April 21, 2026

H-1 PENAMPILAN TEATER “NAMAKU INGGRID”: Teriakan Jiwa dari Gedung Kebudayaan yang Belum Rampung dan Panggilan Hati untuk Menyelamatkan Ruang Seni Budaya Bangsa

Oleh Leni Marlina

Padang, Sumbar, Suaraanaknegerinews.com, 24 Oktober 2025| Malam esok, 25 Oktober 2025, sebuah gedung kebudayaan di Jalan Diponegoro No. 31, Padang — yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai “Gedung Mangkrak” di Dinas Kebudayaan Sumatera Barat akan kembali hidup. Bukan oleh proyek pembangunan tahun ini atau seremoni pejabat atau kegiatan sejenisnya, melainkan oleh napas para seniman, pemerhati seni dan budayawan yang menolak menyerah pada diam dan debu yang dapat menutup nafas kebudayaan.

Penulis Naskah Sekaligus Sutradara Teater “Namaku Inggrid”: Boyke Sulaiman. Sumber gambar: B. Sulaiman’s doc. via LM.

Di tempat yang ditinggalkan waktu itu, Teater Kuliek Padang bersama Studio 31 akan mementaskan karya eksperimental bertajuk “Namaku Inggrid.” Disutradarai oleh Boyke Sulaiman dengan naskah karya Ilhamdi Sulaiman, yang merupakan dua nama dari seniman dan budayawan yang sama, teater ini menjanjikan lebih dari sekadar pertunjukan: ia adalah panggilan nurani bagi kebudayaan yang mulai kehilangan rumahnya.

Dalam catatan pengantar, Ilhamdi Sulaiman atau yang paling akrab dikenal di tanah air sebagai Boyke Sulaiman menulis:

“Namaku Inggrid lahir dari kegelisahan terhadap kematian ruang-ruang kesenian dan memudarnya nilai kebudayaan di tengah laju pembangunan. Aku percaya, gedung kesenian bukan sekadar bangunan, melainkan tubuh peradaban. Ketika ia runtuh, seni pun kehilangan rumahnya.

Pimpinan Produksi Teater “Namaku Inggrid”: Andria Catri Tamsin. Sumber gambar: https://youtu.be/e34zq-2AD7Q?si=xNSf-ta735cWnJMx

Tokoh Inggrid hadir sebagai roh penjaga yang menegur, bukan hantu yang menakutkan. Ia mewakili suara masa lalu yang menolak dilupakan, simbol dari seni yang gentayangan mencari ruang hidupnya.”

Kata-kata itu adalah gugatan sekaligus harapan dan doa. Dalam dunia yang semakin sibuk membangun pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit, dan kafe berselera tinggi, Namaku Inggrid menegaskan kembali: kebudayaan tidak bisa tumbuh tanpa ruang jiwa. Gedung seni yang mati adalah tanda bahwa sebuah masyarakat sedang kehilangan cermin dirinya.

Di tengah ribuan hiburan digital yang berlomba menguasai genggaman tangan, teater tetap teguh berdiri dalam kesunyian panggung. Ia tidak memberi kemudahan seperti tayangan daring yang bisa dijeda, dipercepat, atau ditinggalkan kapan saja.

Sebaliknya, teater memanggil dan membuat kita kita hadir sepenuhnya, menatap, mendengar, dan merasakan. Menonton teater berarti kembali menjadi manusia yang utuh memiliki empati, imajinasi, dan keberanian untuk diam di tengah riuh dunia.

Di sinilah kekuatan “Namaku Inggrid”: ia bukan sekadar kisah arwah noni Belanda yang bangkit dari reruntuhan rumah dansa, tetapi perjalanan batin sebuah bangsa yang sedang mencari jiwanya sendiri.

Ruang yang dipilih—gedung mangkrak yang mulai rusak, belum selesai dibangun, dengan tembok mengelupas dan jendela pecah-merupakan manifesto artistik: bahwa keindahan sejati lahir dari keberanian menghadapi kehancuran, dan bahwa seni, seberapa pun rapuhnya, selalu menemukan caranya untuk hidup kembali.

Di balik karya ini berdiri nama-nama yang menjaga bara teater tanah air, khususya di Sumatera Barat: Dr. Andrian Catri Tamsin (pimpinan produksi), Mak Ye (penata lampu), Ikhsan Rasha (musik), Ery Mursyaf (koreografi), serta tim properti FPSB—Zamzami Ismail, Yenni Ibrahim, dan Dadang Leona—yang menyulap bahan-bahan bekas menjadi simbol kehidupan baru. Pimpinan produksi, Andria Catri Tamsin, dikenal sebagai salah seorang penyair/sastrawan Indonesia, yang juga bertugas sebagai akademisi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Empat aktor utama teater “Namaku Inggrid”—Rifa, Ayat, Roma, dan Dalo—tidak hanya sekedar memerankan karakter. Mereka alan menjadi tubuh dari ruang itu sendiri: tubuh yang lelah namun menolak menyerah, tubuh yang menyimpan ingatan tentang rumah, masa lalu, dan cita-cita yang ingin dicapai.

Teater Kuliek berkolaborasi dengan Studio 31 yang memproduksi “Namuku Inggrid” melalui Dinas Kebudayaan Sumatera Barat di Taman Budaya Padang mengundang secara terbuka seluruh masyarakat untuk hadir — bukan sekadar menonton, tetapi menjadi bagian dari kebangkitan ruang budaya.

Bagi pelajar dan mahasiswa, pementasan ini adalah pelajaran hidup yang tak akan ditemukan di layar gawai. Bagi para pendidik, seniman, dan budayawan, ia merupakan ruang refleksi: sejauh mana kita telah menjaga warisan kebudayaan yang membentuk siapa kita hari ini. Dan bagi pemerintah serta pemangku kepentingan, ini merupakan seruan moral untuk menuntaskan pembangunan gedung-gedung kesenian yang mangkrak di seluruh negeri.

Gedung seni yang terbengkalai bukan hanya masalah fisik, tetapi luka simbolik bagi peradaban. Ketika ruang ekspresi mati, imajinasi pun perlahan padam. Dan bangsa tanpa imajinasi, tak ubahnya tubuh tanpa roh.

“Namaku Inggrid” akan menunjukkan bahwa seni tidak membutuhkan ruang sempurna untuk hidup. Ia hanya butuh keberanian dan cinta dari masyarakatnya yang masih percaya pada arti kebudayaan.

Namun keberanian ini tidak boleh berjalan sendiri. Ia memerlukan dukungan publik—dari masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, hingga media—agar gedung-gedung kesenian di mana pun tidak lagi menjadi monumen terbengkalai, tetapi rumah kebudayaan dan pencerdasan bagi jiwa dan pikiran bangsa.

Esok malam, Sabtu, 25 Oktober 2025 di Taman Budaya Sumatera Barat, ketika lampu panggung menyala di antara debu dan bayangan, kita akan disapa oleh suara lembut:

“Namaku Inggrid.”

Dan mungkin saat itu kita akan sadar—roh yang selama ini kita anggap gentayangan, sebenarnya adalah jiwa kebudayaan kita sendiri, memanggil agar kita kembali mendengarkannya.

Karena teater tidak hanya tentang pertunjukan.
Ia merupakan cara anak bangsa mengingat dirinya sendiri untuk kemajuan negeri yang dibela dan dicintai dengan jiwa dan raga.

UNDANGAN TERBUKA UNTUK UMUM

📍 Pementasan Teater “Namaku Inggrid”

📅 Sabtu, 25 Oktober 2025, pukul 20.00 WIB

🏛 Gedung Mangkrak, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Jl. Diponegoro No. 31, Padang, Sumatera Barat.

☎ Informasi & Reservasi: Mas Bambang Art (+62 812-6844-1946)

Mari hadiri dan saksikan bersama teater “Namaku Inggrid”: Roh Seni yang Menolak Mati di Gedung Mangkrak Dinas Kebudayaan Sumbar.

Sebuah kesempatan istimewa bagi anda untuk menghadiri undangan dan menyaksikan langsung penampilan karya kolaborasi Teater Kuliek Padang dan Studio 31, dengan pimpinan produksi: Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd. dan penulis naskah sekaligus sutradara: Boyke Sulaiman.

(LM, Editor-in-Chief-SAN)