April 17, 2026

Antologi Puisi Satire
Oleh: Rizal Tanjung

I — Prolog di Negeri yang Tak Pernah Dewasa

Entah berapa kali matahari lahir di negeri ini,
tapi umur bangsa masih tetap bocah:
berlari-lari di halaman istana,
mengejar bayangan sendiri,
memanggil nama kemajuan dengan lidah yang belum bisa mengeja kebenaran.

Di jalanan, seorang gembel bersiul pelan,
membaca surat kabar yang hanya berisi janji dan iklan.
Ia tahu, setiap kata “pembangunan” adalah doa yang kehilangan alamat.
Ia tersenyum: sebab di negeri ini, yang miskin sudah lama jadi puisi,
dan yang berkuasa sudah lama jadi metafora keserakahan.

II — Balada Pengemis dan Presiden

Di pagi yang kabur, gembel itu bersalaman dengan udara.
“Presiden baru,” katanya, “baju lama.”
Ia tahu, wajah kekuasaan hanya berganti parfum,
tapi bau penindasan tetap sama.

Presiden berpidato tentang kedaulatan dan cinta tanah air,
sementara tanah rakyat terus dijual di pasar investasi.
Setiap jabat tangan menjadi transaksi,
dan setiap senyum mengandung bunga pinjaman.

Gembel itu menatap potret resmi di dinding warung kopi.
“Lihatlah,” katanya, “betapa serius wajahnya,
seolah Tuhan sedang mengawas rapat kabinet.”

III — Doa dari Kolong Jembatan

Di bawah jembatan beton,
anak-anak membaca doa dengan lidah yang belum fasih.
Tuhan mereka mungkin tak tinggal di langit,
tapi di antara celah besi dan arus sungai kotor.

Mereka menyebut nama negeri ini seperti mantra pahit,
sebab setiap upacara bendera hanya menghadirkan lapar yang baru.
Bendera berkibar, tapi perut tetap kosong.
Dan lagu kebangsaan hanyalah cara halus
untuk meninabobokan kelaparan agar tidak berontak.

IV — Republik Cermin Retak

Negeri ini suka bercermin,
tapi cerminnya retak di setiap pinggiran.
Setiap menteri memantulkan wajah yang sama —
senyum yang diatur, janji yang dihafal,
dan mata yang memindai peluang seperti mesin kasir.

Rakyat memandang ke dalam cermin itu juga,
dan yang terlihat hanya diri mereka sendiri yang tak berubah:
menunggu, menunggu, menunggu.
Menunggu harga turun, menunggu air mengalir,
menunggu keadilan yang selalu datang saat masa kampanye.

V — Gembel dan Gembala

Di lapangan kosong,
gembel-gembel itu digiring seperti domba.
Para gembala berpakaian safari, membawa mikrofon dan slogan.
Mereka menjanjikan padang rumput digital,
tapi yang tumbuh hanyalah papan reklame dan utang luar negeri.

“Jangan khawatir,” kata gembala,
“kami sedang mempercepat kemajuan.”
Tapi kaki domba-domba itu berdarah
karena berlari di atas jalan yang belum selesai diaspal janji.

VI — Pidato dari Menara Gading

Pidato dibacakan dari podium yang tinggi,
kata-kata berhamburan seperti bunga plastik.
“Transformasi! Revolusi! Kemandirian!”
Semua kata besar itu beterbangan,
tanpa pernah menyentuh tanah tempat rakyat berdiri.

Di bawah menara,
seorang tukang sapu berhenti sebentar,
mengelap keringat dengan seragamnya yang lusuh.
Ia mendengarkan pidato itu dengan hati yang lelah,
lalu berkata:
“Ah, suara mereka lebih bersih dari tempat aku bekerja.”

VII — Janji yang Berlari, Rakyat yang Tersesat

Pemerintah berlari dengan sepatu raksasa,
rakyat berjalan tanpa alas.
Jarak antara janji dan kenyataan begitu jauh,
hingga waktu pun enggan menunggu.

Gembel itu tertawa kecil:
“Negeriku pandai membuat peta masa depan,
tapi buta arah di masa kini.”
Ia menulis di dinding kota dengan arang:
Janji itu pelari maraton,
sedang kami hanya penonton yang haus.

VIII — Demokrasi Plastik

Di panggung besar bernama pemilu,
semua orang berteriak “merdeka!”
Namun suara mereka direkam, diedit, dan diputar ulang sesuai kebutuhan.

Kursi kekuasaan seperti panggung sandiwara —
aktor berganti, naskah tetap sama.
Rakyat membeli tiket setiap lima tahun,
tapi pertunjukannya tak pernah berubah:
air mata, janji, dan konfeti di akhir yang hambar.

IX — Monumen Cinta yang Tersesat

Negeri ini punya banyak tugu cinta tanah air,
tapi sedikit kasih pada manusia.
Cinta dijadikan proyek,
dan kemanusiaan dilelang di tender politik.

“Cintailah negeri ini,” kata spanduk di jalan raya.
Namun di seberang sana,
ada ibu yang mencintai anaknya dengan nasi setengah piring.
Siapa yang lebih patriotik — yang berteriak, atau yang bertahan?

X — Republik yang Mengganti Nurani dengan Anggaran

Di setiap rapat anggaran, nurani dikalkulasi dalam Excel.
Empati dibagi dalam persentase,
dan kasih diganti dengan dana hibah.

Mereka memotong anggaran pendidikan
untuk membiayai baliho dan seremonial.
Negeri ini tampak makmur dalam spanduk,
tapi busuk dalam laporan kejujuran.

XI — Negeri Statistik

Angka-angka naik di layar:
pertumbuhan, produktivitas, konsumsi.
Semua tampak membaik,
kecuali kehidupan itu sendiri.

Rakyat menjadi data, bukan manusia.
Mereka disebut “keluarga miskin” seperti nama produk.
Dan pemerintah menyebut mereka “target bantuan”,
bukan “saudara sebangsa”.

XII — Parade Positif Thinking

Kini “positif thinking” adalah agama baru.
Semua kritik dianggap dosa,
semua keluhan dicap pesimis.

Rakyat diajarkan tersenyum dalam lapar,
menyebut krisis sebagai peluang,
dan menganggap ketidakadilan sebagai ujian iman.

Negeri ini damai karena rakyatnya pandai menipu diri sendiri.

XIII — Media yang Menjadi Cermin Kekuasaan

Media bersolek di depan penguasa.
Berita bukan lagi kebenaran,
melainkan kosmetik yang menutupi luka.

Mereka memuja dengan diksi manis,
menyembunyikan duka dengan iklan pemerintah.
Rakyat menatap layar seperti menatap surga palsu —
indah, tapi tak bisa dimasuki.

XIV — Negeri yang Kehilangan Bahasa Rakyatnya

Pemerintah berbicara dengan bahasa langit,
rakyat menjawab dengan bahasa lapar.
Keduanya tidak pernah saling mengerti.

Di pasar, ibu-ibu berdiskusi soal harga sayur,
di televisi, pejabat berdiskusi soal visi ekonomi.
Jaraknya seperti bumi dan surga —
bertemu hanya dalam doa, tidak dalam kenyataan.

XV — Pembangunan Tanpa Tangga

Gedung-gedung tumbuh seperti jamur ambisi,
jalan tol membelah tanah sawah,
sementara rakyat kecil menatap dari bawah,
mencari tangga yang tak pernah dibangun.

“Pemerataan,” kata mereka,
tapi beton lebih cepat dari belas kasihan.
Dan di balik setiap proyek megah,
ada doa petani yang tenggelam di lumpur.

XVI — Republik yang Pandai Berpose

Setiap hari adalah upacara foto bersama.
Pemimpin tersenyum di depan kamera,
sementara rakyat tersenyum di depan cermin retak.

Negeri ini pandai tampil gagah,
tapi di balik jasnya, tubuhnya penuh luka.
Ia memoles wajahnya dengan filter nasionalisme,
padahal matanya mulai rabun menatap kenyataan.

XVII — Rakyat yang Belajar Diam

Kritik kini barang mewah,
diam jadi kebijaksanaan.
Rakyat menutup mulut karena tahu,
kejujuran tak lagi punya nilai tukar.

Mereka yang berteriak disebut pengkhianat,
mereka yang tunduk disebut pahlawan.
Dan negeri ini pun stabil —
stabil dalam kepura-puraan.

XVIII — Harapan yang Tak Sempat Diterjemahkan

Petani menunggu air,
guru menunggu penghargaan,
nelayan menunggu harga yang adil,
pemuda menunggu masa depan yang tak datang.

Harapan menjadi kamus asing —
kata yang sering diucap, tapi tak pernah dipahami.
Negeri ini sibuk menerjemahkan kemajuan,
tapi lupa menerjemahkan kasih sayang.

XIX — Doa di Tengah Gemuruh Upacara

Di tengah parade dan pidato,
ada suara kecil yang nyaris tak terdengar.
Itu doa para ibu,
yang memasak nasi dari beras terakhir,
yang tetap menunduk dalam sabar ketika negara tak lagi peduli.

Di mata mereka, Tuhan bukan di istana,
tapi di panci yang terus menggelegak meski tanpa lauk.
Mereka adalah ayat-ayat yang tak dibaca dalam konstitusi,
tapi menjadi alasan bangsa ini belum sepenuhnya runtuh.

XX — Negeri yang Berlari dari Bayangannya

Dan akhirnya, negeri ini terus berlari.
Bukan menuju masa depan,
tapi dari bayangannya sendiri.

Ia berlari dari janji yang gagal,
dari rakyat yang menunggu,
dari sejarah yang menuntut.

Namun setiap kali ia menatap belakang,
di sana selalu ada gembel —
menatapnya dengan senyum getir,
menulis puisi di dinding kota:

“Wahai para raja,
kalian boleh berlari sekencang ambisi,
tapi kami akan terus berjalan —
sebab langkah kami lebih jujur dari podium kalian.”


Sumatera Barat, Indonesia, 2025.