GRATIS
Cerpen: Rizal Tanjung
–
Di sebuah negeri yang tanahnya subur tapi pikirannya kering, hiduplah seorang lelaki tua bernama Pak Suratno. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang guru yang bertahan mengajar di sekolah reyot, dengan papan tulis yang lebih banyak coretan kenangan daripada pelajaran. Murid-muridnya bukan dari kalangan berada, melainkan anak-anak yang datang ke sekolah dengan perut kosong, sepatu berlubang, dan seragam yang sudah lebih mirip kain pel.
Namun, mereka datang. Mereka datang dengan semangat yang tidak bisa dibeli di pasar, dengan harapan yang lebih kuat dari tembok-tembok sekolah yang hampir rubuh.
Di suatu pagi yang mendung, Pak Suratno berdiri di depan kelas, menyeka keringatnya dengan sapu tangan lusuh.
“Anak-anak, apa yang lebih berharga: sepiring nasi atau sepenggal ilmu?” tanyanya.
Anak-anak itu saling pandang, ragu. Lalu seorang anak laki-laki bernama Bima mengangkat tangan.
“Kalau perut lapar, bagaimana bisa belajar, Pak?”
Pak Suratno tersenyum samar. Ia menatap mata anak-anak itu satu per satu, seakan mencari sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Bima, kalau kau diberi pilihan: makan enak sehari atau mendapat pendidikan seumur hidup, mana yang kau pilih?”
Bima mengernyit. “Kalau saya lapar, tentu saya pilih makan, Pak. Tapi kalau saya tidak lapar, saya pilih pendidikan.”
Pak Suratno menghela napas. Ia tahu jawaban itu jujur, polos, dan logis.
“Dan bagaimana kalau aku katakan bahwa pendidikan itu bisa membuatmu tidak lapar selamanya?”
Kini bukan hanya Bima yang berpikir. Seluruh kelas terdiam.
Namun, di luar kelas, di sebuah gedung megah yang AC-nya lebih dingin daripada hati para penghuninya, sekelompok orang berbicara tentang hal yang sama, tetapi dengan kepentingan yang berbeda. Mereka adalah pejabat-pejabat yang duduk di kursi empuk, sibuk membahas anggaran negara.
“Kita perlu program makan gratis di sekolah,” kata seorang pejabat gemuk yang jasnya tampak terlalu mahal untuk akal sehat.
“Bagus,” sahut yang lain, seorang pria dengan senyum setipis dompet rakyat. “Anak-anak akan senang, orang tua akan berterima kasih, dan kita akan terlihat dermawan. Ini bisa menaikkan elektabilitas.”
“Tapi, bagaimana dengan pendidikan gratis? Kurikulum, buku, pelatihan guru?” tanya seseorang di ujung meja, suaranya ragu.
Sang pejabat gemuk tertawa kecil. “Ah, pendidikan? Itu tidak instan. Kita butuh sesuatu yang hasilnya bisa langsung terlihat. Kalau mereka kenyang, mereka bahagia. Kalau bahagia, mereka akan memilih kita lagi di pemilu berikutnya.”
Orang-orang di ruangan itu mengangguk, setuju. Tidak ada yang membantah. Karena membantah adalah tanda masih memiliki hati nurani, sesuatu yang sudah lama mereka buang demi jabatan.
—
Kembali ke sekolah reyot itu, bel istirahat berbunyi. Anak-anak berlarian ke kantin seadanya. Seorang ibu tua, Bu Sarmi, berdiri di balik meja dengan senyuman yang sama tuanya.
“Makan gratis, Nak! Ambil saja!” serunya.
Anak-anak mengantre dengan riang. Piring-piring plastik berisi nasi dan sepotong lauk sederhana berpindah tangan. Mereka makan dengan lahap, seakan dunia tidak lagi punya masalah.
Pak Suratno menghela napas panjang. Ia berjalan perlahan ke arah Bu Sarmi.
“Bu Sarmi,” panggilnya lembut.
“Iya, Pak Guru?”
“Apakah menurutmu memberi mereka makan lebih penting daripada memberi mereka pendidikan?”
Bu Sarmi terdiam sejenak. Matanya menatap anak-anak yang sedang mengunyah makanan dengan wajah puas.
“Saya hanya seorang penjual makanan, Pak. Saya tidak tahu banyak tentang pendidikan. Tapi saya tahu satu hal: kalau mereka lapar, mereka tidak akan datang ke sekolah. Setidaknya dengan makan gratis, mereka masih mau datang.”
Pak Suratno tersenyum lelah. “Tapi bagaimana kalau mereka datang hanya untuk makan, lalu lupa belajar?”
Bu Sarmi tertawa kecil. “Pak Guru, lebih baik mereka datang untuk makan dan akhirnya belajar, daripada mereka tidak datang sama sekali.”
—
Hari itu, di kelas yang sama, Bima masih memikirkan perkataan Pak Suratno. Saat pulang sekolah, ia melihat ibunya duduk di depan rumah, menjahit pakaian orang lain demi menyambung hidup.
“Ibu,” panggilnya.
Ibunya tersenyum lelah. “Ada apa, Nak?”
“Kalau kita diberi pilihan, lebih baik dapat makan gratis atau sekolah gratis?”
Ibunya terdiam, tangannya berhenti menjahit. Ia menatap anaknya, lalu tersenyum tipis.
“Kalau kita cuma diberi makan gratis, kita tidak akan pernah keluar dari kemiskinan. Tapi kalau kau bisa sekolah gratis, kau mungkin bisa mengubah nasib kita.”
Bima mengangguk pelan. Kini ia mengerti.
Dan di tempat lain, di ruangan ber-AC dengan meja panjang penuh dokumen anggaran, seorang pejabat kembali berbicara.
“Rakyat itu sederhana. Kalau kita kasih makan, mereka akan menurut. Kalau kita kasih pendidikan, mereka akan mulai bertanya.”
Yang lain tertawa, seakan itu adalah lelucon terbaik hari itu.
Mereka tidak tahu, di sekolah reyot itu, di antara anak-anak lapar yang belajar dengan seragam usang, sedang tumbuh seseorang yang suatu hari akan cukup pintar untuk menghancurkan sistem yang mereka bangun.
2025.