Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Selasa , 18 Nopember 2025 (27 Jumadil Awwal 1447 H)
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Pertama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah ﷻ Dzat yang tak henti-hentinya melimpahkan karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua, termasuk nikmat taufik, hidayah, dan nikmat iman Islam.
Shalawat teriring salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Shalawat dan salam juga semoga terlimpah kepada para sahabat, para tabi’in, tabi’ tabi’in-nya, hingga kepada kita semua selaku ummatnya.
Dan marilah kita sama – sama meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah ﷻ.
Sebab, hanya bekal taqwa, kita bisa lebih memaksimalkan ketaatan kita kepada – Nya dan menjauhkan diri dari segala bentuk larangan-Nya.
Setiap amal ibadah yang kita tunaikan, hendaknya dilatarbelakangi dengan keikhlasan karena Allah ﷻ .
Hal ini sejalan dengan perintah Allah ﷻ dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5:
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif atau istiqomah,”
Maksud dari kata mukhlisin dalam ayat ini adalah mentauhidkan Allah ﷻ.
Konsekuensinya, setiap amal yang kita tunaikan pun tidak ditujukan kepada siapa pun kecuali kepada-Nya.
Tidak ada yang diharapkan selain ridho-Nya.
Di samping harus beramal dengan ikhlas, kita juga harus menjaga amal kita dari segala hal yang merusak pahala dan balasannya.
Sebab sungguh rugi kita, sudah beramal, namun tidak ada nilainya di hadapan Allah ﷻ.
Sebagaimana yang sering kita dengar, di antara hal yang menggugurkan dan menjadi penghapus pahala amal kita adalah penyakit riya’ dan hasud.
Sifat riya’ artinya perasaan hati di mana kita beramal seraya mengharapkan penilaian dan penglihatan makhluk. Makanya, penyakit riya’ ini disebutkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai syirik kecil bahkan penyakit yang paling dikhawatirkan dari umatnya.
Hal itu sebagaimana yang terungkap dalam hadits:
“Perkara yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.
Kelak pada hari kiamat, saat membalas amal-amal manusia, Allah ﷻ akan berkata,
‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu sewaktu di dunia kalian harapkan pahalanya! Perhatikanlah apakah kalian melihat ada balasan pada mereka?’”
(HR. Ahmad).
Berikutnya, perusak pahala amal kita adalah sifat hasud.
Artinya, perasaan kotor dalam hati kita yang menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.
Salah satu cara untuk mengidentifikasi penyakit ini dalam hati kita adalah adanya rasa sedih saat melihat orang lain senang, sebaliknya senang jika melihat orang lain sedih.
Jika masih ada sifat itu berarti hati kita masih dihinggapi sifat hasud sehingga harus segera dibersihkan. Saudaraku seiman sekalian, kita harus menyadari betul bagaimana bahayanya sifat ini, sebagaimana yang diperingatkan oleh Rasululullah ﷺ kepada kita semua:
“Jauhilah sifat hasud! Sesungguhnya penyakit hasud akan memakan pahala amal kebaikan, sebagaimana api melahap kayu bakar,”
(HR. Abu Dawud).
Betapa merugikannya penyakit hasud. Bagaimana tidak, karena hasud dapat menggugurkan balasan amal kebaikan yang kita lakukan.
Sungguh rugi setelah beramal kita tak mendapat balasan apa-apa di hadapan Allah karena terhapus oleh rasa riya’ dan hasud yang bersarang dalam hati kita.
Makanya bersihkanlah segera hati kita dari dua penyakit membahayakan ini.
Sadarilah, makhluk tidak bisa memberi manfaat dan mudharat apa-apa.
Mengapa harus mengharapkan pembalasannya.
Di manakah posisi Allah ﷻ jika kita beramal masih mengharap pandangan makhluk.
Takutlah kita mendapat pengusiran Allah ﷻ pada hari Kiamat.
“Pergilah kalian dan mintalah balasan kepada orang yang menjadi tujuan amalmu di dunia?”
Demikian halnya dengan sifat hasud atau dengki.
Jauhilah dengan memperbanyak rasa syukur dan rasa ridha terhadap karunia Allah ﷻ.
Sebab, sifat hasud atau dengki ini seringkali datang dari hati yang tidak puas terhadap karunia dan pemberian Allah ﷻ.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Tidak kalah bahayanya dari penyakit riya’ dan hasud, adalah perbuatan jhalim kepada sesama makhluk.
Bedanya, jika hasud dan riya’ dapat langsung menggugurkan pahala amal, sementara perbuatan jhalim tidak menghapus pahala amal, tetapi membuat pelakunya kehilangan balasan amal baik karena dipakai untuk membayar kejhaliman – kejhalimannya.
Dijelaskan para ulama, perbuatan jhalim sendiri adalah mengalihkan perkara yang hak kepada yang bathil.
Termasuk dalam pengertian jhalim adalah mengalihkan sesuatu dari tempat atau waktu asalnya. Ada lagi yang mendefinisikan, jhalim itu merampas dan mempergunakan hak orang lain atau melampaui batas yang dibenarkan.
Jika melihat pengertiannya, jhalim ditafsirkan beragam.
Namun, seluruhnya mengacu kepada hal yang sama, yaitu perbuatan merampas hak orang lain dan yang tidak semestinya dilakukan karena dapat menimbulkan dosa.
Lebih bahaya lagi, perbuatan jalim dapat menggagalkan pahala amal kita kelak di hadapan Allah ﷻ.
Sebab, pada hari kiamat, semua amal akan dipertanggung – jawabkan.
Termasuk jika ada hak orang lain yang pernah dirampas harus dikembalikan dengan cara memberikan amal kebaikan kita kepada pihak yang dijhalimi. Makanya di akhirat kelak, ada golongan yang muflis atau bangkrut.
Artinya, golongan yang pahala kebaikan-kebaikannya habis karena dipakai membayar kejhaliman – kejhalimannya.
Setelah kebaikannya habis dipakai membayar kejhaliman, maka keburukan orang yang dijhalimi akan ditimpakan kepada dirinya.
Itulah yang mengakibatkan ia bangkrut di akhirat tidak memiliki kebaikan.
Penjelasannya, bukan berarti ia tidak pernah melakukan kebaikan sewaktu di dunia.
Tetapi pahala kebaikannya diberikan kepada orang lain. Sehingga celakalah golongan orang yang suka jhalim dan merampas hak orang lain.
Karena itu, segala bentuk kejhaliman, terutama yang menyangkut hak orang lain, sudah jauh-jauh hari diingatkan Rasulullah ﷺ dalam haditsnya.
Suatu ketika beliau bertanya kepada para sahabat,:
“Apakah kalian tahu siapa orang yang muflis atau bangkrut di antara kalian?”
Mereka menjawab,:
“Orang muflis di tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta.”
Lantas Rasulullah ﷺ menjelaskan:
“Orang muflis dari kalangan umatku adalah orang yang datang padi hari kiamat membawa amal shalat, zakat, dan puasa, namun ia pernah mencaci si ini, menuduh si ini, makan harta si ini, menumpahkan darah si ini, memukul si ini. Sehingga yang ini dibayar dengan kebaikan ini.
Yang itu dibayar dengan kebaikan itu.
Setelah semua kebaikannya habis, sebelum selesai melunasi kewajibannya, maka keburukan orang yang dijhalimnya diambil lalu dilimpahkan kepadanya, hingga ia harus terlempar ke dalam siksa neraka.”
Itulah tiga penggugur dan penghapus pahala amal yang membuat pelakunya bangkrut dan tak punya pahala kebaikan di akhirat.
Marilah kita berusaha menjauhi tiga perkara tersebut agar amal kita tetap utuh hingga di hadapan Allah ﷻ. Bukan hanya catatannya, tetapi juga balasan dan pahalanya.
Semoga kita termasuk golongan yang dapat mempertahankan amal kebaikan hingga mengantarkan kita ke dalam surganya Allah ﷻ .
Aamiin ya robbal aalamiin.
🤲Ya Allah, di awal Subuh yang tenang ini, hamba datang dengan hati penuh harap. Semoga setiap napas pagi menjadi saksi atas niat baik dan langkah yang Kau ridai. Limpahkan rahmat-Mu sebelum kami melangkah, dan berkahi setiap usaha yang kami mulai hari ini.
🤲Ya Rabb, jangan biarkan hati ini gundah oleh urusan dunia. Tenangkan jiwa kami dengan dzikir kepada-Mu, dan jauhkan dari kelelahan yang tak membawa pahala. Jadikan pagi ini awal yang penuh cahaya, penuntun menuju kebaikan dan keberkahan.
🤲Ketika malaikat mengaminkan doa kami, kabulkanlah ya Allah. Jadikan hari ini saksi atas ampunan-Mu, rahmat-Mu yang turun, dan hati yang Engkau kuatkan dalam iman. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته