Inspirasi Inklusif Dibalik Penggalan Kalimat Sambutan Kabid Penmad Kemenag Sumbar “Perjalanan yang Panjang Dimulai dari Sebuah Langkah Kecil”
Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I
Kepala MAN Kota Sawahlunto,
Pengurus FPMI Sumbar, dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumbar
Ada kalimat sederhana yang menggetarkan ruang virtual Rapat Koordinasi dan Pelantikan Pengurus Forum Pendidikan Madrasah Inklusif (FPMI) Pergantian Antar Waktu (PAW) Provinsi Sumatera Barat, Selasa, 09 Desember 2025. Kalimat itu meluncur dari lisan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sumbar, H. Hendri Pani Dias, S.Ag., M.A. dengan nada mendalam namun tenang:
“Perjalanan panjang dimulai dengan langkah kecil.”
Sekilas terdengar biasa, tetapi bagi pengurus FPMI Sumbar, kalimat itu menjelma menjadi suluh. Ia menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu berakar dari kesediaan untuk memulai, dari keberanian untuk mengambil satu langkah pertama yang penuh ketulusan.
Kalimat itu bukan hanya penutup sambutan. Ia menjadi inspirasi, menjadi panduan batin, menjadi energi awal bagi pengurus FPMI Sumbar untuk merancang strategi, menyusun program, dan membangun gerakan inklusif di madrasah-madrasah se-Sumatera Barat.
Memulai itu memang sederhana tapi ide itu terbukti cemerlang bila telah memulai, lalu bila ingin menemukan hasil yang baik, kontiniulah. Seperti itulah batu besar bisa dipecah oleh tetesan air yang kontiniu.
Sebab hampir setiap untaian kalimat yang keluar dari beliau selalu bernilai, sarat makna, menyentuh logika sekaligus menggugah nurani. Ada jejak kepemimpinan yang meneduhkan dan memotivasi dalam setiap pesannya.
Madrasah Inklusif: Ruang Belajar untuk Semua
Di balik kalimat inspiratif itu, tersimpan harapan besar: hadirnya madrasah inklusif, yaitu madrasah yang membuka ruang belajar bagi semua peserta didik tanpa kecuali baik yang memiliki kebutuhan belajar umum maupun kebutuhan khusus.
Madrasah inklusif bukan sekadar memberikan izin hadir, melainkan menyediakan iklim yang memastikan setiap anak belajar dengan aman, nyaman, dihargai, dan diberdayakan.
Ciri-ciri utamanya antara lain:
1. Aksesibilitas yang Menenangkan
Tidak hanya ramah secara fisik, tetapi juga ramah dalam kebijakan, layanan, dan sikap seluruh warga madrasah.
2. Penghormatan terhadap Keragaman
Setiap peserta didik diakui sebagai pribadi unik. Keragaman bukan hambatan, melainkan kekayaan yang memperkaya interaksi dan budaya madrasah.
3. Kurikulum yang Adaptif
Pembelajaran dirancang untuk memenuhi kebutuhan banyak profil belajar. Tidak seragam, tetapi setara memberi kesempatan, bukan membatasi.
4. Kolaborasi Lintas Peran
Madrasah inklusif hidup melalui kerja sama: guru, orang tua, tenaga ahli, kepala madrasah, dan komunitas bergerak bersama.
Pembelajaran Inklusif: Ketika Kelas Menjadi Rumah bagi Semua Murid
Pembelajaran inklusif bukan sekadar metode, melainkan filosofi. Ia menjadikan kelas sebagai ruang yang memanusiakan murid.
Beberapa prinsipnya:
1. Diferensiasi Pembelajaran
Guru menyesuaikan kegiatan belajar berdasarkan kemampuan, gaya belajar, dan kebutuhan siswa.
2. Pendekatan Humanis
Guru mendidik dengan mata hati. Setiap anak dipandang sebagai amanah, bukan beban.
3. Penilaian Fleksibel
Instrumen evaluasi disesuaikan tanpa mengurangi esensi kompetensi yang ingin dicapai.
4. Dukungan Individual
Bagi siswa berkebutuhan khusus, guru menyediakan pendampingan, modifikasi tugas, bantuan visual, atau strategi khusus yang memudahkan pemahaman.
5. Pembelajaran Berbasis Empati
Di kelas inklusif, nilai moral dan sikap sosial tumbuh lebih subur. Murid belajar menghormati perbedaan sejak dini.
Guru Inklusif : Sosok yang Mengajar dengan Hati
Tidak ada madrasah inklusif tanpa guru inklusif. Guru inklusif adalah pendidik yang memiliki:
• Hati yang luas
Ia menerima murid apa adanya, mendidik dengan kesabaran, dan memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
• Pengetahuan pedagogis yang adaptif
Ia memahami cara mendesain pembelajaran yang beragam sesuai kebutuhan murid.
• Komitmen terhadap keadilan pendidikan
Baginya, kesempatan belajar bukan hak sebagian anak, melainkan hak setiap anak.
• Kemampuan berkolaborasi
Ia bekerja bersama guru lain, kepala madrasah, orang tua, dan tenaga ahli agar layanan pendidikan benar-benar berpihak pada murid.
Guru inklusif adalah sosok yang menjalankan perannya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga martabat manusia.
Niat Tulus Ketua FPMI Sumbar: Nurhidayati dan Madrasah Inklusifnya
Dalam perjalanan FPMI Sumbar, ada teladan nyata yang diuji oleh waktu. Ia adalah Nurhidayati, Ketua FPMI Sumbar sekaligus Kepala MTsN 3 Kota Padang.
Dengan ketulusan dan tekad yang jernih, ia telah menjadikan madrasah yang dipimpinnya sebagai madrasah inklusif yang sesungguhnya. Di bawah kepemimpinannya, MTsN 3 Kota Padang bukan hanya membuka pintu bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi memfasilitasi mereka dengan layanan profesional, adaptasi pembelajaran, suasana sosial yang positif, hingga bimbingan berkelanjutan.
Niat tulus itulah yang menjadi fondasi.
Karena dalam inklusi, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan atau fasilitas, tetapi oleh ketulusan hati para pemimpinnya.
Nurhidayati menunjukkan bahwa inklusi adalah kerja kemanusiaan. Ia tidak membangun madrasah inklusif karena tuntutan aturan, tetapi karena panggilan nurani bahwa setiap anak berhak belajar dalam martabat.
Langkah kecil yang ia mulai kini menjadi jejak besar bagi madrasah lain. Menjadi inspirasi bagi Sumatera Barat. Menjadi bagian penting dari perjalanan panjang inklusi nasional.
Menjemput Masa Depan dengan Langkah Kecil yang Berarti
Penggalan kalimat Kabid Penmad itu kini terasa lebih hidup:
“Perjalanan panjang dimulai dengan langkah kecil.”
Karena setiap perubahan besar dalam dunia pendidikan dimulai bukan dari fasilitas megah, bukan dari anggaran besar, tetapi dari tekad, niat baik, empati, dan keberanian memulai.
FPMI Sumbar telah mengambil langkah kecil itu melalui komitmen bersama, melalui kepemimpinan yang mendorong, dan melalui figur-figur teladan seperti Nurhidayati.
Dan dari langkah kecil yang hari ini diambil, akan lahir perjalanan panjang menuju madrasah yang lebih ramah, adil, humanis, dan menjangkau semua anak—tanpa kecuali.
Semoga langkah kecil hari ini menjadi tapak sejarah bagi inklusi yang lebih terang di masa depan.