In Memoriam Romo Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ
Oleh Chris Purba
–
Circa tahun 1998 sampai 2000an, saya sering bertemu dengan Romo Mudji. Romo yang dikenal bukan hanya sebagai rohaniawan dan filsuf, melainkan juga sebagai seniman dan budayawan.
Sependek ingatan, saya pertamakali bertemu pada saat mengikuti Extension Course Filsafat di STF Driyarkara, tema kelas “Filsafat Timur”, sekitar 25 tahun silam. Pada saat itu bukunya “Zen Buddhis: Ketimuran dan Paradoks Spiritualitas” baru saja diterbitkan tahun 2002 oleh Penerbit Obor.
Sebelum kuliah pertama dari kelas “Filsafat Timur” puluhan buku itu tergeletak di atas meja. Romo bilang, “Saya meminta kepada penerbit agar mengirimkan buku-buku ini. Anda sekalian bagi yang membutuhkan silahkan mengambil bukunya”. Kami pun mengambil ke depan. Buku itu dibagikan gratis dan menjadi buku panduan untuk kelas “Filsafat Timur”. Seingat saya Romo Mudji bilang buku yang dibagikan gratis ini setelah dipotong royaltinya sebagai penulis. Seperti itulah gambaran kebaikan beliau. Setelah kelas usai, kami antri meminta tanda-tangannya di buku itu. Saya masih menyimpannya.
Banyak orang sering berpapasan dengan Romo Mudji. Berjalan kaki dengan tas tote bag. Termasuk saya. Sekitar tahun 2019, seingat saya sebelum pandemi, saya berpapasan dengannya di Stasiun Cikini, “Romo, saya ambil kelas matrikulasi lagi.” Berpapasan singkat saja, beliau langsung diskusi mengaitkan Seni dan Immanuel Kant.
Tengah malam membaca pesan berita kepulangan. Saya bersyukur pernah bertemu dengan beliau. Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik. Selamat jalan, Romo Mudji.
Semoga menjadi berkat,
Jakarta, 29/12/2025
Chris Poerba
Foto 2014: Pada saat pameran sketsa Romo Mudji di Taman Ismail Marzuki (17/01/2014)