May 10, 2026

Elza Peldi Taher

Setiap kali saya menjejakkan kaki di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, saya seperti memasuki mozaik besar bernama umat Islam. Wajah-wajah dari berbagai penjuru dunia menyatu dalam satu barisan salat. Ada yang tinggi besar berkulit putih dari Turki atau Bosnia, ada pula yang kecil dan bersahaja dari Nusantara dan Filipina. Warna kulit hitam, kuning langsat, sawo matang, semuanya menghadap ke arah yang sama: Ka’bah. Tapi yang menarik, cara mereka bersalat kadang berbeda. Ada yang meletakkan tangan di dada, ada yang di perut, ada yang membiarkannya lurus di samping badan.

Tak hanya itu, saya juga menyaksikan keberagaman kondisi fisik dan sosial jamaah. Ada yang datang dengan pakaian indah, tubuh tegap, dan aroma wangi. Namun tak sedikit pula yang hadir dengan pakaian sederhana, tubuh renta, bahkan cacat fisik. Saya pernah melihat seorang lelaki yang tidak memiliki kaki berjalan dengan cara ngesot, menyusuri lantai masjid dengan penuh keteguhan. Ada yang buta, digandeng oleh kerabatnya, ada yang bersandar di kursi roda, menggigil namun tetap khusyuk. Semua datang, semua hadir, semua merasa berhak dekat dengan Tuhan.

ini membuat saya terdiam. Di sini, semua perbedaan sirna dalam satu titik sujud. Islam merangkul semua yang datang dengan niat yang tulus, tak peduli rupa, harta, atau keadaan jasad. Inilah Islam dalam makna paling dalam: merata, menyeluruh, dan penuh kasih sayang. saya seperti memasuki mozaik besar bernama umat Islam. Wajah-wajah dari berbagai penjuru dunia menyatu dalam satu barisan salat. Ada yang tinggi besar berkulit putih dari Turki atau Bosnia, ada pula yang kecil dan bersahaja dari Nusantara dan Filipina. Warna kulit hitam, kuning langsat, sawo matang, semuanya menghadap ke arah yang sama: Ka’bah. Tapi yang menarik, cara mereka bersalat kadang berbeda. Ada yang meletakkan tangan di dada, ada yang di perut, ada yang membiarkannya lurus di samping badan.

Perbedaan ini bukan sesuatu yang perlu ditertawakan atau dicurigai. Ia adalah tanda bahwa Islam, meskipun bersumber dari satu wahyu yang sama, tumbuh dalam ladang budaya yang berbeda-beda. Islam seperti matahari: cahayanya satu, tapi yang menangkapnya bisa kaca, air, atau dedaunan. Masing-masing memantulkan sinarnya dalam bentuk yang khas.

Agama Langit, Kehidupan Bumi

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali Imran:103).

Ayat ini adalah pengingat kuat bahwa umat Islam diperintahkan untuk bersatu dalam keragaman. Sementara QS. Al-Hujurat:13 menegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling menegasi.

Kesadaran bahwa Islam itu satu tapi jalannya banyak, sebenarnya bukan hal baru. Dalam sejarah Islam, perbedaan pendapat—khilafiyah—selalu menjadi bagian dari dinamika umat. Ada empat mazhab dalam fikih Sunni yang besar, ditambah ragam tafsir dalam Syi’ah, Ibadiyah, dan lainnya. Tapi di zaman modern, ada kecenderungan yang mengkhawatirkan: sebagian umat Islam ingin menyeragamkan segala hal, bahkan dalam hal yang semestinya boleh berbeda.

Inilah yang disebut eksklusivisme beragama: merasa hanya dirinya atau kelompoknyalah yang benar, sementara yang lain menyimpang. Ini penyakit keagamaan yang muncul karena kombinasi ketidaktahuan, trauma sejarah, dan hasrat kuasa. Di berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia, kita pernah (dan masih) melihat gejalanya: pelabelan sesat terhadap kelompok tertentu, pembubaran acara keagamaan, hingga diskriminasi terhadap minoritas dalam Islam sendiri.

Namun, Indonesia juga punya tradisi lain. Negeri ini punya tokoh-tokoh besar yang memperjuangkan pluralisme, toleransi, dan inklusivitas dalam Islam. Empat nama besar saya sebut: Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid (Cak Nur), dan Djohan Effendi dan Azyumardi Azra. Saya menyebut mereka karena sudah berpulang.

Gus Dur dan Kemanusiaan sebagai Titik Temu

Gus Dur melihat kemanusiaan sebagai inti dari semua agama. “Tuhan tidak perlu dibela,” katanya. Yang perlu dibela adalah manusia yang menjadi korban atas nama Tuhan. Bagi Gus Dur, Islam yang benar adalah Islam yang menghormati kemanusiaan, bahkan pada orang yang berbeda iman. Maka tak heran jika dia membela Ahmadiyah, Syiah, bahkan gereja yang disegel oleh kelompok intoleran. Islam, bagi Gus Dur, bukan tembok yang membatasi, tapi jembatan yang menyambungkan.

Cak Nur dan Jalan al-Hanifiyyah al-Samhah

Dalam semesta pemikiran Islam Indonesia, tak mungkin mengabaikan peran besar Nurcholish Madjid, atau yang lebih akrab disebut Cak Nur. Ia bukan hanya pemikir, tetapi penentu arah. Dalam gagasannya, Cak Nur memperkenalkan konsep al-ḥanīfiyyah al-samḥah — yakni agama yang hanif (lurus, bersih dari syirik), dan samhah (toleran, lapang dada). Ini bukan sekadar istilah Arab, tapi sikap keberagamaan yang ia hidupkan dalam seluruh kiprahnya: Islam yang menolak kekerasan, tidak memaksa keyakinan, dan terbuka terhadap perbedaan.

Bagi Cak Nur, agama tidak boleh membunuh jiwa manusia, baik secara harfiah maupun batiniah. Agama tidak boleh menjadi alat represi, tetapi harus menjadi jalan pembebasan dan pencerahan. Ia dengan tegas menyatakan bahwa demokrasi, pluralisme, dan modernitas bukanlah musuh Islam, tapi justru bagian dari nilai-nilai etis Islam yang sejati: keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab moral.

Gagasannya tentang sekularisasi—yang sering disalahpahami—sebenarnya adalah seruan untuk desakralisasi politik, bukan penghilangan nilai agama. Ia ingin agar agama tidak direduksi menjadi ideologi kekuasaan yang membutakan, melainkan tetap menjadi sumber moral dan spiritual yang hidup.

Melalui ceramah-ceramah, tulisan-tulisan, dan pengaruhnya terhadap generasi muda Muslim Indonesia, Cak Nur berjasa besar membentuk wajah Islam Indonesia yang inklusif, terbuka, dan penuh penghormatan pada keragaman. Di tengah banyaknya suara yang ingin menyeragamkan umat, ia membisikkan pentingnya kesediaan untuk memahami sebelum menghakimi.

Djohan Effendi dan Perjumpaan Antariman

Nama Djohan Effendi barangkali tak sepopuler Gus Dur atau Cak Nur, tapi jejak pemikirannya dalam membangun jembatan antarumat beragama sangatlah dalam. Ia adalah perintis sejati dialog antariman di Indonesia, bahkan sejak masa-masa ketika isu itu belum populer dan justru dicurigai.

Bersama tokoh-tokoh dari berbagai agama, Djohan Effendi memprakarsai pertemuan-pertemuan lintas iman. Ia tidak berhenti pada toleransi yang pasif, tapi mengembangkan pengertian aktif — yakni perjumpaan, percakapan, dan kolaborasi antara pemeluk agama-agama yang berbeda dalam rangka membangun kedamaian sosial dan keadaban bersama.

Keyakinan dasarnya sederhana tapi mendalam: iman yang kuat tidak merasa terancam oleh perbedaan. Sebaliknya, hanya iman yang rapuh yang cepat melabeli dan menuduh.

Sebagai penulis dan intelektual, Djohan banyak menulis tentang Islam yang inklusif dan pembelaan terhadap kelompok minoritas dalam Islam. Ia juga memperjuangkan kebebasan beragama sebagai hak asasi, bukan sebagai hadiah negara. Dalam pandangannya, agama harus melindungi manusia, bukan menindasnya atas nama kebenaran.
Djohan pernah berkata bahwa setiap agama memiliki cahaya kebenarannya sendiri. Maka perjumpaan antaragama bukan untuk menyamakan keyakinan, melainkan untuk saling menyinari jalan hidup manusia.

Azyumardi Azra dan Islam Kosmopolitan

Tak lengkap membicarakan wajah Islam toleran tanpa menyebut nama Prof. Azyumardi Azra, seorang intelektual Minang yang sangat produktif dan berpengaruh dalam pengembangan pemikiran Islam moderat di Indonesia. Ia dua kali menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dikenal luas di dunia internasional berkat gagasan-gagasannya yang menjembatani antara tradisi Islam klasik dan tuntutan modernitas.
Azyumardi mempopulerkan konsep Islam kosmopolitan, yakni Islam yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, perbedaan, dan pergaulan global. Ia menolak dikotomi tajam antara Islam dan Barat, antara agama dan akal. Dalam banyak tulisannya, ia menunjukkan bahwa Islam Nusantara memiliki sejarah panjang dialog dan toleransi, jauh dari watak eksklusif dan kekerasan.

Sebagai pengakuan atas jasanya memperkenalkan Islam yang ramah, dialogis, dan modern, Azyumardi menerima gelar Commander of the Order of the British Empire (CBE) dari Kerajaan Inggris—penghargaan sipil tertinggi yang bisa diberikan kepada warga non-Inggris. Dengan penghargaan itu, Azyumardi berhak jika ia ingin, untuk dimakamkan di Taman Pahlawan Inggris. Sebuah kehormatan yang bahkan melampaui penghargaan yang diterima tokoh seperti David Beckham.

Azyumardi menunjukkan bahwa Islam yang terbuka dan beradab bukan hanya ideal, tapi nyata dan diakui dunia. Pemikirannya menjadi tonggak penting dalam lanskap pemikiran Islam global kontemporer.

Gagasan Sejenis di Dunia Islam dan Barat

Gerakan serupa tidak hanya muncul di Indonesia. Di Mesir, tokoh seperti Nasr Hamid Abu Zayd memperjuangkan tafsir Al-Qur’an yang kontekstual, menolak literalisme yang membeku. Ia menyatakan bahwa teks suci harus dibaca dengan kesadaran sejarah dan sosial. Sayangnya, pemikirannya dianggap sesat dan ia dipaksa meninggalkan negaranya sendiri.
Di Iran, Abdolkarim Soroush mengembangkan konsep “pluralisme religius” dan menyatakan bahwa wahyu bersifat tetap, tapi pemahaman manusia terhadapnya berubah-ubah. Di Turki, gerakan Hizmet yang diinspirasi oleh Fethullah Gülen mengusung pendidikan dan dialog antaragama sebagai inti dakwah Islam.

Di Barat, pemikir seperti Tariq Ramadan dan Hamza Yusuf menyerukan perlunya Islam yang kontekstual, etis, dan dialogis. Bahkan dokumen “The Amman Message” dari Yordania pada 2004 menyerukan pengakuan atas seluruh mazhab Islam yang sah dan menolak takfirisme.

Semua ini memperlihatkan bahwa ada arus pemikiran Islam yang progresif dan toleran, yang menolak kekakuan dan kekerasan dalam beragama.
Mengapa Eksklusivisme Bisa Tumbuh?
Mengapa di tengah arus keterbukaan, justru eksklusivisme kembali merebak? Ada beberapa sebab sosiologis. Media sosial menjadi ruang penyebaran ujaran kebencian dan polarisasi identitas. Selain itu ada Politik identitas yang menggunakan agama sebagai alat pembelahan. Juga kegelisahan umat menghadapi modernitas mendorong mereka mencari kepastian dalam cara-cara beragama yang rigid dan hitam-putih.
Islam yang penuh kasih kadang dibungkam oleh ketakutan dan kemarahan yang dibungkus dalil. Maka, tugas kita hari ini adalah merebut kembali agama dari mereka yang menyempitkan Tuhan.

Mengapa Saudi Tidak Mengalami Ini?

Di Arab Saudi, arus pemikiran Islam yang toleran dan progresif menghadapi tembok yang sangat kuat: dominasi ideologi Wahabisme. Ini adalah paham keagamaan konservatif yang memurnikan Islam dari segala hal yang dianggap bid’ah dan syirik. Dalam kerangka Wahabi, ziarah kubur, tasawuf, bahkan sekadar menghormati tradisi lokal dianggap penyimpangan. Uniformitas menjadi ideal. Padahal justru di negeri tempat Islam lahir ini, keragaman praktik Islam dunia tampak paling nyata—setiap musim haji dan umrah.

Namun sesungguhnya, benih-benih pemikiran toleran pernah tumbuh di Saudi. Salah satu contohnya adalah pemikir progresif Hasan Farhan al-Maliki, seorang cendekiawan Saudi yang kritis terhadap doktrin Wahabi dan menyerukan kembalinya Islam kepada semangat Al-Qur’an yang damai dan inklusif. Ia menolak takfirisme (pengkafiran) dan mengajak masyarakat Muslim untuk membaca ulang sejarah Islam secara kritis dan rasional. Tapi pemikirannya tidak mendapat ruang. Ia ditangkap oleh otoritas Saudi dan dikenai dakwaan “menyebarkan ideologi menyimpang” serta “merongrong stabilitas kerajaan.”

Kasus Hasan al-Maliki hanyalah salah satu dari banyak contoh. Beberapa ulama dan intelektual Saudi lainnya yang mencoba menyuarakan pembaruan keagamaan juga mengalami nasib serupa: dibungkam, dipenjara, atau dibatasi aktivitasnya. Hal ini menjelaskan mengapa tradisi keberagamaan yang toleran dan majemuk sangat sulit berkembang di Saudi. Bukan karena umatnya tak punya potensi, tapi karena sistemnya menutup rapat segala bentuk ijtihad baru.

Jika saja otoritas Saudi mau membuka mata terhadap apa yang mereka saksikan setiap hari di hadapan Ka’bah—lautan manusia yang berbeda mazhab, budaya, dan bahasa namun bersatu dalam sujud—mereka seharusnya sadar bahwa keberagaman itu bukan ancaman, melainkan kenyataan tak terhindarkan. Kehadiran umat Islam dari seluruh dunia adalah pelajaran hidup bahwa Tuhan tidak menciptakan keseragaman, melainkan keharmonisan dalam perbedaan. Maka yang dibutuhkan bukan pemaksaan seragam, tetapi kelapangan jiwa untuk membiarkan keragaman tumbuh.

Lalu, mengapa arus ini tidak tumbuh subur di Arab Saudi? Sebagian besar karena dominasi Wahabisme, sebuah paham yang memurnikan Islam dari segala hal yang dianggap bid’ah dan syirik. Dalam kerangka Wahabi, ziarah kubur, tasawuf, bahkan sekadar menghormati tradisi lokal dianggap penyimpangan. Uniformitas menjadi ideal. Padahal justru di negeri tempat Islam lahir ini, keragaman praktik Islam dunia tampak paling nyata—setiap musim haji dan umrah.
Ironi ini membuat saya berpikir: barangkali, yang paling takut pada keragaman adalah mereka yang belum selesai dengan keimanannya sendiri.

Di Hadapan Ka’bah, Kita Sama

Ketika saya kembali menatap Ka’bah terakhir kali usai tahawaf Wada dan melihat orang-orang dari seluruh dunia bersujud bersama, saya sadar: kita datang dari arah berbeda, tapi semua menuju satu titik. Kita membaca doa dengan bahasa yang berbeda, tetapi dengan harapan yang sama.

Islam tidak pernah menuntut kita menjadi seragam. Ia hanya meminta kita menuju Tuhan dengan keikhlasan. Jika Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, bukankah itu tanda bahwa Ia mencintai keragaman?
Maka jagalah keragaman ini. Jangan membenci hanya karena berbeda. Jangan merasa paling benar karena itu bukan hak kita. Di hadapan Tuhan, yang dilihat bukan mazhab kita, tapi ketulusan hati dan kebaikan amal.

yang akan bertahan bukanlah Islam yang membentengi diri dengan tembok kecurigaan, melainkan yang membentangkan jembatan pemahaman.Tugas kita hari ini adalah menjadi pelintas jembatan itu.
Karena itu saya percaya:
Islam, satu arah—tapi banyak jalan.

Madinah 26 Juni 2025