April 25, 2026

Paulus Laratmase

Ketika René Descartes ditanya, “Quad Vitae Sectabor Iter?” (Jalan hidup manakah yang harus kutempuh?), ia menjawab dengan tegas: “Cogito Ergo Sum”  “Aku berpikir, maka aku ada.” Sebuah pernyataan sederhana namun revolusioner, yang menjadi fondasi filsafat modern dan pemahaman kita tentang ilmu pengetahuan.

Bagi Descartes, eksistensi dimulai dari kesadaran. Dunia, kenyataan, bahkan diri sendiri, baru benar-benar “ada” jika dipikirkan. Subjek (res cogitans) yaitu aku yang berpikir — menjadi titik awal dari segala pengetahuan. Dunia luar (res extensa)  yaitu objek yang dipikirkan hanya bermakna sejauh ia hadir dalam kesadaran sang subjek. Maka, ilmu pengetahuan (ergo) muncul sebagai jembatan antara keduanya: antara aku dan dunia, antara pikiran dan kenyataan.

Mengapa ilmu penting? Karena jika aku tidak berpikir,  jika aku tidak menggunakan akal budi untuk memahami,  maka dunia pun kehilangan maknanya. Dunia tak ada dalam bentuk yang bisa dimengerti. Di sinilah letak kekuatan ilmu: ia adalah aktivitas berpikir yang menghadirkan dunia ke dalam kesadaran manusia. Tanpa ilmu, kita buta akan keberadaan dan makna segala sesuatu.

Descartes menekankan pentingnya jarak atau detachment antara subjek dan objek agar diperoleh objektivitas. Untuk benar-benar memahami, seseorang perlu mengambil langkah mundur dari keterlibatan emosional, agar penalaran bisa berjalan jernih. Bahkan diri sendiri harus dilihat dari kejauhan. “Jika aku tidak berpikir tentang diriku, maka aku pun tak ada,” katanya. Kesadaran diri, sebagaimana kesadaran dunia, lahir melalui proses berpikir yang teratur dan metodis.

Inilah esensi dari ilmu: bukan sekadar kumpulan fakta, tetapi kesadaran yang aktif dan reflektif. Ilmu adalah upaya memahami realitas dengan jernih, melalui lensa akal dan logika. Ilmu adalah cara kita menyapa dunia, dan sekaligus menemukan diri sendiri di dalamnya.

Sebagaimana Descartes mewariskan kepada kita kerangka berpikir kritis dan metodologis, kita pun diingatkan bahwa menjadi manusia sejati berarti terus berpikir  agar dunia tetap ada, dan agar kita tetap ada di dalamnya.