May 4, 2026

Universitas Saefulloh Maslul Sirnarasa PPKN III: Optimisme Haqqul Yaqin, Pasti Bisa Membangun Jiwa dan Mental Positif

d1 rektor dan staf

Foto Rektor kampus USAMA SIRNARASA PPKN III (di tengah); Abi Dadang Muliawan, Wakil Rektor; Kyai Danil Luthfi Al-Mahzumi (di bagian kanan); dan Staf Khusus Kemahasiswaan; Cecep Fauzi (di bagian kiri) setelah pelantikan Resimen Mahasiswa pada Jum'at 24 Januari 2025

Oleh Deni Kusuma)*

Bagaimanakah sikap mental kita dengan telah terjadinya transformasi sosial besar-besaran yang seringkali dipandang akan menggantikan eksistensi manusia setelah adanya AI? Padahal setelah kita mengetahui dengan seksama fakta sejarah Tuan Syeikh Abdul Qodir al-Jailani dalam sejumlah manqobah-manqobah beliau? Bisa jadi AI adalah bagian dari karomah atau pun kemuliaan Tuan Syeikh saja bilamana kita mengingat akan “kelautan tanpa tepinya” dan “bahrul hayatnya” (samudera kehidupan), dimana kita tidak boleh menjual keyakinan kita kepada AI sehingga kemudian menjadi pribadi yang malas untuk melahirkan karya tulis yang murni dari cipratan realitas sosial yang ada di sekeliling kita, apa adanya.

Foto Maskam Sirnarasa PPKN III (Masjid Tiga Menara) dan agenda proyek pembangunan di Universitas Saefulloh Maslul Sirnarasa PPKN III

Sedangkan dalam dunia pendidikan, itu harus ada, ada metodenya, metodologinya dan merupakan eksistensi suatu pendidikan. Dan menjadi faedah positif AI bilamana dapat menggunakannya dengan baik dan benar. Informasi dari AI bagaimana pun tidak bisa ditelan mentah-mentah, melainkan harus disesuaikan dengan realitas dan melalui proses validasi data. Hal ini agar teman-teman mahasiswa dapat menjaga keseimbangan dengan derasnya arus perubahan sosial di ranah pendidikan saat ini.

Bukankah kita meyakini, utamanya dari pelajaran yang kita terima dari guru-guru di pesantren, “Laulaka-Laulaka lamma kholaqtul aflak”. Artinya; “andaikan bukan karena Alloh subhanahu wata’laa menciptakan Engkau (baginda Nabi Muhammad shollallohu a’laihi wasallam), maka tak aku ciptakan alam semesta ini”.

Oleh karenanya, AI bagaimanapun juga adalah bagian dari alam semesta yang luas ini (al-a’lamin) dan secara perspektif sosial ia adalah bagian dari kehidupan perkembangan sosial teknologi yang mengiringi kehidupan kita di masa ini, seolah tampak menakutkan kesan awalnya, akan tetapi bilamana kita berkaca pada masa silam, setakut apakah kita sedangkan dahulu beberapa abad yang lalu, kolonialisme telah mengeksploitasi alam Indonesia dan u’lama dalam hal ini, dalam narasi sejarah, seperti Syeikh Abdul Karim al-Bantani, Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Kholik Bangkalan, Syeikh Ahmad Hasbulloh, Syeikh Mahmud At-Tarmasi, Syeikh Yusuf Al-Makasari, Syeikh Khotib Al-Minangkabawi, Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Abdur Rouf As-Singkeli, Syeikh Nurudin Ar-Raniry, Syeikh Muhammad Kahfi (yang bisa tak kasat mata oleh serdadu kolonial yang mereka pakai kuda, beliau hanya dengan kedipan mata bisa sampai tujuan), Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad (yang bisa mendesain cuaca atau pun iklim yang disegani para kolonial, menangkap ikan sampai dapat sekarung penuh di sungai yang penuh dengan buaya tanpa tergores sedikit pun oleh taring-taring buaya juga dapat menginstruksikan air mengalir dari dataran rendah ke dataran tinggi hanya dengan tatapan mata dalam proyek pembangunan Bendungan Nur Muhammad untuk irigasi di sawah-sawah petani), Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati di jalan tempat ziarah di Jawa hanya dengan menepuk kakinya dengan koran juga membangun kampus Lathifah Mubarokiyah di Tasikmalaya). Dan masih banyak sekali manqobah u’lama terdahulu agar kita siap menghadapi mentalitas transformasi sosial pendidikan dan ekonomi sekarang ini.

Foto Rektor Universitas Saefulloh Maslul Sirnarasa PPKN III, Dr. Dadang Muliawan, M. Sos, bersama Resimen Mahasiswa

Kalau kita takut dan cemas dengan keadaan ini, lantas bagaimana dengan peserta didik kita? Bukankah tugas kita adalah meyakinkan kepada anak-anak kita. Tetap tenang. Jangan takut, Alloh bersama kita. Betul sekali, seandainya AI dengan kehadirannya itu membawa ketakutan dan jika ketakutan itu diidentikan dengan menggiring kita ke neraka, maka kaki Tuan Syeikh sudah pasti ada di depannya agar kita tidak boleh takut oleh AI sehingga dapat menorehkan karya-karya surgawi atau profetik di lapangan khidmat di sini, untuk sama-sama membangun kampus USAMA SIRNARASA PPKN III dengan semaksimal mungkin, tidak ragu-ragu, untuk meninggalkan jejak yang baik bagi generasi-generasi USAMA MUDA di kemudian hari, yang tentu saja agar kita tidak mudah terlena untuk melulu memenuhi kepentingan diri sendiri atau ketakutan hanya untuk menakut-nakuti orang lain.

Padahal angka natalitas (kelahiran) dan mortalitas (kematian) itu selalu ada setiap hari dan dapat dicek di dinas kependudukan. Argumentasi ini adalah semata-mata karena tugas-tugas kita sebagai lulusan akademis yang telah terjun di lapangan yang seringkali hantaman dan ujiannya datang secara mendadak dan tanpa persiapan sama sekali (baghtatan). Tetapi bilamana langkah kita disertai dengan niat yang sholeh, untuk kepentingan pendidikan kita, anak-anak kita, generasi setelah kita wafat, terutama bagi kita yang sudah meyakini bahwa telah banyak berjamuran uban di kepala untuk ditegur oleh Alloh agar insaf dan tidak melulu terperdaya oleh hoax, tetapi belajar fokus mengerjakan aspek agenda ukhrowi (khidmat) dari berbagai macam perspektif yang kita telah yakini akan kita tuai buahnya setelah kematian ajal menjemput kita (hatta ya’tiyakal yaqin).

Kendatipun AI akan akan menggantikan eksistensi manusia, dengan segala kecerdasannya, maka kita sebagai lulusan akademisi harus meningkatkan iman dan taqwa kepada Alloh, karena Alloh adalah tempat kita kembali sebagaimana dalam Al-Qur’an; “Wa Ilallohi Turja’ul Umur”. Artinya; “Dan kepada Alloh lah segala perkara akan dipulangkan”.

Sebagaimana penulis sudah ditanamkan sejak kuliah di UGM, dilantik jadi mahasiswa kampus ini dengan hymne ini janji setia; “Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku. Ku junjung kebudayaanmu kejayaan Nusantara”. Kalau tidak menguatkan keyakinan kepada Alloh, bertemu Syeikh Mursyid, bagaimana dengan janji setia yang telah terucap delapan tahun yang lalu bersama tujuh belas ribu teman-teman penulis di lapangan Graha Sabha Pramana yang disambut langsung oleh Prof. Anis Rasyid Baswedan. Dan dalam konteks pendidikan ini, tentu USAMA adalah bagian dari instrumen untuk kejayaan Indonesia dan Nusantara yang mesti betul-betul kita perhatikan, bukan sekedar biasa-biasa saja, seolah-olah tanpa cinta dan tanpa ada cita-cita.

Riskan ketika memandang USAMA SIRNARASA PPKN III ini stagnan justru kitalah yang malah dapat dihukum stagnasi oleh Alloh karena putus asa dari rahmat-Nya yang luas dan memandang seolah-olah kampus ini tak akan pernah menjadi kampus yang sukses di kemudian hari, karena hanya memandang eksistensinya saat ini saja, memandang kampus ini kampus mini yang ada di kaki bukit Gunung Syawwal.

Padahal, ketika dulu penulis belajar sejarah-sejarah UGM saat awal berdirinya, hanya fakultas filsafat sajalah yang ada, dalam seminar-seminar kecil dengan tumpukan tulisan-tulisan kecilnya dari para sarjana muda yang sekarang telah tinggal namanya, siapakah yang membalas jasa-jasa mereka kalau bukan Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga penulis dapat kuliah di kampus yang besar dan bersih, lantas kita akan kabur dari cita-cita Abah Aos Ra Qs dalam konteks berbakti kepada NKRI?

Maka Haqqul Yaqin, Sang Patih Gadjah Mada yang sudah di alam baqa bukannya menunggu menyambut penulis yang dalam hal ini karena penulis lulusan dari kampus ini, malah murka karena telah menyepelekan kampus yang didirikan oleh Abah Aos ini yang juga kampus untuk kita dan anak-anak yang tidak mampu sekolah di kampus PTN.

Semoga kita jangan jadi lulusan akademik yang banyak menuntut orang tua akan tetapi banyak menaruh kepedulian dan perhatian. Bukankah kita meyakini bahwa Abah Aos Ra juga selalu bersambung silaturahmi dengan arwah-arwah yang sudah pulang duluan ke alam keabadian; tokoh-tokoh yang menginspirasi di jurusan penulis dahulu seperti; Prof. Sartono Kartodirdjo, Prof. Adaby Darban, Prof. Kuntowijoyo, Prof Sumowidagdo, Prof Darsiti Suratman, Prof Panut, Prof Olivia rektor sekarang, Prof Dwikorita Karnawati, ketua BMKG saat ini dan rentetan wajah professor di ruangan meeting FIB waktu itu yang waktu itu penulis sendiri masih usia baru lulus Madrasah Aliyah, MABA nya kampus ini.

Prof. Bambang Purwanto guru besar di departemen kami, yang jangankan kita sebagai mahasiswa berkata senonoh di kelas, plagiat satu paragraf saja nilai mata kuliah tidak dikeluarkan selama satu tahun. Dan bertanya-tanya hening di dalam dada, “shock culture”. Prof. Margono yang gedungnya jadikan tempat kami anak-anak kuliah hingga tertidur lelap di malam hari. Perih rasanya ketika melihat keadaan kampus USAMA ini setelah kita pernah dikuliahkan di kampus yang megah. Seolah tak dapat berkutik apalagi bangga dengan pendidikan di kampus yang pernah penulis jalani. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik.

Dan penulis sudah dipesankan oleh ustadz penulis tempo dulu, yakni Ustadz Asep Darjatulloh, guru ngaji penulis selama Mts dan MA di pesantren Al-Barokah Parigilame, Bandung, sebelum masuk dalam thoriqoh ini, beliau memberikan restu dengan catatan; “Wala Tafirru Minas Zahfi Li ilai Kalimatillah”. Artinya; “Janganlah kamu kabur dari medan peperangan kalau kamu serius ingin sama-sama menegakkan kalimat Alloh”.

Dan setelah dipesankan kata-kata itu, barulah penulis bulat ikut talqin. Karena meskipun beliau bertoriqoh Syadziliyyah, penulis harus tetap minta restu guru, bukan mengadu dombanya seperti para kolonial yang memecah belah u’lama (devide at impera), sehingga pas kita ada agenda serius di pembangunan kampus, kita dapat menjaga keseimbangan, bukan seakan-akan merasa rugi telah ikut bagian khidmat di kampus ini, padahal leluhur akademisi kita yang sudah pulang sudah pasti menunggu kita dengan segala keindahan surga setelah kita semua purna tugas di duniawi ini.

Untunglah Alloh masih kasih USAMA buat medan khidmat kita, bagaimana jika tidak, apalah gunanya semua ilmu yang sudah didapatkan ketika kuliah bertahun-tahun berpuluh-puluh buku dikhatamkan dengan segala perjuangannya menembus pekatnya malam di sepanjang kilometer Malioboro dengan serentengan kopi dan termos untuk biaya makan dan modal buat skripsi.

*) Sejarawan Muslim di Universitas Saefulloh Maslul Sirnarasa PPKN III, Ciamis, Jawa-Barat-Indonesia, 2025