FENOMENOLOGI FIKSI SURAT UNTUK AYAH
oleh ReO Fiksiwan
–
“Ini adalah kisah pencariannya—baik secara emosional maupun harfiah—untuk menemukan ayahnya yang hilang. Untuk menemukan pria yang tanpanya ia tidak dapat menemukan dirinya sendiri…” — Mona Simpson(59), Novel Ayah yang Hilang(1991).
Seberapa parahkah, di dunia yang damai meskipun perang mengerikan telah merobek ikatan—ayah-anak; ibu-anak dan tentu saja keluarga—hubungan autentik dan saling menguntungkan di antara mereka?
Salah satu hal yang ditinjau, khususnya hubungan antara ayah dan anak melalui fiksi dari perspektif fenomena psikologis.
Sebagai disiplin ilmu baru dalam filsafat psikologi pada saat itu, apa yang ditawarkan MAW Brouwer(1921-1991) adalah cermin yang mencerminkan kompleksitas manusia di ruang keluarga.
Brouwer, yang dikenal sebagai kolumnis yang tajam dan humoris di harian Kompas, tidak hanya menulis tentang psikologi sebagai teori abstrak, tetapi menghidupkannya melalui pengalaman konkret.
Ia mengungkapkan bagaimana hubungan ayah-anak dapat menjadi sumber kehangatan sekaligus ancaman kehilangan autentik jika komunikasi gagal terjalin.
Dengan gaya sarkastik, ia sering mengejek absurditas peran ayah yang terlalu kaku, seolah-olah melupakan bahwa anak-anak bukanlah objek yang dapat dibentuk sesuka hati, melainkan subjek yang mencari makna mereka sendiri.
Sejak diterbitkan pada tahun 1985, Ayah dan Putranya: Sorotan Psikologi Phenomenologi (diterbitkan oleh Gramedia) — yang kemudian menjadi buku terpisah tentang filsafat fenomenologi — menyajikan analisis yang menekankan pengalaman sehari-hari sebagai pintu gerbang untuk memahami hubungan ayah-anak.
Brouwer mengajak pembaca untuk melihat bahwa konflik bukanlah tanda kegagalan, melainkan peluang untuk tumbuh ketika dikelola melalui komunikasi yang sehat.
Ia menyoroti bagaimana budaya Indonesia, dengan nilai-nilai tradisional dan norma-norma sosialnya, membantu membentuk dinamika keluarga.
Di sini, fenomenologi menjadi alat untuk mengeksplorasi makna pengalaman subjektif, sehingga hubungan ayah-anak tidak lagi dipandang sebagai data klinis, tetapi sebagai kisah manusia yang bernuansa.
Kekuatan buku ini terletak pada refleksi kritis Brouwer tentang peran keluarga. Ia menulis dengan humor yang getir, seolah mengingatkan bahwa ayah yang berusaha tampak bijaksana seringkali terlihat canggung di mata anak-anaknya.
Sarkasmenya tidak dimaksudkan untuk merendahkan, melainkan untuk membuka mata bahwa kematangan emosional tidak secara otomatis datang seiring bertambahnya usia atau gelar akademis.
Seorang lulusan perguruan tinggi baru-baru ini, misalnya, mungkin masih kekanak-kanakan, mudah terpancing emosi, dan bahkan menangis karena putus cinta.
Brouwer, kolumnis tajam di harian Kompas dan sebagai penulis yang memperkenalkan pendekatan psikologi fenomenologi dalam konteks Indonesia sejak 1970-an awal, akan mengejek fenomena ini dengan kalimat yang menyentuh: seorang lulusan yang bangga dengan gelarnya, tetapi terpuruk karena patah hati.
Humor semacam ini memperkuat pesan psikologis bahwa kematangan adalah proses panjang yang membutuhkan dukungan, bukan hanya tuntutan.
Dengan gaya yang tajam, reflektif, dan satir, Brouwer berhasil menghidupkan analisis psikologis fenomenologis.
Ia mengajak pembaca untuk menertawakan absurditas peran ayah, merenungkan kerapuhan komunikasi keluarga, dan menyadari bahwa hubungan ayah-anak merupakan cerminan dari kondisi sosial yang lebih luas.
Buku ini bukan hanya tentang psikologi, tetapi tentang keberanian untuk menghadapi realitas keluarga secara jujur, kritis, dan dengan kesadaran penuh akan kompleksitas manusia.
Fenomenologi fiksi Surat untuk Ayah dapat dibaca sebagai jembatan antara pengalaman sastra dan analisis psikologi fenomenologi.
Dikaitkan analisis M.A.W. Brouwer, melalui Ayah dan Putranya: Sorotan Psikologi Fenomenologi, menghidupkan refleksi serupa dalam konteks Indonesia.
Ia menekankan bahwa relasi ayah-anak adalah fenomena psikologis yang sarat makna, penuh kedekatan sekaligus ancaman kehilangan otentisitas bila komunikasi gagal.
Dengan humor dan sarkasme, Brouwer menertawakan absurditas ayah yang terlalu kaku, seakan lupa bahwa anak adalah subjek yang sedang mencari makna dirinya.
Fenomenologi di tangannya menjadi alat untuk menyingkap pengalaman sehari-hari, bukan sekadar teori abstrak.
Dalam Brief an den Vater, Franz Kafka(1883-1924) menulis dari sudut pandang dirinya sendiri sebagai anak yang merasa kecil, lemah, dan selalu berada di bawah bayang-bayang otoritas ayahnya.
Surat ini bukan sekadar curahan hati, melainkan analisis psikologis yang tajam tentang bagaimana dominasi ayah membentuk rasa takut, rasa bersalah, dan perasaan tidak pernah cukup dalam diri anak.
Kafka menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang kuat, kasar, dan penuh wibawa, tetapi sekaligus menakutkan dan menekan.
Akhirnya, dalam Brief an den Vater, Kafka menuliskan banyak bagian yang perlahan menyingkap keretakan relasi dengan ayahnya, Hermann Kafka.
Salah satu ungkapan yang muncul di bagian tengah surat, sebelum menuju penutup, berbunyi:
“Du hast mir vorgeworfen, ich sei gegen Dich, ich habe mich nie gegen Dich aufgelehnt, ich habe mich nur zurückgezogen.”
(“Engkau menuduhku melawanmu, padahal aku tidak pernah memberontak terhadapmu, aku hanya menarik diri.”).
Tulisan ini memperlihatkan bagaimana Kafka merasa terjebak dalam posisi defensif: ia tidak berani melawan ayahnya secara langsung, tetapi memilih mundur dan menjauh.
Justru sikap menarik diri itu yang semakin memperdalam jurang emosional antara ayah dan anak.
Kutipan berikut yang menandai keretakan adalah ketika Kafka menulis:
“Deine Größe drückte mich nieder; schon im Reden warst Du mir überlegen.”
(“Kebesaranmu menindihku; bahkan dalam berbicara engkau selalu lebih unggul dariku.”)
Di sini terlihat jelas bahwa Kafka merasa inferior, tidak pernah mampu berdiri sejajar dengan ayahnya, bahkan dalam hal sederhana seperti percakapan.
Relasi ayah-anak yang seharusnya memberi ruang tumbuh justru menjadi sumber tekanan dan rasa tidak pernah cukup.
Kekuatan ungkapan surat ini menunjukkan bahwa keretakan dalam hubungan mereka bukan sekadar konflik biasa, melainkan pengalaman eksistensial yang membentuk rasa takut, rasa bersalah, dan alienasi yang kemudian mewarnai seluruh karya Kafka hingga wafatnya di usia 40 akibat tuberkolosis.
#coversongs:
Mia Diekow(36) adalah seniman asal Jerman kelahiran 10 Oktober 1986 yang aktif sebagai penyanyi, penulis lagu, produser musik, sekaligus pengisi suara.
Ia merilis lagu berjudul Brief an den Vater pada 2024, yang kemudian tersedia di platform seperti Spotify, SoundCloud, dan YouTube.
Lagu ini mengambil inspirasi dari teks Franz Kafka, dan artinya adalah “Surat kepada Ayah.”
#credit foto buku memakai foto saya halaman muka di Jermqan; @TheNoesisOfficial Subscribe
Franz Kafka’s Letter to His Father The Co
The Letter that was never delivered to His Father dan @elpremist M.A.W. Brouwer.