HATI DI ANTARA GELOMBANG: Bagaimana Puisi Membantu Kita Memahami Diri Sendiri
Esai Oleh Susanti Desmita Putri
[PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]
————

Di tengah dunia yang bergerak cepat, dipenuhi data, kebisingan, dan tuntutan tanpa henti, puisi tetap menjadi jembatan lembut namun tak tergoyahkan menuju batin terdalam kita. Lebih dari sekadar rangkaian kata indah, puisi adalah tempat perlindungan untuk penyembuhan, perenungan, dan kekuatan yang tenang. Ia mengajak kita tak hanya untuk mendengar bahasa, tetapi juga mendengar bisikan hati kita sendiri.
Melalui tiga puisi indah karya penyair Indonesia, Leni Marlina—”Lautan yang Tak Pernah Menjadi Lumpur” (2016), “Wahai Pencari Bahagia” (2003), dan “Jalan yang Tak Dapat Kembali” (2016)—kita kembali menemukan alasan mengapa puisi bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan untuk hidup secara utuh. Semua karya ini telah dipublikasikan secara digital di situs suaraanaknegerinews.com.
Dalam “Lautan yang Tak Pernah Menjadi Lumpur”, Leni Marlina menggambarkan amarah bukan sebagai hal yang menakutkan, melainkan sebagai pasang surut alami dalam diri kita. Ia melukiskan pengkhianatan dan kesedihan sebagai serpihan yang diseret oleh gelombang marah, namun ia mengingatkan bahwa seperti laut, kita pun memiliki kekuatan untuk tetap jernih. “Laut menelan amarah,” tulisnya, “bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk mengembalikannya sebagai hujan.” Dari bait ini, kita belajar bahwa ketangguhan sejati bukan tentang menekan rasa sakit, tetapi mengubahnya. Puisi seperti ini menjadi ruang suci untuk memproses duka tanpa kehilangan jati diri. Menulis puisi menjadi bukan hanya tindakan kreatif, tetapi juga ritual penyembuhan diri—cara untuk tetap utuh meski hati terasa remuk.
“Wahai Pencari Bahagia” menawarkan renungan lembut tentang kebahagiaan dan kerinduan. Melalui gambaran sungai yang dikejar dan bintang yang diraih, Marlina menangkap dahaga manusia yang tak kunjung reda akan kebahagiaan—hanya untuk mengungkap kesia-siaannya. Lewat pertanyaan lembut, “Jika bahagia adalah angin, mengapa kau ingin menggenggamnya?” ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang ditaklukkan atau dimiliki, melainkan disambut seperti datangnya senja yang perlahan. Puisi ini mengingatkan bahwa kedamaian tidak hadir dari pencapaian yang gelisah, melainkan dari kehadiran yang sabar. Di dunia yang sibuk mengejar prestasi, puisi seperti ini menjadi napas yang menenangkan—sebuah ajakan untuk kembali ke dalam diri.
Terakhir, “Jalan yang Tak Dapat Kembali” menggali kehilangan-kehilangan yang tak terelakkan dalam setiap perjalanan hidup. Marlina membawa kita menyusuri jalan tempat pintu-pintu yang dulu akrab kini menghilang, dan tangan berubah menjadi abu—sebuah jalan tanpa kembali. Namun dalam lanskap yang menggetarkan ini, puisinya tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sebaliknya, ia menghormati keberanian untuk terus melangkah. Puisi seperti ini memberi suara pada perjuangan diam-diam yang sering tak terlihat. Ia mengingatkan bahwa bertahan hidup, di tengah perubahan yang tak bisa dibalikkan, adalah sebuah kemenangan. Menulis tentang kehilangan memungkinkan baik penyair maupun pembaca untuk menemukan ketangguhan di tengah ketiadaan.
Sebagai penutup, puisi bukanlah peninggalan masa lalu—melainkan kebutuhan yang hidup. Dalam “Lautan yang Tak Pernah Menjadi Lumpur”, kita belajar bagaimana mengolah luka menjadi damai. Dalam “Wahai Pencari Bahagia”, kita menyadari bahwa kebahagiaan datang bukan dari menggenggam, tetapi dari melepaskan. Dalam “Jalan yang Tak Dapat Kembali”, kita melihat bahwa terus melangkah meski kehilangan adalah bentuk kemenangan. Melalui puisi-puisi Leni Marlina, kita memahami bahwa puisi adalah mercusuar di tengah badai kehidupan—suar yang memanggil kita kembali pada diri sejati. Di dunia yang sering terburu-buru melewati emosi dan perenungan, puisi mengajak kita untuk berhenti sejenak, merasakan, dan mengingat. Maka puisi bukan sekadar keindahan, melainkan tentang bertahan hidup. Tentang menjaga nyala kemanusiaan tetap menyala, ketika segalanya mencoba memadamkannya.
Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025
Referensi:
Marlina, Leni. (2016). “Lautan yang Tak Pernah Menjadi Lumpur”. Dipublikasikan di suaraanaknegerinews.com: https://suaraanaknegerinews.com/we-and-the-stone-the-poems-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/.
Tanggal Publikasi: 6 Mei 2025. (Diakses: 21 April 2025)
Marlina, Leni. (2003). “Wahai Pencari Bahagia”. Dipublikasikan di suaraanaknegerinews.com: https://suaraanaknegerinews.com/o-seeker-of-joy-kumpulan-puisi-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-satu-pena-sumbar-kreator-era-ai-fsm-acc-shila/.
Tanggal Publikasi: 4 Agustus 2003. (Diakses: 21 April 2025)
Marlina, Leni. (2016). “Jalan yang Tak Dapat Kembali”. Dipublikasikan di suaraanaknegerinews.com: https://suaraanaknegerinews.com/we-and-the-stone-the-poems-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/.
Tanggal Publikasi: 10 November 2016. (Diakses: 21 April 2025)
——————————————-
Informasi Singkat tentang Penulis:
Susanti Desmita Putri lahir pada tahun 2005 di Inderapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia. Ia merupakan alumni SMA Negeri 01 Pancung Soal. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Selain itu, Susanti Desmita Putri juga aktif sebagai anggota PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat) dan PPIC (Poetry-Pen Indonesia Community).
Tulisan ini telah dipresentasikan secara virtual pada acara Poetry Book Launching and Discussion (Poetry-BLaD) dan International Online Seminar on Poetry (IOSoP) yang diselenggarakan pada 31 Mei 2025 di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Acara ini diselenggarakan oleh Media Suaraanaknegerinews.com bekerja sama dengan UNP.
Video presentasi Susanti dapat diakses secara publik melalui tautan resmi berikut:
The English version of the essay above can be accessed through this official link below:
HEARTS IN THE TIDES: How Poetry Helps Us Understand Ourselves