidak pernah belajar etika
ia hanya belajar
bagaimana berdenyut
aku berjalan
dan bayanganmu
lebih setia
daripada imanku sendiri
kau tinggal
di kaca jendela
di punggung angin
di sela lagu
yang tidak pernah selesai
bahkan di doa
yang kini kehilangan alamat
jika ini penyembahan
biarlah
aku tidak suci
cinta tidak mengetuk
ia merembes
seperti air kotor
menuju muara
dari segala retak
yang kusembunyikan
aku tidak melawan
aku membuka
karena hidup yang terlalu rapi
membunuh perlahan
tanpa darah
tanpa saksi
kau adalah api
dan aku rumah
yang sengaja lupa
cara menyelamatkan diri
aku tahu
ini akan berakhir abu
namun membeku
dalam kewarasan
terasa lebih menakutkan
daripada habis terbakar
kau menatapku
tanpa simpati
kau tahu
aku bukan korban
aku pelaku
yang sadar
dan tetap memilih
itulah sebabnya
aku mencintaimu
dan membencimu
dalam takaran yang sama
aku berlari
bukan untuk pergi
melainkan menunda
pengakuan
namun di setiap tujuan
kebenaran sudah menunggu:
aku ingin runtuh
bersamamu
tubuhmu
bukan tempat pulang
melainkan medan perang
tempat luka
belajar bernapas
kami bertabrakan
dan menamainya takdir
agar tak perlu
bertanggung jawab
dua cangkir kopi
cukup untuk membuatku paham
bahwa setelah ini
keutuhan
hanya cerita penghibur
orang-orang yang takut pecah
kau adalah racun
dan aku menegukmu
tanpa paksaan
karena kehampaan
lebih mematikan
daripada overdosis cinta
aku cemburu
bukan karena takut kehilanganmu
melainkan karena takut
aku belum cukup rusak
untuk layak kau pilih
kami saling melukai
dan menyebutnya kedalaman
jika ini salah
biarlah
salah yang setia
karena luka yang jujur
lebih bernilai
daripada cinta
yang sopan dan palsu
kami tahu akhirnya
namun tetap tinggal
ini bukan kebodohan
ini keputusan eksistensial:
hidup sepenuhnya
atau tidak sama sekali
kami berdiri di tepi jurang
dan tertawa
ketakutan
sudah kehilangan fungsi
bagi mereka
yang tak lagi punya
alasan untuk selamat
akal menyarankan mundur
aku menertawakannya
kewarasan sering kali
hanyalah ketakutan
yang menyamar sebagai nasihat
kami diam
dan diam itu
lebih melukai
daripada teriakan
waktu mempermainkan kami
mengulang kesalahan
dengan wajah baru
takdir
hanyalah nama indah
untuk luka
yang sengaja kami rawat
“aku bahagia tanpamu”
adalah perban tipis
di atas luka
yang terus bernapas
“ayo pergi”
bukan menuju keselamatan
melainkan menuju
kejujuran terakhir
jika fajar datang
ia tidak menebus apa pun
ia hanya menyingkap
pilihan yang kami buat
dalam gelap
cinta
bukan jalan keluar
ia adalah muara
tempat semua retak
akhirnya berkumpul
tanpa dusta
dan jika harus memilih lagi
aku akan memilihmu
sekali lagi
bahkan jika Tuhan
menyebutnya dosa
bahkan jika ini
adalah
permulaan
dari akhir
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.