April 20, 2026

“Anak Bangsa di Era Digital”: Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni7

Ilustrasi "Anak Bangsa di Era Digital": Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-260 (Assisted by AI).

Editor: Leni Marlina

/1/

Anak Bangsa di Era Digital

Puisi oleh Leni Marlina

(PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

Ke mana hendak engkau langkahkan kaki, wahai anak negeri,
jika jalan setapak telah dilipat dalam peta digital?
Hutan telah ditulis ulang dalam kode,
dan sungai hanya gema di layar bening.
Angin tak lagi menyentuh kulitmu,
hanya berbisik lewat ventilasi mesin.

Di mana hendak kau letakkan resah,
jika malam tak lagi mengenal gelap?
Kota berpendar sepanjang waktu,
menolak tidur, menolak sunyi,
seakan takut mendengar suara hati
yang telah lama dikunci dalam folder terarsip.

Kau cari makna dalam gulir tak berujung,
menanyakan takdir kepada angka,
mencari jawaban dalam algoritma
yang tak pernah merasakan luka.
Apakah perjalananmu hanya serangkaian klik?
Apakah pencarianmu hanya riwayat yang bisa dihapus?

Dulu, pemuda meraba dunia dengan tangan,
menulis sajak di dinding gua,
mengukir nama di batang pohon,
menitipkan mimpi pada ombak dan cakrawala.
Kini, kau biarkan mesin mengingat untukmu,
dan kau percaya ia tak akan lupa.

Tapi lihatlah, wahai anak bangsa,
buku-buku tak lagi dibuka,
kata-kata telah dipendekkan,
puisi kehilangan napasnya,
dan senyumanmu tak lebih dari filter.

Lalu, di mana rumahmu sesungguhnya?
Jika semua kenangan bisa disimpan di awan,
apakah kau masih butuh jendela?
Jika perasaan bisa diterjemahkan dalam emoji,
apakah kau masih butuh suara?

Wahai anak bangsa,
sebelum dunia berubah menjadi angka sepenuhnya,
sebelum senja hanya dikenang dalam palet digital,
kembalilah.
Tulis namamu di tanah,
tinggalkan jejak di pasir,
biarkan angin membaca mimpimu
sebelum ia juga diubah menjadi sinyal.

Padang, Sumbar, 2022

/2/

PEMUDA DAN CITA-CITA

Oleh N’ceria Damanik

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI]

Mereka berduyun melintasi jalan,
berbatu, berdebu, terjal menanjak,
ada yang tertatih, ada yang gesit,
ada yang telanjang kaki, ada yang bersepatu besi,
namun semua menjejak takdirnya,
menjalankan fitrah dalam sunyi.

Di sisi tebing jalan yang curam,
jejak-jejak luka menganga diam,
banyak yang jatuh ke rongga jurang,
hilang suaranya, entah hidup, entah tenggelam,
menoreh kisah dalam bayang,
mengalir dalam sunyi malam.

Kala mendaki bukit terik,
mereka meredam nyeri dan pedih,
menepis ilalang, menggenggam bara,
keringat menitik, lapar menggigit,
tapi urat-urat mereka kian baja,
dan kaki tetap tak berbelok arah.

Di hutan cemara jalan bersimpang,
tak ada peta, tak ada tanda,
hanya angin berbisik di ranting gelisah,
mereka terpisah dalam gulita,
mengikuti suara hatinya masing-masing,
menuju takdir yang menanti di ufuk sana.

Di tepi danau senja yang kelam,
sekelompok berhasil keluar hutan,
namun di seberang kota impian,
hanya kesunyian tanpa perahu,
seperti berdiri di tanah tanpa tuan,
dengan bayang sendiri jadi teman.

Di bawah rembulan mereka bersumpah,
dengan peta usang di genggaman rapuh,
dengan cita-cita menghidupkan ruh,
berhasil atau jatuh tersungkur,
mereka tetap menulis sejarah,
dengan tinta luka yang bercahaya.

Mereka pemuda pewaris bumi,
murka pada penguasa yang membuli,
duduk melingkar, menggenggam nyeri,
menulis syair tentang negeri,
yang tak ingin mereka kuburkan,
yang tak akan mereka tinggalkan.

Maka jadilah mereka pemilik cerita,
diksinya tajam menembus dada,
suaranya lantang menggetarkan maya,
terus berjalan, terus menulis,
terus bersuara—menjadi nyala,
agar gelap tak selamanya bertahta.

Sumbar, 2025
—————————–

Enceria Damanik, (Nama Pena: N’ceria Damanik), panggilan Ence. Lahir di Simalungun, SUMUT, 23 Maret 1967. Setamat dari SMAN Sidamanik – Simalungun, kuliah di IKIP Negeri Padang Jurusan Bahasa Inggris. Mengajar sejak 1990 di SMP N 1 Bonjol; Menjadi pengawas sekolah 8 tahun di Kap Pasaman. Sejak tahun 2008, menduduki berbagai jabatan struktural di Pemda Kab Pasaman dan Prop. Sumatera Barat. Aktif mengajar di perguruan tinggi seperti STAI Lubuksikaping, Universitas Terbuka Padang, dan Universitas Andalas. Terakhir Ence menjadi Dosen tetap di Jurusan Administrasi Pendidikan, FIP Universitas Negeri Padang.

/3/

Di Bawah Langit yang Telah Dijual

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Di bawah langit yang telah dijual,
anak-anak tumbuh dari kilatan layar,
dibelai ibu-ibu listrik,
disusui angka, ditimang algoritma.

Mereka tak lagi bermain di tanah,
tak ada rumput yang mencatat3 jejak.
Jari mereka meraba dunia
lewat kaca tipis yang tak bisa pecah,
tak bisa berdebu, tak bisa memeluk.

Mereka tak tahu bau hujan,
tapi hafal warna biru piksel,
tahu cara membangun kota dari kode,
tapi tak bisa mengeja namanya sendiri
tanpa bantuan mesin tua di kantong mereka.
3
Di meja makan, ibu menyajikan doa,
tapi doa telah dikemas dalam notifikasi.
Ayah berdeham seperti mesin tua,
matanya memeriksa waktu
di pergelangan tangan yang semakin ringan.

Di jalanan, lampu-lampu berkedip
seperti mata yang tak mau tidur.
Anak-anak neon berjalan tanpa bayangan,
mereka tak lagi butuh malam.
Cahaya tak pernah padam,
hanya berubah bentuk,
menjadi suara, menjadi perintah,
menjadi dunia yang tak pernah diam.

Lalu, siapakah yang akan menggambar pagi,
jika semua warna telah dikalkulasi?
Siapakah yang akan mengingat ibu,
jika ingatan sudah diunggah ke awan?

Anak-anak neon tak menjawab.
Mereka hanya menatap ke depan,
ke layar berikutnya.

Padang, Sumbar, 2022

/4/

Curahan Hati Ibu Pertiwi

Puisi oleh Nuris Fatmawati

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jateng, Kreator Era AI]

Nak ….
Berdiamlah sejenak di sini. Bersama ibumu
Ceritakan kisah-kisah di tanah kita selama ini
Kumohon!

Nak …
Temani ibumu ini. Karena air mata pun sudah setia
membersamaiku
tatkala ku tanpamu

Nak …
Ceritakan tanah-tanah kita
sawah ladang lautan gunung danau dan semuanya
padaku. Kurasakan ada sesuatu di sana

Nak …
Kudengar laut-laut dipagari
Saudara-saudaramu di pesisir menjerit
tanah mereka laut mereka terampas oleh durjana

Nak …
Untuk apa semua, jika tak dimiliki oleh kita?
Hanya sekadar cara berkuasa
tak lazim bagi kita.

Nak …
Ceritakan semua. Tangisku sudah bertahun-tahun tertumpah
melihat semua di sana penuh gegabah. Memakan semua tanpa pilah-pilah. Padahal, Nak … Itu amanah

Ke mana negeri kita yang gemah ripah
Kata mereka negeri bak surga terindah
Sudahlah, Nak. Aku jengah
Aku tak ingin bermadah

Air mataku tiada guna, bagi tangan-tangan angkara
Kau dan saudara-saudaramu perjuangkan
Di tanah kalian
Bukan tanah perdikan

Temanggung, Jawa Tengah
23 Februari 2025

/5/

Ibu, Jangan Biarkan Aku Tenggelam di Era Digital

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Ibu, aku berdiri di tepi cahaya,
tempat algoritma menggulung waktu,
tempat jarak menguap dalam detak jaringan
namun kasih menjauh seperti bayangan pagi.

Aku ini anakmu,
lahir di dunia yang tak lagi berdebu,
di mana jari menggantikan langkah,
di mana suara lebih sering terekam
daripada didengar dengan hati.

Kau dulu mengajariku membaca bumi,
menerka arah dari gemuruh sungai,
menyentuh angin untuk memahami musim.
Kini aku hanya tahu peta tanpa jalan,
ramalan tanpa mendongak langit,
kisah tanpa tubuh untuk mendekapnya.

Ibu, di mana kau saat aku tenggelam
di lautan data tanpa tepi?
Di mana kau saat aku hanyut
dalam pusaran layar yang tak pernah benar-benar redup?
Aku menuliskan rinduku dalam bahasa asing,
huruf-huruf yang tak kau mengerti,
di dunia yang begitu dekat, namun begitu dingin.

Bimbing aku kembali kepada cahaya yang sejati,
di mana wajahmu tak perlu resolusi tinggi,
di mana namamu tak sekadar kontak tersimpan,
di mana cintamu tak perlu jaringan untuk sampai.

Aku ingin pulang, Ibu,
sebelum aku sepenuhnya menjadi ilusi,
sebelum aku kehilangan diriku sendiri.

Padang, Sumbar, 2022

/6/

Ibu Gembira, Ibu Khawatir

Puisi oleh Minda Sari

[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Poetry Pen IC, Satu Pena, FSM]

Waktu berputar bagai arus sungai,
Mengalir deras tanpa henti pantai.
Zaman berubah, dunia terurai,
Dari sulit menjadi mudah tercapai.

Ibu tersenyum, hatinya lega,
Teknologi hadir bantu segala.
Dapur menyala, cucian ceria,
Go food tiba saat waktu tiada.

Namun di era serba digital,
Ada kekhawatiran yang kian vital.
Anak-anak kini ponsel kenal,
Belajar daring, tapi batas tak kental.

Mbah Google hadir guru utama,
Anak tahu sebelum gurunya bicara.
Main di lapang tak lagi utama,
Ponsel teman di kala senja.

Covid datang, pembelajaran berubah,
Ponsel wajib, belajar tak parah.
Namun layar kecil, dunia terbuka,
Anak menjelajah tanpa kendali nyata.

Ibu khawatir, hati tak tenang,
Adegan buruk mudah disandang.
Game dan hiburan, waktu terbuang,
Bahaya mengintai di setiap ruang.

Tawuran, kekerasan, jejak tercipta,
Adegan kelam menyita cinta.
Anak terjebak dalam dunia fana,
Masa depan redup, ibu gelisah nyata.

Oh, mari kaji bersama solusi,
Agar generasi kembali berdiri.
Didiklah anak dengan hati suci,
Jembatani zaman dengan cinta sejati.

Padang, Sumbar, 2025

—————————-
Minda Sari merupakan seorang pensiunan guru Seni Rupa sejak tahun 2012. Pernah mengajar di SMP Maria Padang tahun 1977-1978, di SMSR N Padang (SMKN 4 Padang) th 1978- 1994 dan terakhir di SMK N 8 Padang th 1994-2012.
Mulai menulis puisi tahun 1973, tapi belum dipublikasikan. Pameran Lukisan sejak tahun 1973-2024 di berbagai kota di Sumbar, Jakarta, Yogyakarta dan Denpasar, Bali.
Bergabung dengan Komunitas Satu Pena Sumbar tahun 2022 , dan telah mengikuti IMLF 2023 dan IMLF 2024.

/7/

Anak Muda Jika Sampai Pada Waktunya

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Anak muda,
Jika sampai pada waktunya,
Kau akan berada di zaman yang tak mengenal luka,
puisi telah kehilangan darahnya.
Jalan-jalan beraspal sunyi,
tak ada jejak, tak ada debu,
hanya bayang-bayang yang memanjang,
tanpa tubuh, tanpa jiwa.

Kau akan bertanya: ” mengapa waktu terasa pincang?
Mengapa kenangan dipadatkan dalam arsip,
dilipat rapi seperti surat yang tak pernah dibaca?
Adakah rumah bagi ingatan
jika setiap pintu terbuat dari kata sandi?

Lihatlah, wahai anak muda,
dunia telah dibangun dari nol dan satu,
langit adalah layar,
matahari hanya lampu panggung,d
bulan tergantung sebagai notifikasi,
dan bintang-bintang tak lebih dari piksel yang redup.

Apa arti kepergian
jika peta selalu menampilkan jalan pulang?
Apa arti kesedihan
jika algoritma bisa menghapus duka?
Apa arti cinta
jika perasaan telah diringkas dalam kode?

Dulu, manusia mengukir namanya di batu,
agar tetap ada setelah tiada.
Kini, mereka menyimpan dirinya di awan,
berharap ingatan mereka tak pernah jatuh.

Tapi wahai anak muda,
jika dunia tak lagi memiliki kehilangan,
bagaimana kau akan mengerti arti memiliki?
Jika air mata hanya efek digital,
bagaimana kau akan tahu makna bahagia?

Dan jika akhirnya sejarah hanya menjadi
serangkaian pembaruan perangkat lunak,
siapa yang akan menulis ulang dunia
dengan tangan yang masih bisa gemetar?

Padang, Sumbar, 2022

/8/

Jerit Hati Ibu Pertiwi

Puisi oleh Lily Yovita

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]

Tertunduk malu ibu pertiwi
Pada tanah berbunga kamboja
Subur disiram darah para pahlawan
yang tumpah demi kemerdekaan,
Kini
Ternoda oleh darah muda merasa pahlawan

Bising bergema di jalanan kota
Syair kemerdekaan jadi pertikaian tanpa makna,
Anak bangsa berseragam putih
Tak lagi torehkan mimpi di atas kertas
Tapi menghunus celurit bak pahlawan
Berjalan garang menantang
Hamburkan amarah dengan parang
Saling mencabik siapa yang datang
Jalanan jadi medan perang
Arti kemerdakaan jadi hilang

Merintih perih Ibu Pertiwi
Hati tersayat oleh luka di torehkan si pewaris negeri
Mereka yang dijaga oleh darah para pahlawan,
Kini hembuskan kebencian pada angin kedamaian

Ratap ibu pertiwi semakin pedih
Prestasi anak negeri tak lagi punya arti
Tertutup luka mereka yang tak punya hati
Di antara megahnya istana ilmu
Benteng kebodohan dibangun semakin tinggi

Wahai anak negeri
Masih adakah setetes cinta buat ibu pertiwi?

Padang, 21 Desember 2024

————————

Lily Yovita, M.Pd. lahir di Bukittinggi pada 8 September 1976, anak kedua dari empat bersaudara, putri pasangan M. Yazif Djalil (Alm) dan Aswita.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri 12 Bukittinggi, SMP Negeri 7 Bukittinggi, dan SMA Negeri 1 Bukittinggi. Ia kemudian meraih S-1 Kependidikan Matematika di Universitas Negeri Padang (2000) dan melanjutkan S-2 Teknologi Pendidikan pada 2010 dengan beasiswa.

Sejak 2003, ia mengabdi di SMP Negeri 32 Padang, menjadi PNS pada 2006, dan menjabat sebagai wakil kurikulum (2015-2023). Ia terpilih sebagai Guru Penggerak (2020) dan Pengajar Praktik Guru Penggerak (2023). Puncaknya, pada 29 Desember 2023, ia dilantik sebagai Pengawas SMP Kota Padang.

Selain mengajar, ia aktif menulis dan telah berkontribusi dalam tujuh antologi serta menerbitkan buku solo “Awal yang Mengakhiri.”

/9/

Serpih-Serpih Kenangan

Puisi oleh Nuris Fatmawati

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jateng, Kreator Era AI]

Kukumpulkan keping-keping hatiku yang
berserakan terbawa deru zaman.
Mengurai tabir pemisah antara kita.
Dihantam ombak-ombak
Berkelindan seumpama senandung rindu.

Kutorehkan aksara demi aksara di atas lontar usang ini,
harta terunik berharga yang hanya kaumiliki.
Kau inginkannya menjadi prasasti-prasasti pengingat diri,
Saat keping-keping hati tercabik begitu banyak rasa.

Kautuliskan bahagiamu,
Di antara keping-keping dukamu.
Kau bahagia dengan caramu tiada yang tahu,
Bagaimana kaulaluinya.

Serpih-serpih kenangan masih membayang,
kala hati inginkan bahagia datang.
Kitalah pejuang bahagia,
Tanpa perlu abaikan rasa.

Serpih-serpih kenangan, berkawan keping-keping hatiku.
Kutulis jadi syair-syair merindu,
Bahagia kan kujelang selalu,
Kuyakin dengan adamu dan ada-Mu.

Temanggung, Jawa Tengah
23 Februari 2025

—————————–

Nuris Fatmawati kelahiran Temanggung- Jawa Tengah, 20 Oktober 1982. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami bahasa daerah (Jawa), hobi menulis dengan huruf-huruf Carakan (Jawa). Memiliki 20an karya solo berbagai genre dan 60-an karya antologi berbagai genre. Lulusan SMK YPM 5 Panjunan-Sukodono, Sidoarjo – Jawa Timur tahun 2000. Anggota Satu Pena Jawa Tengah. Memiliki beberapa nama pena dikarenakan mengembangkan hobi menulisnya di platform online.

/10/

Pemuda dan Ingatan Bumi

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Pemuda itu berdiri di antara batu-batu yang tak lagi menghafal nama sungai.
Dulu, air mengalir di urat-urat bumi,
tetapi kini ia mengalir di pipa-pipa besi,
dicetak ulang dalam deret angka,
dihafal oleh layar tanpa ingatan.

Angin mengirim pesan rahasia,
tetapi telinga manusia telah dibungkam bising logam.
Gunung-gunung menghembuskan napas terakhirnya,
melihat para pewarisnya duduk dalam barisan,
menghafal istilah-istilah
yang tak memiliki akar.

Di manakah hutan yang pernah tumbuh dalam dada?
Di manakah nyala mata yang tak sekadar membaca masa lalu
seperti katalog museum tanpa suara?

Sungai menyentuh kaki pemuda itu,
dingin dan setia,
seperti rahasia yang tak ingin mati.
Ia menggenggam segenggam tanah
yang tak lagi sehitam dulu,
dan untuk pertama kalinya, ia paham:

Bahwa ingatan bumi adalah luka yang diwariskan,
bahwa kata-kata harus kembali berakar,w
bahwa sejarah harus lebih dari sekadar sidik jari di layar,
dan bahwa masih ada waktu
bagi yang berani melawan lupa.

Padang, Sumbar, 2022

—————————————–

Leni Marlina aktif terlibat dalam dunia kepenulisan dan sastra, khususnya sebagai anggota Komunitas Penulis Indonesia (SATU PENA, cabang Sumatera Barat) sejak didirikan pada tahun 2022, serta sebagai bagian dari Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Ia juga merupakan anggota Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional (ACC) di Shanghai, dan pada tahun 2024, ia dianugerahi peran sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Perjalanannya di dunia sastra mencakup keterlibatan sebelumnya dengan Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia dengan penuh dedikasi mengajar sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Di luar bidang akademik dan sastra, Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada bahasa sastra, literasi pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Komunitas-komunitas tersebut meliputi:

✨ 1. World Children’s Literature Community (WCLC) – https://shorturl.at/acFv1
✨ 2. Poetry-Pen International Community – Wadah bagi ekspresi puisi global
✨ 3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) – Indonesia: The Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations. https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
✨ 4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – https://rb.gy/5c1b02
✨ 5. Linguistic Talk Community – Ruang diskusi tentang bahasa
✨ 6. Literature Talk Community – Wadah bagi para pecinta sastra
✨ 7. Translation Practice Community – Menjembatani bahasa melalui penerjemahan
✨ 8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – Mendukung perkembangan bahasa dan literasi.