April 20, 2026
rizal2

Cerpen: Rizal Tanjung

Di negeri antah-berantah, di sebuah kafe tua yang beraroma kopi pahit dan tinta yang hampir kering, seorang pria renta duduk dengan mata menatap jauh ke dalam gelas kosongnya. Namanya Johann Wolfgang von Goethe, atau setidaknya itulah yang ia klaim. Barista muda yang bosan dengan hidupnya menatap pria itu dengan skeptis.

“Siapa sebenarnya Anda?” tanyanya dengan nada malas, lebih karena ingin mengusir kebosanan daripada benar-benar ingin tahu.

Goethe mengangkat kepalanya perlahan, menatap barista itu dengan sorot mata yang penuh rahasia. “Aku? Aku adalah seorang Faust yang telah menjual jiwaku untuk pengetahuan, namun dunia justru lebih tertarik pada bagaimana cara aku menjualnya, bukan pada apa yang kutemukan.”

Barista itu tertawa kecil. “Dunia memang lebih suka skandal daripada kebijaksanaan,” katanya sambil menuangkan kopi baru.

Seorang pria berjas lusuh yang duduk di sudut kafe, yang sejak tadi membaca koran tanpa benar-benar membaca, menoleh. “Kau berbicara seperti seorang nabi yang tidak pernah diimani, hanya dipuja dari jauh.”

Goethe tersenyum masam. “Seperti itulah nasib para pemikir. Seperti Faust, kita semua menjual jiwa kita. Ilmuwan menjualnya untuk data, politisi menjualnya untuk suara, dan seniman menjualnya untuk tepuk tangan. Tapi pada akhirnya, siapa yang benar-benar menang?”

Barista itu, yang ternyata lebih berpikir daripada yang ia tunjukkan, bersandar di meja. “Lalu, bagaimana dengan demokrasi? Bukankah ia menawarkan kebebasan untuk memilih?”

Goethe menyesap kopinya pelan. “Ah, demokrasi. Dulu aku mengira itu adalah panggung bagi kebijaksanaan, namun kini ia tak lebih dari teater tanpa naskah. Para aktor di dalamnya berimprovisasi, bukan demi seni, melainkan demi tepuk tangan massa yang tak peduli apakah mereka berbicara kebenaran atau hanya memainkan sandiwara yang lebih menarik dari kenyataan.”

Pria berjas lusuh itu terkekeh. “Dan rakyat? Bukankah mereka pemeran utama?”

Goethe menggeleng. “Tidak, mereka hanyalah penonton yang dipaksa memilih antara dua drama buruk yang sama-sama ditulis oleh tangan-tangan yang tak tampak. Mereka diberi kebebasan memilih, namun tidak diberi kebebasan memahami.”

Seorang perempuan tua dengan syal ungu masuk ke kafe, matanya berbinar ketika melihat Goethe. “Aku membaca puisimu tentang Muhammad,” katanya, suaranya serak namun penuh kekaguman. “Kau memahami Islam lebih dari banyak orang di zamanmu.”

Goethe tersenyum. “Aku membaca Al-Qur’an bukan untuk mencari Tuhan, tetapi untuk memahami manusia. Dan dalam setiap ayat, aku menemukan cerminan perjalanan manusia: ketakutan, harapan, pencarian, dan ketundukan. Jika ini adalah dosa, maka aku adalah pendosa terbesar.”

Barista itu tertawa pelan. “Kau terdengar seperti seseorang yang tak ingin dikenang sebagai patung di museum, tetapi sebagai suara yang terus berbicara dalam kepala orang-orang.”

Goethe mengangkat gelas kopinya, menatap refleksi dirinya di cairan hitam pekat itu. “Mungkin karena itulah aku datang ke sini. Untuk berbicara, bukan untuk dikenang. Karena kenangan adalah kuburan paling sunyi bagi pemikiran yang seharusnya tetap hidup.”

Pria berjas lusuh itu menyalakan rokoknya, menghembuskan asap ke udara dengan senyum sinis. “Jadi, apa solusi dari semua ini? Jika demokrasi hanyalah panggung sandiwara, jika rakyat hanyalah penonton, apa yang bisa kita lakukan?”

Goethe menatapnya dengan tajam. “Mungkin satu-satunya jalan adalah mengembalikan makna pendidikan. Bukan hanya sekolah-sekolah yang menghafalkan angka dan nama, tetapi pemikiran yang bebas, yang mengajarkan manusia untuk bertanya sebelum percaya, untuk memahami sebelum memilih.”

Barista itu mengangguk. “Jadi, revolusi harus dimulai dari kesadaran?”

Goethe tersenyum. “Bukan revolusi dengan senjata, tetapi revolusi pemikiran. Karena perubahan sejati bukanlah mengganti pemimpin yang berkuasa, tetapi mengubah cara berpikir mereka yang memilih.”

Dan di kafe tua itu, di sudut malam yang lengang, suara Goethe terus bergema, bukan dalam buku-buku yang tertutup debu, tetapi dalam bisikan yang memenuhi udara: suara seorang Faust yang terus bertanya, meskipun dunia sudah lama berhenti mendengarkan.

25 Februari 2025.