Pentingnya Puisi bagi Kehidupan Batin Kita yang Terdalam
Esai oleh Flarisa Desilia
[PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]
———————————————
Di dunia yang sering bergerak terlalu cepat, puisi hadir sebagai pengingat atas emosi dan kehidupan batin kita yang terdalam. Banyak orang mungkin menganggap puisi sudah kurang relevan, namun kenyataannya puisi terus menangkap apa yang tersembunyi di balik permukaan eksistensi manusia—rasa sakit, mimpi, dan kenangan kita. Puisi menghubungkan kita dengan diri sendiri dan dengan sesama manusia lintas waktu dan jarak, membuktikan bahwa seberapa pun dunia berubah, kebutuhan untuk mengekspresikan pengalaman batin tetaplah penting. Dalam esai ini, saya akan menguraikan pentingnya puisi dalam menyentuh sisi terdalam kehidupan manusia, sebagaimana tercermin dalam tiga puisi karya Leni Marlina: “Tanah Leluhur Kita” (2013), “Waktu Menua di Tubuh Ibu” (2004), dan “Mencari Ibu” (2004).
Puisi pertama, “Tanah Leluhur Kita” (2013), dengan kuat mengingatkan kita bahwa ikatan manusia dengan alam bukan sekadar sejarah—melainkan identitas. Melalui gambaran-gambaran yang menghantui seperti “menggores takdir dengan tinta hujan” dan “sungai-sungai menutupi cermin yang dahulu memantulkan wajah kita,” Marlina menunjukkan bahwa alam pernah menjadi tempat tersimpannya kenangan, harapan, dan jati diri kita. Hari ini, ketika tanah terdiam di bawah beban kelalaian kita, yang hilang bukan hanya hutan dan sungai—melainkan bagian dari diri kita sendiri. Puisi ini mendesak kita untuk bangkit dan kembali terhubung dengan bumi sebelum keheningan itu menjadi abadi. Memulihkan hubungan kita dengan alam bukan sekadar menyelamatkan lingkungan; itu adalah upaya menyelamatkan diri kita sendiri. Kita harus mendengarkan gema dari tanah leluhur kita dan bertindak sebelum segalanya terlambat.
Puisi kedua, “Waktu Menua di Tubuh Ibu” (2004), dengan meyakinkan menegaskan bahwa meskipun waktu dapat membebani tubuh, ia tak dapat menyentuh jiwa. Puisi ini dengan lembut menggambarkan bagaimana usia meninggalkan jejak—mengukir kulit dan membebani punggung—namun Marlina menekankan bahwa di dalamnya, sang ibu tetap “tak tersentuh, lebih muda dari duka.” Melalui penggambaran ini, ia menyampaikan bahwa kecantikan dan vitalitas sejati tidak luntur oleh penuaan fisik. Dalam masyarakat yang sering terobsesi dengan kemudaan dan penampilan, puisi Marlina menjadi pengingat yang kuat bahwa kekuatan jiwa dan cinta bertahan jauh melampaui jangkauan waktu. Kita diajak untuk mengenali dan menghargai keindahan abadi yang hidup dalam diri orang-orang yang kita cintai, alih-alih tertipu oleh perubahan lahiriah akibat waktu.
Puisi terakhir, “Mencari Ibu” (2004), mengingatkan kita bahwa cinta dan kenangan dapat membimbing kita bahkan dalam masa tergelap. Melalui citra seorang ibu sebagai “lentera yang menuntunku pulang,” puisi ini menunjukkan bahwa bahkan ketika dunia terasa kosong dan suram, kenangan akan kasih sayang tetap menjadi cahaya yang menuntun jalan. Marlina meyakinkan kita untuk menggenggam erat orang-orang dan kenangan yang menjadi jangkar dalam hidup, karena merekalah yang memberi harapan dan arah ketika segalanya mulai memudar.
Sebagai penutup, puisi-puisi Leni Marlina mengungkapkan bahwa puisi adalah wujud dari kebenaran, emosi, dan pengalaman manusia yang universal. Karyanya menjadi bukti ketangguhan cinta, daya tahan, dan ikatan tak tergoyahkan yang kita bentuk dengan orang-orang terkasih, terutama ibu. Melalui bait-bait yang menggugah, Marlina mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali terhubung dengan esensi dari hal-hal yang paling bermakna di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Di dunia yang kerap dibayangi oleh distraksi, karyanya menjadi pengingat yang lembut namun kuat: kita semua terhubung, dan kisah serta hubungan kitalah yang sejatinya mendefinisikan siapa kita.
Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025
Referensi:
Marlina, Leni (2013). “Tanah Leluhur Kita.” Koleksi Puisi Terpilih di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 26 Maret 2025. [Diakses April 2025].
Tautan: https://suaraanaknegerinews.com/our-ancestral-land-poems-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/
Marlina, Leni (2004). “Waktu Menua di Tubuh Ibu.” Koleksi Puisi Terpilih di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 15 Februari 2025. [Diakses April 2025].
Tautan: https://suaraanaknegerinews.com/time-ages-upon-my-mothers-body-a-poetry-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-sumbar-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/
Marlina, Leni (2004). “Mencari Ibu.” Koleksi Puisi Terpilih di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 15 Februari 2025. [Diakses April 2025].
Tautan: https://suaraanaknegerinews.com/time-ages-upon-my-mothers-body-a-poetry-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen
—
Informasi Singkat Tentang Penulis:
Flarisa Desilia lahir di Lubuklinggau pada tahun 2006. Saat ini ia adalah mahasiswa di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Ia lulus dari SMAN 1 Lubuklinggau pada tahun 2024. Flarisa aktif dalam berbagai komunitas sastra, termasuk PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Littalk-C (Komunitas Diskusi Sastra), dan EL4C (Komunitas Pembelajaran Bahasa Inggris, Sastra, dan Literasi).
Video presentasi Flarisa dari acara Poetry-BLaD & IOSoP tanggal 31 Mei 2025 di Auditorium FBS UNP Padang, dapat diakses publik melalui tautan resmi berikut: