Jalan Rusak Memakan Korban, Kenapa Bisa Terjadi?
Tribun Lampung
Oleh: Heni Rohmawati, S.E.I.*
Suaraanakbangsanews.com – Kecelakaan berujung maut kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang wanita berinisial NF (25), warga perum BKP Kemiling Permai Bandar Lampung. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (16/1).
Menurut keterangan Kanit Gakkum Satlantas Polresta Bandar Lampung, Iptu Gunawan, kecelakaan itu terjadi berawal korban yang mengendarai motor melaju dari Way Halim menuju Rajabasa.
Saat mendekati pintu gerbang PKOR, korban melintasi jalan rusak, mengakibatkan kendaraan hilang kendali. Dari arah belakang sebuah truk melaju dan melindas kepala korban. Korban mengalami luka berat di bagian kepala dan meninggal di lokasi kejadian. (Kumparan.com, 16/1/2025)
Kasus kecelakaan memang kerap terjadi. Meskipun dinas PUPR bandar Lampung sedang menggencarkan perbaikan jalan dengan anggaran Rp85 miliar dan menyebutkan telah menyelesaikan 85% dari total 445 ruas jalan, namun jalan rusak tak ada habisnya menyebabkan kecelakaan berulang hingga nyawa melayang.
Jalan merupakan infrastruktur vital yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan jalan yang baik tentu akan membuat aktivitas rakyat menjadi lebih mudah, menghemat waktu, bahan bakar dan utamanya menjaga keselamatan rakyat sebagai pengguna jalan.
Sebaliknya jalan yang buruk semakin lama waktu tempuh dan berakibat pengguna jalan harus lebih berhati-hati. Hal ini akan membuat kesulitan tersendiri bagi pengendara karena harus berebut dengan pengendara lain. Inilah yang sering memicu terjadinya kecelakaan. Memilih jalan yang bagus di antara jalan berlubang.
Parahnya lagi di waktu hujan, jalan berlubang ini tertutupi air. Sehingga pengendara sering terjebak dan hilang kendali. Para pengendara juga lelah jika keadaan ini terus menerus dibiarkan tak diperbaiki.
Bukankah kondisi ini menjadi salah satu penyebab terhambatnya mobilisasi rakyat yang pada berikutnya memperlambat pertumbuhan ekonomi serta distribusi barang dan jasa. Bukankah ini bertentangan dengan semangat pemerintah yang ingin memajukan perekonomian rakyat?
Namun fakta di lapangan menunjukkan jika pembangunan infrastruktur saat ini terkesan setengah hati. Hal ini dilihat dari pengerjaan proyek infrastruktur jalan yang dilimpahkan kepada swasta dengan harga mahal, ternyata kualitas rendah.
Pembangunan jalan di Sukabumi kelurahan Batu Brak Lampung Barat misalnya, ternyata pengerjaannya tak sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Walhasil, jalan memang dibangun, namun kualitasnya masih jauh dari kata standar. Sehingga pengendara yang terpaksa melintas harus menghela nafas panjang saat melewati jalan rusak.
Keberadaan infrastruktur jalan raya menjadi penopang ekonomi rakyat dan mobilitasnya. Maka negara yang seyogianya pelayan rakyat harus membangun jalan dengan kualitas terbaik. Hal ini bertujuan agar rakyat aman dan nyaman saat melintasi jalan.
Pembangunan jalan memang membutuhkan biaya yang cukup besar.
Dalam Islam, pendanaan infrastruktur diambil dari baitul mal. Yaitu dari pos kepemilikan umum.
Pendapatan dari kepemilikan umum ini berasal dari pengelolaan sumber daya alam (SDA) seperti pengelolaan batu bara, minyak bumi, gas bumi, tembaga, emas, bauksit dan lain sebagainya. Semua ini memiliki hasil yang cukup besar dan berlimpah. Di Indonesia berbagai sumber kekayaan alam melimpah tak hanya dari sisi barang tambang saja.
Dari hutan, laut, dan sejenisnya tentu jika dikelola dengan syariah Islam akan menghasilan komoditas bernilai tinggi yang bisa digunakan untuk pembangunan berbagai infrastruktur yang dibutuhkan rakyat.
Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya manusia berserikat dalam tiga hal, Padang rumput, air dan api”. (HR. Imam Ahmad).
Api yang dimaksud di hadis tersebut adalah sumber energi dari alam dengan jumlah yang melimpah. Pemanfaatan SDA inilah yang menjadi titik fokus dalam pembangunan infrastruktur baik jalan, jembatan, Rumah sakit, sekolah dan infrastruktur lainnya.
Sumber pendapatan ini juga didukung oleh pendapatan dari kepemilikan negara. Sehingga negara Islam memiliki pendapatan yang berlapis dalam membiayai pembangunan dan memelihara urusan rakyatnya.
Berbagai penyediaan layanan terbaik bagi rakyatnya tak lepas dari mindset kepemimpinan. Islam mengajarkan pemimpin rakyat adalah pemelihara urusan mereka. Penguasa adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kehidupan rakyat. Termasuk jalan yang dibutuhkan.
Pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab ra. Ia sangat memperhatikan kondisi jalan. Umar khawatir jika jalan rusak mengakibatkan domba bisa terjatuh saat melewatinya dan Allah akan meminta pertanggungjawaban atas hal itu.
Penguasa akan memastikan keadaan jalan layak pakai. Maka dalam pembangunan mulai dari desain jalan, material yang dibutuhkan hingga proses akan dibangun dengan benar.
Demikianlah perhatian penguasa dalam sistem islam. Tak hanya peduli kepada manusia. Bahkan hewan pun tak luput dari perhatiannya. Sungguh menakjubkan pelayanan pemimpin dalam sistem Islam. Bukankah pemimpin dan sistem Islam yang kita rindukan? “Pemimpin adalah raa’in (pemelihara) dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. Wallahu a’lam bishowab. (Arsiya Oganara)
*Profil Penulis
Heni Rohmawati, S.E.I. – Seorang penulis yang tertarik di bidang ekonomi dan politik serta isu-isu kekinian yang membutuhkan penyelesaian dari sudut pandang Islam. Penulis telah memulai dunia penulisan sejak belasan tahun yang lalu.
Karyanya dapat ditemui di beberapa media online seperti FP Muslimah Cinta Islam Lampung, Narasipost.com, dan Media Kuntum Cahaya.