Getarmu-Getarku
Oleh Yusuf Achmad
–
Bila sumpah tak bertuah lagi, bagaimana lagi kuyakini cinta ini? Mentari, bulan dan bintang tak berarti, hadiah apa kan kuberi padamu? Kicau burung merdu tak terdengar pilu, apakah arti desirmu-desirku? Jika pertemuan terharamkan, haramkah desir padu terlontarkan?
Biru langit dan laut terburamkan, desir matamu redup dari pandangan. Segar air pegunungan terhambarkan, desir itu pun hilang, tanpa cahaya. Nyenyak tidur ilalang tanpa angin, mungkinkah bayang senang terulang?
Desirmu-desirku kan tetap menggelembung, kunanti, waktu itu kan membubung. Doaku, kasih Tuhan terengkuh kukuh, kemudian, kutunggu teguh. Khayalku, tidak syirik menyebutmu berkali-kali, kurela, sampai kapanpun pahala hati terus menanti.
Biar, sabda nabi, tetap kupegang erat, sehingga desir hebat melekat. Dan malaikat terkepak-kepak sayap, kapankah desirmu desirku terungkap sedap?
Surabaya, 24-7-2023โrevisi