ELEGIT VIRTUAL
Karya : Eka Teresia
–
Cermin di rumah bukan lagi satu-satunya saksi. Kini, wajah kita memantul di ribuan layar, pecahan identitas tersebar di linimasa yang tak berujung. Siapa kita? Pertanyaan itu dibisikkan dalam tagar, dicari jawabannya di setiap “like” yang datang.
Jiwa terasa seperti cache yang harus dibersihkan berkala. Kenangan dibingkai dengan filter, sejarah direvisi cepat. Teks-teks kuno berganti meme yang menghibur sekejap. Kita hidup dalam hening yang bising; dikelilingi koneksi, tapi kesendirian itu berakar di ruang obrolan.
Generasi ini adalah penjelajah tanpa peta kertas. Laut adalah browser, kompas adalah algoritma yang cerdas. Mereka menambang kebenaran dari tumpukan feed, membuat kuil dari influencer dan patung dari konten. Namun di bawah kilau piksel, ada kekosongan yang meluas.
Mereka mencari makna dalam scroll yang tak putus, lupa bahwa makna sejati seringkali tersembunyi di antara halaman buku yang berdebu, atau dalam percakapan lisan yang lambat dan jujur.
Cinta bukan lagi tatapan mata yang lama dan basah. Ia kini adalah ikon hati berwarna merah terang, atau pesan terenkripsi yang dihapus setelah dibaca. Kebajikan adalah donasi online dengan bukti tangkap layar. Semua diukur, dianalisis, dipertunjukkan.
Bahkan penderitaan pun harus estetik, harus viral. Sebab jika ia tak terekam, ia dianggap tak pernah terjadi. Kehidupan menjadi panggung yang tak pernah gelap, di mana kita semua adalah aktor yang berjuang keras mempertahankan peran yang tak sesuai dengan hati.
Namun, ketika baterai ponsel meredup, ketika sinyal hilang dan layar menjadi hitam pekat, tiba-tiba muncul suara yang terpendam. Ia adalah suara alam bawah sadar, asli, tak tersunting. Ia bicara tentang ketakutan yang tak bisa di-mute. Ia bicara tentang harapan yang tak perlu upgrade.
Ia mengingatkan: tubuh ini nyata. Tangan ini memegang bumi, kaki ini memijak pasir. Bukan kode biner yang menyusun tulang dan darah, tapi air dan waktu, warisan dari bintang yang jauh.
Di tengah noise global yang memekakkan, sang pemuda menekan tombol power off. Dunia maya lenyap, tinggal ruang yang sesungguhnya. Di sana, ia menemukan lagi kedalaman yang hilang; bahwa diri sejati bukan hasil dari profiling data, melainkan misteri yang harus diterima dan dicintai.
Ia adalah human error yang indah, sebuah sistem yang memilih untuk tidak selalu efisien, sebab di balik data, ada jiwa yang menolak di-download, hanya bisa dirasakan, dalam keheningan setelah layar mati.
Padang ,29 Oktober 2025