April 21, 2026

Hidup yang Dipilih: Kesadaran Lintas Bahasa Dalam Puisi Bilingual Anna Keiko “If You Want to Live”

anakeiko

Foto penyair Shanghai: Anna Keiko - The Founder & Leader of ACC Shanghai International Literary Association (ACC SHILA). Sumber gambar: Doc's AK via PPIC.

Esai oleh Leni Marlina

Membaca “If You Want to Live karya”/ “Jika Engkau Ingin Hidup” karya penyair internasional asal Shanghai – Anna Keiko dalam versi Inggris dan Indonesia bukan sekadar membaca dua teks yang sama dalam bahasa berbeda. Ia lebih menyerupai pengalaman mendengar satu suara yang sama berbicara dengan dua intonasi batin. Versi Inggris terdengar lebih tenang, ringkas, hampir asketis. Versi Indonesia, melalui terjemahan Leni Marlina, menghadirkan kehangatan emosional dan kedalaman rasa yang lebih berlapis. Keduanya saling menguatkan, dan justru di antara keduanya, makna puisi ini tumbuh dengan utuh.

Puisi ini tidak memulai dengan janji. Ia membuka diri dengan syarat: “If you want to live” / “Jika engkau ingin hidup.” Kata if—atau jika—menjadi pintu utama. Hidup tidak diasumsikan sebagai sesuatu yang otomatis. Ia bukan sekadar fakta biologis, melainkan keputusan batin. Dalam versi Indonesia, frasa “benarlah” menambahkan nuansa etis: hidup bukan hanya pilihan, tetapi pilihan yang menuntut kejujuran terhadap diri sendiri.

Ajakan berikutnya untuk melupakan ganjaran dunia yang sia-sia terasa semakin kuat ketika dibaca berdampingan. Versi Inggris menyebut vain rewards, dingin dan langsung. Versi Indonesia memperhalusnya menjadi ganjaran dunia yang sia-sia, dengan nada reflektif, seolah diucapkan oleh seseorang yang telah lama hidup dan belajar dari kekecewaan. Di sini, puisi ini tidak menyerang dunia, tetapi kelekatan manusia pada penghargaan yang cepat dan rapuh.

Ketika puisi bergerak pada larik “Forget the nightmare, open the window / “Lupakan mimpi buruk itu, bukalah jendela,” kita melihat perbedaan kecil yang bermakna. Versi Indonesia menambahkan kata itu, seolah mimpi buruk tersebut konkret, personal, pernah dialami. Membuka jendela tidak lagi abstrak; ia menjadi tindakan sadar untuk keluar dari pengalaman gelap yang spesifik. Tetapi, baik dalam versi Inggris maupun Indonesia, jendela bukan akhir, melainkan perantara.

Pusat puisi ini ada pada cahaya. “Light up the lamp, shine into yourself” / “nyalakan pelita, biarkan cahayanya menembus ke relung dirimu.” Di sinilah terjemahan Indonesia menunjukkan kekuatan puitiknya. Kata relung memberi kesan kedalaman batin yang berlapis, tidak datar. Cahaya tidak hanya menerangi permukaan diri, tetapi masuk ke bagian terdalam yang sering tersembunyi. Hidup, menurut puisi ini, dimulai dari keberanian menatap ke dalam, bukan dari pencarian validasi di luar.

Metafora jiwa sebagai termos terasa sederhana dalam dua bahasa, tetapi efeknya berbeda. Versi Inggris terdengar fungsional dan modern. Versi Indonesia, dengan tambahan kata menyimpan hangat, menghadirkan rasa keibuan dan perawatan. Jiwa bukan api yang harus terus membara; ia sesuatu yang perlu dijaga agar tidak dingin. Dalam dunia yang sering menuntut manusia untuk selalu menyala dan tampil kuat, metafora ini terasa jujur dan menenangkan.

Benteng dan dinding persegi juga mengalami pergeseran rasa. Dalam versi Inggris, ia terasa struktural. Dalam versi Indonesia, ia menjadi lebih emosional: dinding-dinding itu menahan suhu agar terus naik. Perlindungan diri tidak dilihat sebagai penutupan, tetapi sebagai cara mempertahankan kehidupan batin. Puisi ini tidak mengglorifikasi keterbukaan tanpa batas. Ia mengakui bahwa dalam situasi tertentu, bertahan hidup justru membutuhkan jarak.

Larik tentang angin aneh dan tubuh—“weird wind” dan “daging dan darahku”—menjadi titik ketegangan paling kuat. Versi Indonesia, dengan penggunaan kata mengalahkan, memberi kesan pergulatan yang lebih personal. Tubuh diakui rapuh, tetapi tidak diserahkan begitu saja. Ada upaya sadar untuk mengendalikan ketakutan, kelelahan, dan naluri menyerah. Puisi ini memahami bahwa hidup sering kali adalah negosiasi antara tubuh dan kesadaran.

Bagian paling menyentuh hadir ketika warisan orang tua disebutkan. Dalam versi Inggris, “a gift of my parents” terdengar ringkas dan simbolik. Versi Indonesia memperluasnya menjadi “warisan mulia dari ayah dan ibuku”. Di sini, puisi beralih dari individualisme ke relasi. Kulit yang dililit lapis demi lapis bukan sekadar tubuh biologis, melainkan identitas yang dibentuk oleh cinta, nilai, dan pengalaman lintas generasi. Hidup, ternyata, tidak pernah sepenuhnya milik kita sendiri.

Setelah semua proses batin itu, puisi perlahan membuka kembali indra. Mata dan telinga kembali berfungsi. Angin musim semi datang. Sungai dan jalan hadir bersamaan. Dunia kembali, tetapi tidak lagi mengancam. Versi Indonesia menambahkan kelembutan ritme, membuat kembalinya dunia terasa seperti undangan, bukan tuntutan.

Puisi ini tidak menutup dengan kepastian. “I’m looking for a harbor in my dreams / aku mencari sebuah pelabuhan tempat hatiku berlabuh.” Versi Indonesia menambahkan kata hati, memperjelas bahwa pelabuhan itu bersifat emosional, bukan geografis. Hidup tidak diselesaikan. Ia terus dicari, bahkan mungkin hanya bisa ditemukan dalam mimpi.

Jika dibaca bersama, kedua versi puisi ini memperlihatkan sesuatu yang jarang: bagaimana makna tidak hanya berpindah bahasa, tetapi tumbuh. Versi Inggris memberi kerangka yang jernih. Versi Indonesia memberi kedalaman rasa. Bersama-sama, keduanya menegaskan bahwa hidup, sebagaimana digambarkan Anna Keiko, bukan soal menang atau tiba, melainkan soal menjaga diri agar tetap utuh di tengah dunia yang mudah mengikis.

Puisi ini tidak menawarkan jawaban besar. Ia hanya mengingatkan kita pada satu hal yang sederhana namun sulit: jika kita ingin hidup, kita harus tahu apa yang layak dilepaskan, apa yang perlu dijaga, dan dari mana kita berasal.

(LM – Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026)

——-

Lampiran Puisi

If You Want to Live

Poem by Anna Keiko

If you want to live
it’s better to forget the vain rewards of the world
Forget the nightmare, open the window
Light up the lamp, shine into yourself

The soul is like a thermos
The square wall is like a fortress and the temperature rises
No fear any more that the weird wind
Defeat my flesh and blood
I wrap my skin, layer by layer, with a gift of my parents

Then, my eyes and my ears
Wind of springalong the river avenue
I’m looking for a harbor in my dreams

Shanghai, China, August 2nd, 2021

———
Note:

The poem by Anna Keiko (China) above is taken (poem no. 12) from her solo poetry collection book entitled “SUNRISE OF HOPE” (2021). It was originally translated from Chinese into German and English by Andreas Weiland

…….

Indonesian Version of the poem above:

Jika Engkau Ingin Hidup

Puisi: Anna Keiko

Penerjemah (Inggris-Indonesia):
Leni Marlina

Jika engkau ingin hidup,
benarlah: lupakan saja ganjaran dunia yang sia-sia.
Lupakan mimpi buruk itu, bukalah jendela,
nyalakan pelita,
biarkan cahayanya menembus ke relung dirimu.

Jiwa adalah termos yang menyimpan hangat,
sedang dinding-dinding persegi, kokoh seperti benteng,
menahan suhu agar terus naik.
Tak ada lagi takut
pada angin aneh yang mencoba
mengalahkan daging dan darahku.

Kulilitkan kulitku, warisan mulia
dari ayah dan ibuku, lapis demi lapis,
lalu mataku, telingaku,
terbuka oleh angin semi
yang melintas di jalan sungai.

Di sana, di balik mimpiku,
aku mencari sebuah pelabuhan
tempat hatiku berlabuh.

Shanghai, China, 2021

——
Catatan:

Puisi Anna Keiko (China) di atas merupakan salah satu puisi (puisi no. 12) dari kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul “SUNRISE OF HOPE” (2021). Puisi tersebut sebelumnya diterjemahkan dari bahasa Cina ke bahasa Jerman dan Inggris oleh Andreas Weiland

————

About the Poet

Anna Keiko is a distinguished poet and essayist from Shanghai, China, whose voice has become one of the most vibrant threads in contemporary world literature. A graduate of East China University of Political Science and Law, she later devoted herself fully to poetry, a path that led her to remarkable international recognition. Her works have been translated into more than 30 languages and published in over 500 journals, magazines, and global media outlets across 40 countries.

As the founder and Editor-in-Chief of the ACC Shanghai Huifeng Literature Association, Anna also serves as the China Representative and Director of the International Cultural Foundation Ithaca. Her literary affiliations span Imagine & Poesia in Italy, the Canadian–Cuban Literary Union, and numerous other cross-cultural networks, reflecting her commitment to building global bridges through poetry.

About the Translator & Reviewer

Foto penulis: Leni Marlina. Sumber gambar: panitia IPLF (International Panorama Literacy Festival) 2026 & Capital Writers International Foundation (www.panoramafestival.org).

Leni Marlina is an Indonesian poet, writer, and lecturer at English Languange & Literature Study Program, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang on Indonesia, where she has taught since 2006.

In 2025, she was appointed Indonesian Poetry Ambassador for the ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) and ASEAN Director for ACC SHILA Poets. In the same year, she was entrusted by the Capital Writers International Foundation as National Director (Indonesia) for the International Panorama Literary Festival (IPLF) 2026. For more information or to participate in the festival, please visit www.panoramafestival.org.

Silahkan lihat puisi Anna Keiko di atas bersama puisi lainnya karya Anna di link puisi berikut:

ANNA KEIKO’ POEMS FROM SUNRISE OF HOPE SOLO POETRY COLLECTION TRANSLATED BY LENI MARLINA