May 10, 2026

Emas, Minyak Bumi dan Sawit, Permainan Lama yang Berulang

90af2316-ef5d-4850-ba52-43a57cdaf538

Alex Runggeary: Anggota Penulis Satupena

Alex Runggeary| Penulis

Ketika saya coba mengikuti tes IQ yang diposting di Facebook saya diminta bayar agar mereka (penyelenggara) mengirim hasil lengkapnya berapa sesungguhnya tingkat IQ saya. Saya tidak mengirim uang karena memang tujuan saya hanya iseng lagian saya tidak punya uang untuk itu.

Namun mereka memberikan feedback pada setiap tahapan tes. Mereka memuji saya dalam hal membaca pola . Katanya saya termasuk dari sedikit orang yang mampu membaca pola yang berulang dengan benar.

Saya teringat sewaktu tes untuk mengikuti pendidikan ke luar negeri. Saya harus dua kali tes. Tes pertama gagal. Tetapi tes kedua saya sudah hapal gerak pola. Tes yang mirip dimiliki Trakindo untuk tes masuk karyawannya.

 

Saya baru menyadari belakangan setelah mengikuti tulisan Balqis Humaira yang sangat mahir membaca pola yang dituangkan pada tulisannya. Ia menganalisa berbagai isu yang berkembang dalam masyarakat. Ia menekankan analisanya pada pola yang berulang itu.

Artinya kita yang kuat dalam membaca pola seharusnya memberikan pemahaman lebih baik terhadap peristiwa yang berpola

Katakan saja peristiwa dunia yang menghebohkan yaitu penyergapan dan penangkapan Presiden Venuzuela Antonio Maduro oleh pasukan khusus AS Delta Force sesungguhnya adalah untuk menguasai wilayah yang kaya minyak bumi tersebut. Itu diakui oleh Presiden Trump

Peristiwa yang mirip terjadi di Papua pada masa ketika Sukarno digulingkan. [Baca tulisan saya Operasi Sideways Dalam Dunia Intelijen ] Inti tulisan itu adalah ketika Allen Dulles sebagai penasehat keamanan AS kepada Presiden John F Kennedy berniat menyingkirkan Sukarno karena jiwa nasiomalisnya akan menghalangi Freeport masuk ke Papua untuk menambang emas dan tembaga yang menurut President Trump hari ini, “They have the best copper on earth”

Namun secara bersamaan Allen juga berhadapan dengan presidennya sendiri John F Kennedy yang justru membela Sukarno karena mereka bersahabat sejak 1961. Bahkan berniat memberikan bantuan ekonomi kepada Indonesia saat nanti berkunjung ke Jakarta. Secara sangat mengejutkan dan tragis ia tertembak mati di Dalas Texas 21 November 1963 dalam iring-iringan mobil kepresidenan di sana, dua minggu sebelum rencana kunjungannya ke Indonesia

Akhir tragis ini membuka ruang kepada Allen untuk menyingkirkan Sukarno. Maka Sukarnopun tersingkir dari kekuasaannya dan diserahkan ke Suharto pada 22 Februari 1967. Pintu masuk CIA kemungkinannya ada dua yang saling mendukung dan melengkapi. Biasanya upaya intelijen masuk di sela keretakan satu sistem Untuk kasus Sukarno sela itu bisa jadi ketika Suharto dikirim mengikuti pendidikan di Pusat Pendidikan Angkaran Darat atas rekomendasi Jenderal Gatof Subroto mengingat ia akan dipecat oleh Achmad Yani dan Jenderal Nasution. Bahkan ia ditempeleng Yani gara-gara Suharto ketika menjabat komandan di Semarang bekerjasama dengan Bob Hasan menyelundupkan beras ditukar dengan gula.

Sewaktu mengikuti pendidikan inilah ia bertemu dengan aset CIA di Indonesia seorang kolonel, sebagaimana yang ditelusuri Greg Poulgrain dalam bukunya The Incubus of Intervention Di Pusat Pendidikan ini. Ini satu titik strategis yang memungkinkan sang kolonel untuk bertemu dengan siapapun yang berpotensi bekerjasama.

Selain tempelengan Yani yang berkesan itu, _keretakan lain adalah perbedaan pandangan yang tajam antara Angkatan Darat dan PKI. Dan Sukarno sebagai presiden tidak bertindak tegas. Kekrisuhan ini berujung pada tuduhan PKI bahwa sebagian perwira AD akan melakukan kudeta dan karenanya terjadi *Peristiwa G30S/PKI, awal dari kejatuhan Sukarno

11 Maret 1966 keluar Supersemar. 22 Februari 1967 penyerahan kekuasaan dari Sukarno ke Suharto. 7 April 1967 Freeport mendatangani Kontrak Karya Pertama untuk menambang di Grasberg Papua. Hanya empat hari selisihnya setelah UU Penanaman Modal Asing disahkan DPR dan sebelum Papua secara sah menjadi bagian Indonesia pada PEPERA -Penentuan Pendapat Rakyat – 1969 [Baca: The Darkened Valley Alex Runggeary, Orbit Indonesia 2017, bagaimana Indonesia melakukan kecurangan]

Mengapa Indonesia berani ? Karena dijamin Amerika. Ini pula alasannya mengapa PEPERA sukses walau banyak keanehan.

Maka petaka lain datang tepat waktunya ketika banjir bandang menimpa Aceh dan Sumatra. 1.182 orang meninggal, banyak desa yang tenggelam banyut bersama lumpur dan gelondongan kayu berlimpah ruah. Semua orang kaget dan terpukul.

Kata seorang driver Grab, “Desa-desa itu dan penduduknya telah ada di sana jauh sebelum ada negara. Bahkan hujan dan banjir airpun telah melewati desa-desa itu berabad lamanya. Namun baru kali ini ada banjir lumpur dan gelondongan kayu. Apa artinya ? Artinya pemerintah telah salah memberikan izin menebang pohon-pohon itu dan menggantikannya dengan sawit Dan akibatnya mengerikan ! Pemerintah harus ikut bertanggung jawab dalam hal ini” Ketajaman analisa seorang driver grab yang jauh melebihi para profesor perguruan tinggi yang karena takut kehilangan rezekinya analisa mereka menjadi tumpul

Pada kondisi inilah pada 16 Desember 2025 Presiden Prabowo di depan enam Gubernur, 42 Bupati/Walikota serta 10 pejabat Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua memberi perintah agar Papua siap untuk menanam sawit sebagai bagian program swasembada BBM dari minyak sawit

Saya mengikuti dengan cermat tulisan di fb tentang hal ini. Juga menyaksikan videonya. Timbul pertanyaan dalam benak saya, apa sesungguhnya ada dalam benak Presiden ketika memerintahkan program sawit di Papua sementara Sumatra dan Aceh masih bergelimang di tengah musibah alam yang maha dahsyat akibat hutan alami yang digantikan dengan sawit

Yang keluar dari benak saya adalah prakarsa ini bukanlah satu kebetulan belaka. Melainkan mungkin telah terjadi diskusi jauh sebelum bencana Sumatra dan Aceh. Bahkan jauh sebelum Haji Isam mendatangkan 2000 eksavator dari Cina. Telah terjadi transaksi balas budi dan memenuhi janji-janji sebelumnya.

Itulah mengapa menukar sawit dengan hutan Papua yang nota bene mengorbankan rakyat sendiri rakyat Papua yang peramu () itu adalah *keputusan yang setimpal dan break even atau impas antara pengorbanan rakyat dan hutannya dengan hasil BBM Sawit serta juga sebagai imbalan kerjasama bisnis dan politik yang baik dengan pihak swasta. Tetapi apakah benar tidak ada yang dirugikan? Saya ragu, melihat kasus Bencana Sumatra dan Aceh

Tetapi itulah pola yang terulang pada kasus Tambang Emas Freeport, Minyak Bumi Venezuela dan kini berulang pada Kelapa Sawit Papua yaitu bagaimana negara mendukung investasi swasta secara penuh dengan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai hasil maksimal dan rakyat hanya menjadi tumbal belaka ?
————————
12 Januari 2026

_Dr. Boolars membagi penduduk Papua dalam dua kategori: Pentani dan Peramu. Petani adalah mereka ysng mencari makan dengan pola menanam, menunggu kemudian baru memanen. Mereka ini cenderung rajin. Mereka ini dari Suku Dani dan sekitarnya, Suku Me dari Paniai dan Suku Ayamaru. Sedangkan penduduk Papua lainnya adalah penduduk yang mencari makan sebagai Peramu Tinggal mengambil dari Alam. Karenanya mereka ini cenderung malas