“Nyanyian Panjang dari Danau Maninjau”
(Sebuah elegi tanah kelahiran)
oleh: Rizal Tanjung
—
Aku lahir dari kabut yang turun perlahan
di antara lembah dan langit yang berunding
tentang arti biru pada air yang diam,
tentang makna rindu yang ditanam angin
di permukaan Danau Maninjau.
Aku ingat,
setiap fajar adalah mata ibu yang lembut,
menyeka peluh bumi sebelum ayam berkokok.
Setiap senja adalah ayah yang pulang terlambat,
membawa langkah-langkah yang ditaburi aroma padi,
dan suara air menenangkan rasa letihnya.
Di tepi danau itu,
angin berbau garam dan rahasia,
membelai pucuk kelapa seperti tangan kekasih
yang rindu tapi tak pernah berani berkata.
Langitnya selalu bicara dalam bahasa yang tak bisa kutulis,
bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh anak-anak
yang tumbuh di antara ladang dan doa.
—
Jalan beraspal itu —
sebatang urat hitam yang membelah kenangan,
berlari dari kampung ke kampung,
dari tawa ke luka, dari rumah ke rumah.
Aku sering menyusurinya dengan sepeda butut,
mengejar bayangan awan yang berubah bentuk
menjadi wajah masa depan yang samar,
atau menjadi kenangan masa lalu
yang menolak dipanggil dengan nama.
Dan di ujung jalan itu,
aku melihat danau seperti cermin langit,
menampung segala sesuatu yang tak bisa diucapkan:
air mata yang jatuh dari gunung,
rindu yang tertanam di sawah,
dan suara burung yang tak pernah ingin pergi.
—
Ah, Maninjau,
engkau bukan sekadar danau,
engkau adalah mata raksasa dari bumi,
menatap ke dalam diriku
yang tak pernah tuntas memahami pulang.
Setiap ombak kecilmu adalah kalimat yang tak selesai,
setiap kilau birumu adalah ayat dari kitab masa kecilku.
Aku pernah berjanji pada kabutmu,
bahwa aku tak akan menjadi asing di tanah sendiri,
namun waktu —
waktu adalah pendusta yang lembut,
ia meminjam langkahku dan menukar arah pulang
menjadi jalan panjang tanpa akhir.
—
Kini aku berdiri di sini,
di antara langit yang sama dan pohon kelapa yang tua,
namun dunia telah berganti rupa.
Sawah-sawah itu masih bernapas,
tapi wajahnya dipenuhi mimpi yang tak dipanen.
Rumah-rumah beratap seng berbisik lirih
kepada angin yang membawa kabar dari kota:
bahwa anak-anaknya kini mencintai beton
lebih dari tanah yang menumbuhkan mereka.
Dan aku,
aku hanya seorang peziarah dalam lukisan yang hidup,
melihat jalan itu tetap menuju ke air,
seperti hidup yang tetap menuju kehilangan.
—
Tapi lihatlah,
langit Maninjau tak pernah benar-benar tua.
Ia masih memeluk setiap sore
dengan warna yang membuat dada sesak oleh keindahan.
Gunung di seberang sana masih seperti dulu —
menunduk dalam diam,
seakan tahu bahwa cinta kepada tempat lahir
adalah bentuk kesetiaan yang paling dalam.
Aku berjalan lagi,
melewati rerumputan yang menguning,
melewati pepohonan yang berdoa dalam diam,
dan seekor burung kecil yang terbang rendah,
mungkin mengantarkan pesan dari masa lalu:
“Jangan pernah lupa,
tanah ini mengenal langkahmu sebelum engkau mengenal namamu.”
—
Aku berhenti di tepi danau.
Airnya memantulkan wajahku
seperti seorang asing yang pernah tinggal lama di hati bumi.
Aku ingin bertanya pada air,
apakah rinduku masih sama seperti dulu,
atau sudah berubah menjadi kabut
yang menutupi puncak bukit dan kenangan.
Lalu tiba-tiba,
angin berhembus pelan seperti suara ibu memanggil:
“Pulanglah, anakku,
pada apa pun yang pernah kau tinggalkan,
karena danau ini tak hanya menyimpan air,
ia menyimpan waktu, doa, dan dirimu yang dahulu.”
—
Dan aku pun menunduk,
menyentuh air itu dengan jemariku yang bergetar.
Gelombangnya berbisik pelan:
bahwa setiap anak tanah yang pergi
pada akhirnya akan menjadi debu yang kembali,
akan larut dalam biru dan sunyi
yang tak pernah usang di mata Tuhan.
—
Maninjau,
di dadamu aku belajar membaca dunia —
bahwa hidup adalah jalan kecil
yang menuju air,
bahwa cinta adalah kabut yang tak bisa digenggam,
bahwa waktu adalah perahu tanpa dayung
yang tetap berlayar menuju cahaya.
Dan aku,
anakmu yang dulu berlari di pematang sawah,
menulis puisi panjang dari bayangan kelapa,
mengirimkannya ke langit biru
agar para malaikat tahu:
aku tak pernah benar-benar pergi,
aku hanya berjalan sedikit lebih jauh
di tepi danau yang abadi.
—
(Rizal Tanjung — Danau Maninjau,
di antara sawah, langit, dan kenangan yang tak selesai)
2025