April 25, 2026

Esai Karya : Aysah Muasis Siddiqah

[PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]

—————

Puisi adalah bentuk sastra yang unik yang menangkap pemikiran mendalam, menggambarkan adegan yang hidup, dan menceritakan kisah-kisah kuat melalui kata-kata yang dipilih secara cermat dan disusun secara artistik. Puisi membantu kita mengeksplorasi dan mengungkapkan emosi yang kompleks. Melalui pembelajaran dan penghargaan terhadap puisi, kita secara alami meningkatkan kemampuan berbahasa—termasuk kosakata, pemahaman, serta kepekaan terhadap nuansa dan ritme bahasa. Di dunia yang serba cepat saat ini, banyak orang merasa kesulitan untuk mengungkapkan isi hati mereka yang sebenarnya. Puisi menjadi jembatan, menawarkan cara yang indah dan kuat untuk menyampaikan perasaan yang mungkin tak terucapkan. Puisi menghubungkan hati lintas budaya, usia, dan pengalaman. Dalam esai ini, saya akan membahas tiga puisi karya penyair Indonesia, Leni Marlina, yang dengan dalam mencerminkan ikatan yang terbentuk melalui emosi dan hubungan: “Waktu Menua di Tubuh Ibuku” (2004), “Ketika Temanku Pergi” (2017), dan “Matahari yang Seakan Lupa Terbit Saat Kau Hendak Pergi” (2017). Ketiga puisi ini dipublikasikan secara digital di platform suaraanaknegerinews.com pada tahun 2024.

Dalam puisi pertama, “Waktu Menua di Tubuh Ibuku” (2004), Marlina menuliskan tentang cinta ibu yang abadi dan tak tergantikan. Ia menggambarkan sosok ibu sebagai simbol kekuatan, keteguhan, dan kasih sayang tanpa syarat—tempat berlindung yang damai dan tak pernah pudar. Meskipun waktu mengubah penampilannya, cintanya tetap teguh dan abadi. Gaya penulisan Leni Marlina dalam puisi ini sederhana namun mendalam, membuat pesan mudah dipahami dan menyentuh hati pembaca. Melalui puisi ini, kita diingatkan bahwa ikatan dengan seorang ibu adalah salah satu hubungan paling abadi dalam hidup.

Pada puisi kedua, “Ketika Temanku Pergi” (2017), Marlina menggambarkan kesedihan mendalam akibat kehilangan seorang sahabat. Setiap bait menggambarkan bagian dari perjalanan emosional—kesedihan yang menyakitkan, kenangan yang membekas, dan penerimaan akan kehilangan yang manis namun pahit. Meski hati terasa berat dan mata dipenuhi air mata, sang penulis belajar untuk merelakan. Struktur puisi ini, dengan dua belas baris yang disusun dengan cermat, menarik secara visual dan menggetarkan secara emosional. Leni Marlina berhasil menyentuh pengalaman universal tentang persahabatan dan perpisahan, membuat pembaca merenungkan kembali hubungan persahabatan dan ikatan yang mereka miliki.

Puisi ketiga karya Marlina, “Matahari yang Seakan Lupa Terbit Saat Kau Hendak Pergi” (2017), adalah salah satu puisi favorit saya. puisi ini secara luar biasa menggunakan bahasa kiasan untuk menggambarkan kesedihan yang mendalam saat perpisahan terjadi. Imajinasi tentang matahari yang lupa terbit mencerminkan kegelapan emosional yang dirasakan ketika seseorang yang berarti hendak pergi. Dengan delapan belas baris yang ada, puisi ini dengan indah menggambarkan perasaan cinta, kerinduan, dan kesedihan yang mendalam. Puisi ini mengingatkan kita bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata yang indah—melainkan ekspresi kuat dari hati dan pikiran yang dapat menggerakkan serta menginspirasi para pembacanya.

Sebagai kesimpulan, puisi jauh dari sekadar kumpulan kata tanpa makna. Puisi membawa emosi yang dalam, menyimpan kenangan berharga, dan memperkuat hubungan antarmanusia. Ketiga puisi karya Leni Marlina—“Waktu Menua di Tubuh Ibuku” (2004), “Ketika Temanku Pergi” (2017), dan “Matahari yang Seakan Lupa Terbit Saat Kau Hendak Pergi” (2017)—menunjukkan bagaimana puisi dapat menangkap keindahan hubungan, rasa sakit karena kehilangan, dan pengalaman emosional yang mendalam yang kita semua alami. Melalui puisi, kita tidak hanya menemukan cara untuk mengekspresikan diri, tetapi juga jalan untuk terhubung lebih dalam dengan orang lain.

Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025

Biografi Singkat Penulis:

Aysah Muasis Siddiqah adalah mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Lahir di Pariaman tahun 2006, saat ini ia tinggal di Padang. Ia lulus dari SMAN 1 Sarolangun pada tahun 2024.

Selain itu, Aysah aktif sebagai anggota beberapa komunitas sastra dan puisi, seperti PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Littalk-C (Komunitas Diskusi Sastra), dan EL4C (Komunitas Pembelajaran Bahasa Inggris, Sastra, dan Literasi).

Referensi:

Marlina, Leni (2004). “Waktu Menua di Tubuh Ibuku.” koleksi puisi pilihan di media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 15 Februari 2025. Diakses April 2025. https://suaraanaknegerinews.com/time-ages-upon-my-mothers-body-a-poetry-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-sumbar-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/

Marlina, Leni (2017). “Ketika Temanku Pergi.” Koleksi puisi pilihan di media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 11 Februari 2025. Diakses April 2025. https://suaraanaknegerinews.com/when-my-friend-left-a-poetry-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-sumbar-indonesian-creator-of-ai-era/

Marlina, Leni (2017). “Matahari yang Seakan Lupa Terbit Saat Kau Hendak Pergi.” Koleksi puisi pilihan di media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 11 Februari 2025. Diakses April 2025. https://suaraanaknegerinews.com/the-sun-that-seemed-to-forget-to-rise-when-you-were-about-to-leave-a-collection-of-poems-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-satu-pena-sumbar-kreator-era-ai-fsm-acc-shila/

Karya Aysah di atas dipresentasikan secara virtual dalam acara peluncuran dan diskusi buku puisi (Poetry-BLaD) serta seminar internasional daring tentang puisi (IOSoP) yang diselenggarakan pada 31 Mei 2025 di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, bekerja sama dengan media suaraanaknegerinews.com.

Video presentasi Aysah dari acara tersebut dapat diakses publik melalui tautan resmi berikut:

The English version of the essay above can be accessed by public in this official link below:

IMPORTANCE OF POETRY: The Relationships and Bonds That Are Formed Strongly Through Poetry

IMPORTANCE OF POETRY: The Relationships and Bonds That Are Formed Strongly Through Poetry