May 25, 2026

Cahaya dari Batang Kabung : Biografi Ruhani Syekh H. Salif Tuanku Sutan Ulama Penjaga Ilmu, Waktu, dan Warisan Surau

Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

Kepala MAN Kota Sawahlunto, Alumni PPMTI Batang Kabung, dan Mahasiswa Program Doktoral Study Islam UM Sumbar

Setiap zaman melahirkan cahaya.

Ada cahaya yang bersinar sesaat, dan ada pula yang menerangi lintasan sejarah umat.

Dari tepian Batang Kabung, di tanah yang subur dengan surau dan adab, hadir seorang ulama yang menghidupkan ilmu dengan keikhlasan dan memimpin dengan kesantunan: Syekh Haji Salif Tuanku Sutan, atau yang penuh kasih disapa Angku Batang Kabung.

Beliau bukan sekadar pendiri lembaga pendidikan, melainkan penyambung sanad ruhani dan keilmuan Minangkabau, pengawal mazhab Syafi’i, dan pengamal tarekat Syathariyah yang lembut, teduh, serta berwawasan jauh ke depan.

Akar Ilmu dan Silsilah Ruhani

 

Syekh H. Salif Tuanku Sutan menempuh perjalanan ilmunya dalam tradisi surau, tempat di mana generasi Minang belajar bukan hanya tentang ayat dan hadis, tetapi juga tentang akhlak, hikmah, dan tata jiwa.

Beliau berguru kepada Syekh. H. Ibrahim, Angku Lunak, Tuanku Djuni, Angku Talawi, Syekh Sulaiman ar-Rasuli, atau Inyiak Canduang, tokoh besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) organisasi ulama Minangkabau yang memadukan pendidikan tradisional dengan sistem kelembagaan modern.

Dari gurunya itu, Syekh Salif mewarisi dua hal besar: keteguhan dalam akidah dan kelenturan dalam dakwah. Ia memahami bahwa zaman boleh berubah, tapi ruh keilmuan harus tetap berpijak pada Al-Qur’an, hadis, dan khazanah ulama salaf.

Dari Surau Gadang ke Pesantren: Menyalakan Lentera Batang Kabung

Tahun 1955 menjadi babak awal berdirinya Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung, Padang, di bawah kepemimpinan beliau bersama Syekh Imam Maulana.

Berawal dari Surau Gadang Darus Salikin, pengajian duduk bersila berkembang menjadi lembaga pendidikan yang terstruktur.

Metode halaqah dan mudzakarah masih dipertahankan, namun mulai disinergikan dengan sistem pendidikan formal. Inilah langkah monumental Syekh Salif transformasi dari surau tradisional ke madrasah modern, tanpa meninggalkan ruh keikhlasan dan kesederhanaan yang menjadi jiwa pendidikan Islam Minangkabau.

Pesantren ini menjadi pelopor dalam menjaga ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah mazhab Syafi’i dan membumikan nilai-nilai tasawuf amali melalui pengajaran tarekat Syathariyah, sehingga peserta didik bukan hanya cerdas dalam akal, tetapi juga halus dalam budi.

Spirit Tarekat dan Keilmuan

Syekh Salif dikenal sebagai faqih yang sufi, dan sufi yang faqih.

Ia meyakini bahwa ilmu tanpa adab adalah bara tanpa cahaya, dan ibadah tanpa ilmu adalah langkah tanpa arah.

Dalam setiap majelisnya, beliau menekankan keseimbangan antara syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Tarekat Syathariyah yang diamalkannya bukan sekadar ritual zikir, melainkan jalan penyucian diri menuju kedekatan dengan Allah.

Beliau mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa puncak ilmu bukan pada banyaknya kitab yang dibaca, tetapi pada dalamnya makna yang dihayati.

Tradisi ini menjadikan PPMTI Batang Kabung bukan sekadar pesantren, tetapi pusat pembinaan ruhani dan intelektual yang melahirkan generasi berilmu dan beradab.

Kepemimpinan dan Regenerasi

Sepanjang hayatnya, Syekh H. Salif Tuanku Sutan dikenal sebagai pemimpin yang zuhud dan tegas dalam prinsip.

Beliau bukan hanya mengajarkan, tetapi meneladankan. Dalam setiap pengajian, beliau hadir di tengah santri seperti ayah di tengah anak-anaknya lembut, tetapi penuh wibawa.

Setelah beliau wafat pada 9 Mei 1998, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh para khalifahnya:

Buya H. Jamaris Tuanku Mudo,

Buya H. Idris Tuanku Mudo,

dan Buya Mahyuddin Salif Tuanku Sutan, putra beliau, yang meneruskan estafet ilmu dan pengabdian.

Di bawah kepemimpinan mereka, PPMTI terus berkembang sebagai pesantren tertua dan berpengaruh di Kota Padang, menampung santri dari berbagai penjuru Sumatera Barat dan Nusantara.

Warisan Abadi dan Jejak yang Tak Hilang

Warisan terbesar Syekh Salif bukan hanya bangunan pesantren, tetapi jiwa keilmuan yang hidup dalam hati murid-muridnya.

Ratusan alumni PPMTI kini menjadi guru, ulama, dan tokoh masyarakat yang menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Dalam pandangan para muridnya, beliau adalah ulama yang tidak mengejar nama, tetapi menanam makna. Ia menenun generasi yang bukan hanya mampu membaca kitab, tetapi juga mampu membaca zaman.

Warisan spiritualnya masih terasa dalam kalimat-kalimat hikmah yang terus dikutip oleh para pengajar PPMTI hingga kini:

”Belajarlah bukan untuk menjadi tinggi, tapi untuk menjadi terang. Karena ilmu yang bercahaya akan membimbing, bukan membakar.”

Cahaya yang Tak Pernah Padam

Lebih dari setengah abad setelah didirikan, PPMTI Batang Kabung tetap berdiri kokoh menjadi saksi bahwa ikhlas dan ilmu adalah fondasi yang tak lekang oleh waktu.

Nama Syekh H. Salif Tuanku Sutan kini menjadi bagian dari sejarah peradaban Islam Minangkabau, sejajar dengan tokoh-tokoh PERTI lain seperti Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas, dan Syekh Muhammad Jamil Jaho.

Dan setiap kali azan berkumandang di langit Batang Kabung, gema takbir itu seakan mengulang kembali doa-doa beliau doa seorang guru yang menjadikan ilmu sebagai ibadah,

dan menjadikan pesantren sebagai taman zikir dan pikir.

Cahaya itu belum padam. Ia hidup dalam santri yang menulis, dalam guru yang mengajar, dan dalam umat yang terus mencari kebenaran.

Syekh H. Salif Tuanku Sutan sang penjaga ilmu dan zaman, pewaris hikmah yang menyalakan hati umat.

Ditulis dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025