April 23, 2026

Esei Puitis-Filosofis: “Kesombongan di Tengah Kekosongan”

Oleh: Rizal Tanjung

Ada sebuah ironi yang tak lekang di tubuh kemanusiaan: kita memuja retakan-retakan pengetahuan kita sendiri, seolah-olah celah itu adalah karya seni agung yang patut dipamerkan di ruang pameran langit. Kita berfoto di sampingnya, tersenyum, dan berkata, “Inilah aku, lihatlah kebesaranku!” Padahal kebesaran itu rapuh, seperti menara pasir di tepi pantai yang menunggu pasang untuk meruntuhkannya.

Tidak ada manusia yang benar-benar tahu segalanya. Kita adalah pengembara di rimba semesta, membawa kompas yang hanya menunjukkan satu arah, sementara ratusan arah lainnya bersembunyi di balik kabut. Kita menyalakan obor kecil di tengah hutan, dan karena nyalanya menyinari wajah kita sendiri, kita mengira telah menerangi seluruh bumi.

Di setiap persimpangan hidup, kita membawa peta yang tak lengkap. Seorang ilmuwan bisa memecahkan rahasia gerak planet, tetapi tak paham cara menenun sehelai kain. Seorang pujangga mampu memanggil air mata dari pembaca, tetapi mungkin tak tahu bagaimana memperbaiki keran yang bocor. Seorang nelayan bisa membaca arah angin di laut dengan mata tertutup, tetapi gagap membaca kontrak hukum di atas meja notaris.

Namun anehnya, di tengah ketidaksempurnaan ini, ada manusia yang memahat singgasananya dari ketidaktahuan—dan duduk di atasnya seperti raja yang baru menaklukkan negeri. Ia mengira tanah yang ia duduki adalah seluruh dunia, padahal ia hanya berdiri di sebuah pulau kecil di tengah samudra luas. Ia tidak sadar bahwa cakrawala itu terus menjauh, bahwa gelombang membawa berita dari negeri-negeri pengetahuan yang belum ia jamah.

Para Imam—dengan kebijaksanaan yang sederhana namun tajam—pernah berkata bahwa kita harus lebih rendah hati. Pengetahuan adalah jalinan yang tak bisa dimonopoli oleh satu tangan. Bayangkan sebuah kain besar: benang dari tukang besi, benang dari guru, benang dari petani, benang dari penyair, benang dari anak kecil yang belajar mengikat tali sepatu. Tidak ada satu pun yang sanggup menenun kain itu sendirian. Bahkan benang emas sekalipun akan tampak sia-sia jika tak bersatu dengan benang-benang lainnya.

Kesombongan manusia sering lahir dari kesempitan pandang. Kita memandang rendah kesalahan orang lain di wilayah yang kita kuasai, tanpa menyadari bahwa di medan lain, kita yang akan terlihat tak tahu arah. Kesombongan seperti ini ibarat burung gagak yang terbang di langit senja—ia bangga melihat bayangannya di permukaan air, padahal yang ia lihat hanyalah refleksi dari langit yang sedang meredup.

Ada sebuah kisah dari negeri jauh: seorang lelaki tua hidup di sebuah desa pegunungan. Ia mahir membuat pedang, dan semua orang datang kepadanya untuk memesan senjata terbaik. Suatu hari, ia tertawa ketika melihat seorang pemuda kesulitan memotong kayu. “Betapa bodohnya kau,” katanya, “bahkan menebang pohon pun tak becus.” Pemuda itu hanya tersenyum, lalu bertanya, “Pernahkah kau menanam pohon?” Lelaki tua itu terdiam. Sepanjang hidupnya, ia hanya tahu membuat pedang, tetapi tak pernah tahu bagaimana sebatang pohon tumbuh. Saat itu ia sadar—kehebatannya hanyalah sebilah mata pisau di tengah ladang pengetahuan yang luas.

Ketidaktahuan adalah udara yang kita hirup setiap hari. Ia tak terlihat, namun ada. Ia membentuk kita sama seperti pengetahuan membentuk kita. Menyangkal ketidaktahuan hanyalah menutup mata di tengah siang bolong; matahari tetap ada, bayangan tetap terbentuk, hanya saja kita enggan melihatnya.

Dunia akan lebih seimbang jika manusia mau berjalan dengan dua kaki: satu kaki di tanah yang sudah ia kuasai, satu kaki lagi di tanah yang belum ia pahami. Banggalah pada langkah yang pasti, tetapi jangan malu pada langkah yang ragu-ragu. Sebab langkah ragu adalah tanda bahwa kita sedang belajar, dan belajar adalah bentuk tertinggi dari kerendahan hati.

Kita harus berhenti memoles rongga kosong dalam bejana pengetahuan kita, lalu mengira itu penuh. Sebaliknya, kita harus mau menimba, mengisi, dan menyalurkan air pengetahuan kepada yang lain. Seorang pelaut tidak menjadi hebat hanya karena tahu arah angin, tetapi karena ia mau berbagi pengetahuannya kepada pelaut muda agar kapal mereka tidak karam. Seorang petani tidak disebut bijak hanya karena ia tahu kapan menanam, tetapi karena ia mau mengajarkan anak-anak desa cara mencium aroma tanah sebelum hujan.

Pada akhirnya, puncak pengetahuan bukanlah singgasana, melainkan jembatan. Jembatan yang menghubungkan pulau-pulau pengetahuan manusia, agar kita bisa berjalan dari satu ke yang lain, saling bertukar cerita, saling menolong, dan saling mengisi.

Kebesaran sejati bukanlah menguasai segalanya, tetapi memahami bahwa kita tidak akan pernah menguasai segalanya—dan dari sanalah kita mau merangkai tangan, menyatukan cahaya, hingga dunia tak lagi menjadi medan lomba kesombongan, melainkan taman besar di mana semua bunga pengetahuan bisa tumbuh bersama.

Sumatera Barat,2025