April 16, 2026

Puisi Esai oleh Ririe Aiko

(Terinspirasi dari seorang Lansia yang berjualan gulali di pelataran sekolah dasar di Bandung) (1)

—000—

Setiap pagi, kakek itu datang sebelum bel sekolah berdentang, duduk bersila di pelataran aspal. Kadang hujan membuat tubuhnya beku, Kadang panas membuat kakinya melepuh. Ia memanggul sebuah kotak lusuh, berisi gulali yang dibentuk menjadi kelinci, bunga, dan hati. Warnanya cerah—merah jambu, biru langit dan kuning mentari, seolah ingin mengundang bahagia lewat batang permen manis. Harganya hanya dua ribu rupiah, tapi untuk dua ribu itu, ia harus menunggu seharian, dengan sabar, dengan perut yang harus menahan lapar.

Anak-anak lewat dengan seragam bersih dan tawa lepas, beberapa melirik, sebagian hanya lewat tanpa suara. Tak semua punya uang saku, dan yang punya lebih memilih jajan di toko berlampu terang. Gulali kakek itu tampak kalah bersaing dengan coklat kemasan dan mainan plastik. Namun ia tetap duduk, menggeser posisi saat lututnya mulai nyeri, menyeka peluh yang turun dari dahi, berharap ada satu tangan kecil yang menyodorkan selembar dua ribu dan membawa pulang menyambung sepotong kecil sisa hidupnya.

Ia berusia 72 tahun. Tangan kirinya mulai lemah, tangan kanan gemetar jika harus menggulung gulali terlalu cepat. Namun ia tak punya waktu untuk lelah, karena peluh tak bisa membeli sebungkus lapar.

Ia tak punya pensiun, tak punya kartu jaminan kesehatan, tak punya anak yang menanyakan kabar. Hidup baginya hanyalah pertemuan dengan wajah-wajah asing yang berlalu tanpa sempat peduli.

Di malam hari, ia pulang ke kamar sepetak dengan atap bocor dan tikus di sudut meja. Ia tidur berselimutkan sarung tipis, menggigil menahan sisa hujan yang menjelma dingin. Di bawah cahaya lampu minyak, ia menatap uang receh hasil hari itu— delapan lembar dua ribu, cukup untuk sebungkus nasi, yang harus ia bagi untuk dua hari.

—000—

Di kota yang kaya akan sumber daya, nyatanya kemiskinan jauh lebih berkuasa. Lansia masih berjalan tertatih demi dua ribu rupiah, anak-anak berseragam lusuh mengemis di bawah lampu merah. Sementara para elite sibuk membahas ekonomi yang katanya maju, Namun nyatanya, yang kaya makin kaya yang miskin makin fakir.

Kaum papa tetap bergelut lagi dan lagi, dengan perut kosong dan harapan yang palsu. Dua ribu rupiah— Hanya uang receh yang tercecer di bawah jok mobil. Bagi kakek itu, dua ribu adalah harapan, adalah hidup, adalah wujud terakhir martabat yang tersisa, di tengah dunia yang memilih berpaling dari mereka yang terasing.

CATATAN:

(1)Data mengenai kondisi lansia pekerja informal di Indonesia merujuk pada laporan BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2023 yang mencatat bahwa lebih dari 50% lansia di Indonesia masih bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, sebagian besar di sektor informal tanpa jaminan sosial.