May 14, 2026

Kadang, Iman Justru Paling Bersinar Ketika Tidak Sedang Bicara Tentang Tuhan, Melainkan Tentang Kasih

Oleh Paulus Laratmase

Ada saat-saat ketika iman tak perlu berkhotbah. Ia tidak menuntut ruang di mimbar, tidak menyalakan perdebatan tentang ayat, dan tidak memamerkan simbol-simbol kesalehan. Ia hadir diam-diam, dalam kelembutan seseorang yang menolong tanpa ditanya, dalam kesabaran yang menahan diri untuk tidak membalas, dalam doa yang tidak diucapkan dengan bibir tetapi disampaikan melalui perbuatan. Di titik itu, iman berhenti menjadi wacana dan mulai menjadi napas kehidupan, tak terdengar, tapi menghidupi.

Kurator “The Lula Jaya” di Mesjid Agung Padang, Sumatera Barat

Kita sering berpikir iman diukur dari seberapa sering kita menyebut nama Tuhan, atau seberapa fasih kita mengutip kitab suci. Padahal, Tuhan sendiri seringkali bersembunyi di balik tindakan kecil yang tulus. Iman sejati tidak sibuk mendefinisikan Tuhan, melainkan memantulkan-Nya dalam kasih. Ia tidak mencari pengakuan, tapi menghadirkan keteduhan bagi sesama. Seperti cahaya lilin di ruangan gelap, ia tidak berteriak bahwa dirinya terang, tapi cukup menjadi terang.

Kasih adalah bahasa universal yang melampaui sekat agama. Ia adalah tafsir paling jujur dari iman. Dalam kasih, kita mengenal Tuhan tanpa perlu menyebut nama-Nya. Dalam kasih, kita menemukan kemuliaan iman yang tak dibungkus ritual, tetapi diwujudkan dalam kemanusiaan. Iman yang tidak menebar kasih hanyalah keyakinan yang belum matang; ia masih berputar pada diri sendiri, belum menjelma menjadi wajah Tuhan bagi dunia.

Dan mungkin, justru di sanalah iman paling bersinar, ketika ia tak lagi bicara tentang surga atau pahala, tapi tentang memberi ruang bagi orang lain untuk hidup dengan damai. Ketika iman membuat seseorang memilih memaafkan, merangkul yang berbeda, dan mencintai tanpa pamrih. Sebab iman yang sejati bukanlah suara keras yang mengajarkan Tuhan, melainkan keheningan yang membuat orang lain merasakan-Nya.